Tag Archive: ppds


Ekspresi dr. Onny Pieters Sono SpAnd

Ekspresi dr. Onny Pieters Sono SpAnd

Continue reading

Advertisements
Keluarga Besar SMF Andrologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Keluarga Besar SMF Andrologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Continue reading

image

Determinasi

Sudah lama tidak menulis. Mau menulis apa ya sembari menanti mobil yang sedang dicuci. Ah bagaimana kalau kita bicara tentang salah satu ability yang berharga dalam menjalani hidup. Cieeee… Dokter gaya thok.

Hehe… ini benar lho. Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Sering juga setelah kita memutuskan, ternyata hasilnya tidak sesuai harapan kita. Lantas kita berkeluh kesah. Banyak pertanyaan yang muncul, seperti: kenapa ini terjadi pada saya? Saya tidak pantas mengalami ini. Kalau dalam dunia profesi kita: dia lebih bodoh dari saya kok bisa diterima spesialis saya tidak.

Hehe… saya kali ini mau bercerita tentang pengalaman mendaftar PPDS. Ya pengalaman saya. Ya pengalaman teman-teman saya. Dan ternyata setelah saya renungi, ternyata missing puzzle-nya adalah determinasi.

Determinasi sangat sulit dicari makna dalam bahasa Indonesia. Definisi menurut KBBI adalah hal menentukan. Definisi kedua adalah ketetapan hati. Bingung kan? Hehe… Menurut saya, gambar diatas, sepertinya bisa menggambarkan determinasi. Apa yang membuat laki-laki itu mampu mendorong batu? Kekuatan. Ya. Tetapi dalam sebuah setting cerita yang utuh, mungkin dia mendorong batu awalnya di tanah datar. Suatu ketika dia sampai pada tanjakan, apa yang membuat dia tetap berusaha mendorong batu? Itulah determinasi. Selesaikan sampai tujuan.

Continue reading

Wah…
Saya sudah cukup lama absen posting tulisan. Hehe… Maklum masih sangat sibuk. Hehe… Aktifitas menjadi tutor dalam pendidikan mahasiswa FKUB menyita sebagian besar waktu saya. Karena apa? Karena setiap tutorial saya harus belajar lagi untuk memastikan saya menguasai materi dan bisa memperkaya pengetahuan mahasiswa dengan pengalaman di dunia klinik.

Ini adalah weekend pertama saya yang saya habiskan dengan berbaring di sofa bermalas-malasan. Dan kini saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Kenapa dengan residen atau PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis)? Hehe… Semua diawali dengan keikutsertaan saya di pertemuan ilmiah dua tahunan Asosiasi Seksolog Indonesia (ASI) di Solo. Saya menumpang tidur semalam di kos kakak kelas saya, mas Dearisa. Mas Dea kini menjadi residen psikiatri di UNS.

Di sana, saya banyak bertukar pikiran dengan mas Dea. Dan Voila! muncullah tulisan ini di benak saya. Dalam karir kependidikan profesi dokter, terdapat jenjang-jenjang yang harus dijalani. Yang pasti adalah dokter muda atau koass. Inilah strata terbawah dalam sistem perkastaan di Rumah Sakit. Baru di atasnya ada residen dan akhirnya supervisor (dokter spesialis).

Dan inilah sebuah kunci utama dalam melalui masa koass. Bagaimana bekerja sama dengan residen? Bekerja sama untuk apa? Tentu bukan hanya sekedar lewat. Melainkan benar-benar mendapat ilmu untuk kepentingan praktik kita nanti. Kenapa menjadi pertanyaan? Karena residen tidak seharusnya mempercayai koass dan harus mengecek semuanya sendiri. Lantas maukah kita hanya menjadi sekedar lewat?

Apakah saya berlebihan? Kok bisa Dok, residen tidak percaya koass?

Continue reading

Ini adalah edisi terakhir dari seri Lima Hal tentang Sekolah Kedokteran. Edisi ini akan membahas tentang: benarkah sekolah kedokteran akan mengubah kita? Dan benarkah di bidang ini semuanya penting? Mari kita membaca…

Poin 4: Sekolah Kedokteran akan mengubah kita.

Dulu, saat saya akan memasuki fakultas kedokteran, saya bilang, saya akan tetap seperti ini. Tidak akan berubah.

Lantas ketika lulus pendidikan preklinik, saya sadar saya berubah. Berubah dalam banyak hal. Tetapi saya merasa itu bukan karena pendidikan kedokteran saya. Itu lebih karena aktifitas saya di keorganisasian. Ya, saya memang berusaha menempa diri di bidang itu seperti yang telah saya jelaskan di edisi sebelumnya.

Dan sekarang, setelah pendidikan klinik saya selesaikan. Well. Saya akui saya berubah. Pendidikan klinik benar-benar memberikan sebuah beban baru dan secara luar biasa membutuhkan tanggung jawab. Secara kasat mata kita harus cukup berkompeten terhadap nyawa pasien. Berkompeten artinya kita harus terus menerus meningkatkan kualitas diri.

Continue reading

%d bloggers like this: