Tag Archive: prosa


(Cinta) Realitas VS Impian

Cinta adalah satu kata paling absurd di dunia. Nyaris tanpa definisi. Meski para pujangga tak pernah berhenti berusaha memaknainya.

Bagi saya, cinta adalah kontrak hubungan satu arah. Tidak berlaku hubungan timbal balik. Pun membutuhkan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Karena itu, cinta di dunia ini hanya ada dua bentuk utama.

Pertama. Cinta kepada Tuhan, maupun esensi pencipta yang dipercayainya. Lihat saja betapa kita memohon, menumpahkan curahan hati, kadang berkeluh kesah dalam sisipan doa kita. Cinta yang tanpa syarat dan tak meminta balasan.

Kedua. Cinta berdasarkan darah. Cinta kepada orang tua dan anak. Lihat saja, tanpa menuntut apapun, kita telah jatuh cinta pada anak kita bahkan di detik pertamanya menghirup udara. Lagi-lagi cinta tanpa syarat. Tak menuntut kembali cinta.

Lantas bagaimana bentuk cinta yang lain?

Entahlah. Kadang, cinta yang lain itu tidak pernah berhenti dihiasi keinginan, tuntutan, dan nuansa manusiawi lainnya.

Kadang, itu membuatnya begitu berwarna dan tampak berharga.

Kadang, itu membuat perih dan kepahitan sempurna. Ketika impian tak menemui realitas. Atau realitas yang menghantam. Telak.

Maka, cinta itu seharusnya tak bersyarat.

Tapi, kita akan selalu mementingkan cinta. Begitulah manusia. Begitulah juga saya.

Dicky, 2014

Advertisements
Cinta Si Mbok

Cinta Si Mbok

“Mbok… Mbok ndak perlu dagang lagi. Agus sudah bisa membiayai hidup Mbok sekarang…”

Si Mbok berhenti berkemas. Beliau menoleh padaku sekarang. Ah, senyum teduh itu lagi. Aku tahu ini saatnya berhenti memohon. Senyum Si Mbok, ibuku, punya kekuatan. Senyum ini yang telah menemani 25 tahun hidupku hingga kini. Si Mbok tidak pernah marah, namun senyum Si Mbok pernah menghantam lemas seluruh sendi tubuhku saat beliau menerima surat panggilan dari sekolah, karena aku tawuran. Si Mbok jarang menegur, tapi senyum Si Mbok yang menyentak maluku saat beliau memergokiku dan teman-teman nonton film porno di rumah.

Senyum Si Mbok selalu tanpa kata, tapi penuh makna. Senyum yang sama menjadi peganganku saat semangat hidupku hancur berkeping-keping karena tidak lulus Ujian Nasional SMA. Senyum yang selalu mengangkatku berdiri dari jatuh. Senyum yang menyesap sejuk saat aku menangis patah hati. Senyum beliau yang menyulut jingkrak banggaku saat aku diterima bekerja, meski hanya sebagai sopir taksi. Senyum yang selalu mampu menegakkan kepalaku percaya diri saat aku ingin tunduk rendah diri.

Si Mbok selalu punya cara berkomunikasi denganku, meski tanpa aksara. Si Mbok percaya aku mampu memahami tiap guratan senyum beliau. Si Mbok punya senyum orisinal. Senyum Si Mbok memiliki jutaan makna, kristalisasi manis getir hidup Si Mbok. Aku menahbiskan senyum Si Mbok sebagai senyum teduh nomor satu di dunia.

Aku enggan berpaling. Kunikmati senyum Si Mbok sepenuhnya. Menarik nyaris semua otot wajah yang kendor termakan usia, menegaskan guratan keriput yang selalu aku banggakan.

Si Mbok meneruskan berkemas, lalu bangkit dengan sedikit susah payah. Aku bantu Si Mbok memanggul dagangan mainannya. Setelah aku salim takzim, Si Mbok berjinjit mencium pipi kanan dan kiriku, diakhiri sebuah bisikan … yang lalu diakhiri sebuah pamit.

“Mbok berangkat dulu, Le… Assalamu’alaikum…”

***

Sore ini, aku duduk di latar Museum Kereta Keraton, Jogjakarta. Menanti segelas es cendol, kutatap wajah ramah yang menyapa setiap pengunjung yang lewat. Wajah teduhnya bahagia, senyumnya merekah, apalagi kalau ada anak kecil yang tertawa riang setelah membeli mainannya. Aku mengerti, Mbok. Aku sekarang mengerti.

Kubawa segelas es cendol untuknya, sambil melangkah terngiang bisikan Si Mbok…

“… Mbok seneng lihat anak-anak bisa ketawa pas main mainan dari Si Mbok. Si Mbok cinta, Le, sama pekerjaan ini …”

Aku menemukan senyum paling indah nomor dua. Tetap senyum Si Mbok. Tapi kali ini karena beliau mampu berbagi bahagia dengan orang lain. Senyum nomor satu, (harus) tetap milikku…

Didedikasikan untuk jutaan senyum ibu… Betapa kita merindukannya…

by: Dicky_dev
@Surabaya, 130913
#PeopleAroundUs day 3 

Canon EOS 550DCanon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS

1/100 f/5.6 at 75mm

repost dari Penjual Mainan

In character, in manner, in style, in all things, the supreme exellence is simplicity. –Dalam karakter, sikap, gaya, dalam segala hal, kesederhanaan adalah hal yang terindah.” ~Henry Wadsworth Longfellow~

Di saat kita kini resah dengan kenaikan harga BBM, saya membaca begitu banyak hal terjadi hampir bersamaan, simultan, dan hebatnya bersatu secara nasional, gerakan menentang kebijakan pemerintah terkait dengan isu ini. Saya tercenung.

Satu, kita jarang sekali bersatu secara nasional. Dalam banyak hal, terutama setelah otonomi daerah menggaung, kita sibuk mengurusi diri sendiri. Kini, sungguh mencengangkan bahwa semua berteriak bersama, demi sampainya suara rakyat. Bahkan ada wakil wali kota beberapa daerah yang ikut turun ke jalan, menentang institusinya (dalam kasus ini, pemerintah) dan berkoar tidak takut dipecat. Maka rasanya cukup dramatis dan sangat menggugah semangat kebangsaan. Dengan satu syarat: mereka murni bersuara dengan hati.

Dua, kita kini bagai banteng ketaton. Trengginas. Berbahaya. Lincah. Namun kurang perhitungan. Berpuluh-puluh tahun dikekang, terpenjara, maka sejak reformasi segala rantai pengikat diloloskan. Lakban yang membungkam dilepaskan. Dan kita beraksi bak artis tua yang terlambat diorbitkan namun tetap sok bergaya muda. Berlebihan namun hambar. Lihat aksi rakyat kita. Atau segelintir yang mengatasnamakan rakyat. Mereka membakar ban, menyekap mobil plat merah, membiokot bandara dan rumah sakit. Lihat. Berapa pasien yang seharusnya langsung dapat ditangani terkatung-katung karena tidak bisa masuk rumah sakit. Bagaikan reseptor yang lama tidak mendapat paparan, sekali dipapar maka ia akan over-reactive.

Dua hal di atas adalah dua kutub positif dan negatif. Namun terjadi bersamaan. Maka setiap insan berlomba memberi penilaian. Bahwa demo itu sudah sarat dengan kekerasan (dan dijawab: bila tidak anarkis, tidak didengar). Demo itu adalah aktualisasi mahasiswa sebagai agent of change (lantas ditentang: perubahan tidak perlu dimulai dengan demo. Perbaiki kualitas sebagai mahasiswa baru berpikir mengubah dunia). Demo itu untuk mewakili suara rakyat dan keberpihakan terhadap rakyat (dibantah: mewakili suara rakyat tapi mengganggu hak rakyat untuk mendapat pengobatan di Rumah Sakit atau pelayanan di bandara).

Di tengah hiruk pikuk masyarakat (via twitter jauh lebih heboh), saya menangkap sebuah kenangan. Dimana masyarakat Indonesia dulu mampu hidup bahagia. Hidup sederhana.

Naiknya harga BBM, pantas kita pikirkan dan kita antisipasi. Dan sejujurnya, saya bahagia ketika menangkap beberapa sosok elit Indonesia ternyata mampu menangkap momen ini dengan sangat antisipatif. Tidak teriak menghujat, tidak pula membeberkan deretan fakta demi mendukung atau menolak. Dengan kapasitas masing-masing, tokoh ini menyiapkan diri dan Indonesia dalam menghadapi naiknya harga BBM.

Dan salah satu langkah antisipatif secara pribadi yang dapat kita lakukan adalah hidup sederhana. Hidup sederhana setelah diingat-ingat ternyata sangat menyenangkan. Terlebih dalam kehidupan modern. Kita tanpa sadar dijajah dengan berbagai kemudahan. Namun dengan kembali hidup sederhana akan sangat membantu kita menghadapi gejolak seperti saat ini.

Sir Chinmoy mengatakan, “Simplicity is our natural or conscious awareness of reality. – Kesederhanaan adalah kesadaran alamiah akan kenyataan diri kita sendiri.”

Kesadaran tersebut akan mengaktifkan alam bawah sadar kita untuk fokus pada diri sendiri. Aktivasi ini bernilai super, karena setiap sel tubuh kita akan mengevaluasi diri secara otomatis, melakukan SWOT (strength, weakness, opportunity, threat). Hasilnya adalah mekanisme kebangkitan personal, memacu daya upaya mencapai potensi maksimal diri kita.

Hidup sederhana bukanlah hidup miskin. Atau hidup kikir. Hidup sederhana adalah way of life. Terkait tentang bagaimana kita menyikapi banyak hal di sekitar kita. Hidup sederhana akan memicu potensi-potensi kreatif kita. Telah banyak contohnya mereka yang telah mampu mengubah mesin mobil bertenaga bensin menjadi tenaga energi alternatif. Semua berawal dari beratnya memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak. Namun kelompok orang ini tidak lantas menyerah atau berakhir dengan demo. Mereka merangsang kreatifitas dan hasilnya luar biasa. Mereka mampu berkarya.

Kreatifitas inilah yang harus terus dipacu. Dalam kecemerlangan olah pikir kaum muda (mulai dari murid SMP sampai mahasiswa), maka harus terbit ide, akal, trik segar yang menggoyang jagad Indonesia. Negara kita negara kaya. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman,- kata Panbers. Dulu terpaksa menjual apa yang ada untuk bertahan. Emas, minyak, pulau. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Yang jelas, saat ini terbentang masa depan di tangan kita. Apa yang akan Indonesia hadapi bila kini kaum muda nya sibuk membakar mobil, ban, menutup Rumah Sakit bahkan bandara?

Hidup sederhana dan kreatifitas. Dua hal yang kita bayangkan sulit bertemu di satu titik. Tapi kini adalah momentum. Ancaman kenaikan harga BBM ini adalah trigger bagi kita kaum muda untuk bersiap. Lepas landas. Dengan mengerahkan kreatifitas kita. Diawali hidup sederhana.

Maka, bukankah begitu seharusnya, wahai para pemuda?

%d bloggers like this: