Hemm…
Sembari menanti motor saya yang diservis, ayo kita bahas tentang sesuatu yang menggalaukan hati saya akhir-akhir ini. Apa itu?

Tulisan-tulisan saya tentang belajar di FK laris manis dikunjungi. Senang? Tentu saja. Tapi yang membuat saya galau adalah ternyata banyak komentar tentang betapa galaunya para pembaca. Bahwa mereka ingin masuk FK, ingin menjadi dokter, tetapi lemah di biologi, ada yang lemah di hitung-hitungan, ada yang lemah di kimia dan fisika. Ada juga yang mengatakan ingin masuk FK tapi tidak ada biaya.

Aduh saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Jujur, saya juga mengalami hal yang sama. Saya dulu masuk FK dengan harapan tidak bertemu dengan fisika. Karena saya, demi matahari pagi ini, sangat, amat, tidak paham dengan ilmu yang satu itu. Masa SMA saya lalui dengan bersusah payah untuk dapat nilai fisika yang ‘cukup’ untuk lulus. Dan memang nilai fisika saya di ujian sekolah paling rendah. Hanya dapat 6 (batas lulus 4,5).

Ngapain cerita aib sendiri, Dok?

Hehe… ini bukan aib. Saya bangga dengan segala proses yang saya jalani. Dan tentu saja agar para pembaca paham betapa mata saya menatap nanar saat mengisi kartu rencana studi untuk semester satu. Fisika Kedokteran. Dua semester. Aawww…

Jujur, saya tidak memahami materi dan retensi saya terhadap materi fisika kedokteran ini sangat jelek. Meskipun ternyata di akhir masa pendidikan saya akhirnya mengerti kenapa fisika kedokteran ternyata sangat penting.

Saya tidak suka fisika. Saya lemah di fisika. Pun saya lemah di kemampuan menghapal.

Lantas apakah saya tidak ingin menjadi dokter?

Continue reading

Advertisements