Tag Archive: pengalaman


Empat Hari UNAS

“Indonesia iki yo ngono,,
Dikit-dikit mundur,,
Salah, langsung disuruh mundur,,”

“Lha memang kita itu hobinya tandur,, tanam mundur,, jadi ya mundur terus,,”

Hehe… itu kutipan guyonan khas bapak ibu guru pengawas UNAS di sekolah tempat saya menjadi pengawas satuan pendidikan. Beginilah suasana setip hari dalam empat hari kemarin. Bahkan pagi-pagi sudah muncul kegayengan yang hangat. Guyonan di atas muncul menanggapi berita di koran tentang tuntutan agar Mendikbud mundur.

UNAS, Mendikbud, dan segala permasalahannya memang sedang menjadi primadona media akhir-akhir ini. Dan sepertinya masih akan berlanjut karena UNAS SMP masih akan dilaksanakan. Semua merasa pantas berkomentar dan kadang juga mengkritisi. Siapapun dia, pelaku pendidikan, ibu rumah tangga yang anaknya ikut UNAS, sampai bapak pengemudi becak.

Tapi selama empat hari bersama bapak ibu guru ini, tidak sekalipun, muncul usul UNAS ditiadakan atau Mendikbud mundur. Beliau-beliau ini, lebih sering melontarkan ide-ide segar untuk menyelesaikan masalah UNAS. Bagaimana agar siswa-siswanya lulus semua, bagaimana agar distribusi lancar, bagaimana mekanisme tender pengadaan, bagaimana kemasan soal dan LJU agar insiden sobek berkurang, bagaimana dan bagaimana. Tentu dengan gaya super kocak.

Tentu saya tidak mengomentari ide-idenya. Karena ide-ide itu tentunya sesuai dengan pemahaman beliau-beliau di tataran pelaksana proses belajar mengajar. Bukan di tataran manajemen pengambil kebijakan. Tetapi, pola pikir beliau-beliau ini berorientasi pada solusi. Bukan pada penghakiman baik sistem maupun personal. Padahal sebagai ujung tombak pendidikan, apalagi di daerah terpencil yang sudah kenyang dengan janji-janji yang tak kunjung terealisasi, beliau-beliau ini lebih berhak dan lebih pantas di barisan terdepan, mengkritik, bicara di media tentang dugaan korupsi, bahkan menuntut Mendikbud mundur. Tapi itu sama sekali tidak muncul bahkan dalam proses bercanda santai.

“Menurut saya, soal UNAS kali ini lebih sulit dari prediksi kami. Kami itu, Pak Dokter, ingin sekali berkomunikasi dengan pak Nuh. Hanya kami tidak tahu caranya. Mau menulis di media, kami tidak percaya diri. Mungkin Pak Dokter tahu alamat email beliau? Kami ini ingin menyampaikan aspirasi. Mungkin selama ini yang dijadikan sampel adalah sekolah maju atau favorit, sedang kami ini sekolah terpencil, murid kadang ada kadang tidak. Maka kami berpikir, mungkin masukan dari kami yang kondisinya seperti ini, akan membantu pak Nuh dalam berkoordinasi.”

Wih. Kalimat bertutur yang baik, lebih mendahulukan prasangka baik. Saya, tentu saja, tidak bisa menjanjikan apa-apa. Karena memang sulit bagi kita yang di bawah untuk bisa berkomunikasi dengan jajaran atas pengambil kebijakan. Tapi yang patut digarisbawahi, sekali lagi, sama sekali tidak muncul tuntutan apapun.

“Saya tadi lihat soal sosiologi, Pak Dokter. Saya guru sosiologi. Wah luar biasa soal UNAS sekarang. Soal bisa beda semua begitu ya, padahal kisi-kisinya sama, tapi soal dan jawabannya beda sama sekali. Salut saya sama pelaksanaan UNAS tahun ini. Cuma sayang ya ada insiden distribusi soal kemarin.”

Lihat, komentarnya sangat bijak. Beliau berkomentar setelah mengawasi UNAS, melihat soalnya, mencari sisi positif, tanpa menyerang sisi negatif.

Bagi saya, komentar ini adalah komentar bintang lima.

Advertisements

Ini nih. Saya sedang pengen nulis ringan. Mau cerita tentang pengalaman dua tahun lebih praktik sebagai dokter. Cih, baru juga dua tahun, Dok. Hehehe… ndak papa lah ya… kan namanya juga bagi pengalaman. Sedikit memang, yang penting berbagi. Oh ya, kali aja ada yang belum tahu, saya praktik di dua tempat lho selama dua tahun ini.

Setelah lulus dokter (Agustus 2011), saya menjadi dokter tetap di klinik rawat inap di Desa Udanawu, Blitar. Ada yang tahu? Ini desa di ujung Blitar berbatasan dengan Kediri, sangat terisolir menurut saya, dimana untuk beli koran saja, saya harus naik motor dulu 10 km ke Srengat, Blitar atau ke luar kota, ke Kediri, malah cuma 3 km. Saya bertahan sampai dengan Agustus 2012, saya resign tepat saat saya mulai bertugas sebagai dosen di FK Universitas Brawijaya.

Nopember 2011, saya mulai mengisi klinik YDSF-BSMI Malang sampai sekarang. Nah mau cerita apa sih, Dok? Selama praktik, banyak pengalaman berkesan. Ini yang mau saya share.

1. Udanawu. Bukan dibayar dengan buah, tapi sering dikirim buah hasil ladang pasien. Rambutan, mangga, jambu, buah naga, dan… kesemek! Ha. Baru kali itu saya makan buah kesemek yang sering muncul di serial Doraemon. Haha…

2. Udanawu. Pernah saya libur praktik karena pelesir caving ke Goa Jomblang selama 5 hari. Sepulangnya pelesir, perawat dan bidan bilang: Dokter, banyak dicariin pasien lho. Saya: lha kan ada dokter pengganti, mbak. Perawat-bidan: pasiennya maunya diperiksa sama dokter yang berewokan. Ya dokter Dicky lah. Saya: -___-

Continue reading

%d bloggers like this: