Tag Archive: pasien


Ah saya tetiba ingin bercerita tentang kematian. Salah satu saudara saya, saat ini tengah berbaring di ICU dalam kondisi tidak mampu bergerak, tidak mampu makan minum, tidak mampu merespon rangsang, maupun aktifitas hidup lain. Hidup beliau kini bergantung infus dan alat bantu napas mekanik. Belum. Belum mati batang otak, saya rasa.

“Tante Sina (tentu bukan nama sebenarnya) kemarin dioperasi lagi.” Kata mama.

Ini adalah operasi kelima mungkin, saya sendiri tidak terlalu hafal. Tapi sistem perawatan yang dependen perawat di ICU dan tidak memungkinkan didampingi selama 24 jam oleh keluarga membuat putra-putrinya semakin cemas. Sampai kapan usaha medis dilakukan? Kondisi keuangan semakin menipis? Harus terus diusahakan? Sampai kapan? Apakah bisa hidup sempurna setelah sembuh?

Saya sebagai bagian keluarga besar yang juga dokter hanya bisa termenung. Saya teringat materi euthanasia pada saat kuliah kewarganegaraan maupun agama Islam jaman saya kuliah preklinik dulu. Tidak terlalu ingat bagaimana perdebatan kami dulu, namun poin yang saya ingat, euthanasia itu salah.

“Euthanasia adalah langkah yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan, pun bertindak selayak Tuhan dengan kuasa kita sebagai dokter untuk menghentikan kehidupan.” Sekilas ingatan saya akan materi euthanasia.

Continue reading

Advertisements

Dialog Dokter-Pasien

Suatu ketika, bidan saya di Udanawu bertanya: ‘Dokter, bibi saya ini masuk rumah sakit. Demam sudah 4 hari, Dokter. Tapi semua hasil lab normal. Kok ndak dibolehin pulang ya Dok?’

Untuk yang belum jadi dokter sekalipun, pasti akan menemui konsultasi-konsultasi seperti ini. Dan percayalah, sangat sulit bagi kita untuk menolak konsultasi dadakan model begini. Maka seringkali kita mengiyakan, bahkan kadang memberi opini medis, padahal kita tidak berkompeten.

Kok?

Ya karena kita tidak memeriksa pasien. Dan setiap dokter selalu memiliki alasannya sendiri yang harus kita hargai atas rencana diagnosis, rencana terapi, dan sebagainya. Sebagai ilustrasi:

‘Dok, om saya sudah seminggu ini tidak boleh pulang. Beliau kata dokter kena stroke. Lha sekarang sudah sembuh, sudah bisa jalan, bicara juga sudah lumayan. Kan harusnya bisa rawat jalan aja. Sudah tiga minggu Dok di rumah sakit, biayanya cukup terasa buat kami’

Dokter: hemm… menurut saya omnya sudah bisa pulang. Kondisinya sudah bagus itu. Coba minta pulang lagi ke dokternya.

Continue reading

Dokter itu wajib mengasah rasa.

Apa itu Dok mengasah rasa?

Hehe… para rekan pembaca sekalian. Mau menyapa dulu ah… Yang masih belajar di kampus, angkat tangaaan? Yang koass, manaaa? Kalau yang sudah dokter, suaranya manaaaa? Berasa konser aja… hehee…

Sebelum mulai, mau nanya dulu nih. Kira-kira yang sudah dapat pengalaman dengan kematian siapa yaa… gimana? Gimana rasanya? Kematian di klinik dengan fasilitas minim? Kematian di puskesmas PTT? Kematian di bangsal rumah sakit yang kapasitasnya puluhan pasien? Kematian pasien home visite? Kematian pasien VIP di pavilyun?

Semua kematian itu, kawan, kian sering, apakah kian biasa? Kian tidak berkesan? Pada akhirnya, kematian hanya seperti bunyi bising motor modifikasi, berisik, keras, menyakitkan sebentar, lalu wusss… hilang.

Continue reading

Selamat pagi semua…
Hehe… Ini adalah hari pertama buka lapak sendiri. Pagi-pagi begini biasanya masih males-malesan di sofa sekarang duduk di ruang praktik, rapi.

Nah sembari menunggu pasien, saya mau berbagi tulisan. Mau? Maauu? Alhamdu… lillaaah. Eh, salah. Misfokus. Hehe…

Teman-teman pembaca sekalian, beberapa saat yang lalu, lagi-lagi akun (at)triomacan2000 men-jlentreh-kan dosa para dokter. Dalam twitnya, dokter, secara tersirat adalah sosok yang tidak profesional, menghisap uang pasien (macam vampir saja), malas visite, kalau visite tak ditengok pula itu pasien. Hemmm… berat. Sungguh berat. Bahasa kerennya nih, Bedside manner yang sangat buruk. Bahkan ada yang bilang dehumanisesyen (dehumanization kali ya. Hehe…)

Seperti apa sih Dok, yang kita bilang bedside manner yang buruk atau dehumanisesyen itu?

Continue reading

Ah menanti pesawat. Pesawat saya masih satu jam lagi. Jadi mari kita menulis sesuatu. Hehe… Ini adalah naskah yang sudah lama mengendap dalam draft. Terinspirasi oleh tulisan salah satu sejawat dari Amerika Serikat, saya berusaha menyajikan tulisan ini seringan mungkin.

Teman sejawat semua yang saya banggakan. Ingatkah kita akan tugas pertama kita menangani pasien sebagai dokter? Sebagai dokter yang baru saja disumpah?

Sumpah dokter menjadi momen titik balik dalam hidup kita. Kenapa? Karena itulah masa dimana tanggung jawab dokter resmi diletakkan di pundak kita. Berupa jas putih dengan segala konsekuensinya. Sumpah dokter adalah titik dimana kita tidak bisa balik badan dan menyerah menjadi dokter.

Dan yang terlintas di benak saya saat menangani pasien pertama saya adalah: “Hemm… Betapa sudah cukupkah anmnesis saya? Lengkapkah pemeriksaan saya? Benarkah diagnosis saya? Perlu ditambah obatnya? Atau malah kurang? Bagaimana kalau pasien tidak puas dengan performa saya?”

Continue reading

Dokter Arogan

A life in medicine is a peculiar one, and we who pursue its course are also peculiar.

Posting kali ini mungkin terasa sangat aneh. Dan akan menjadi lebih aneh karena yang menulis seorang dokter. Tetapi ini adalah proses otokritik terhadap saya pribadi, juga terhadap kolega-kolega saya.

Dokter itu arogan.

Wow. Benarkah? Kok bisa Dok? -sebagian reaksi-

Benar. Baru nyadar, Dok? -sebagian (besar) reaksi-

Mungkin memang benar. Tetapi ijinkan saya yang baru seumur jagung berprofesi dokter ini mencoba membaca fenomena ini dari sudut pandang saya pribadi. Dan pada akhirnya saya akan menyerahkan semua opini pada para pembaca budiman.

Bagi saya, dokter, bila dibandingkan dengan profesi lain, memiliki ego yang lebih besar. Lihatlah mereka yang telah menjadi role model dokter selama beberapa dekade terakhir, percaya diri, sukses, pencapaian besar dalam hidup. Faktor-faktor yang menyeret gairah sebagian besar anak muda untuk meraih profesi dokter. Sejak awal pendidikan, ada warisan turun-temurun yang diletakkan di pundak para calon dokter, PRIDE.

Continue reading

Sepotong Kenangan Spesial

Selasa, 21 Agustus 2012

“Dok, keluarganya bu Musi datang. Beliau bilang bu Musi sesak dan kakinya bengkak.” -08.30

“Waduh Mbak. Saya kalau tidak periksa tidak bisa melakukan apa-apa. Bukankah sekarang jadwal praktek dr. Nani? Apa beliau tidak hadir?” -08.31

“Tidak ada, Dok. Ini saya bingung bagaimana.” -08.31

“Mbak. Beri KIE ke beliau. Sesak pada pasien dengan riwayat payah jantung bisa karena paru-paru, bisa pula karena jantung. Apakah beliau masih rutin mengkonsumsi furosemid?” -08.33

Continue reading

Kesempatan Kedua

“Dokter… ada adiknya bu Y di depan ingin konsultasi. Karena bu Y katanya masih muntah-muntah, Dok.” — Bidan saya memanggil saya.

Saat itu saya sedang bersantai di ruang tengah klinik. Bidan saya datang dan memanggil saya untuk menemui adik dari bu Y. Saya terkesiap. Ya Allah. Kenapa lagi dengan bu Y.

Sembari berjalan menuju ruang terima pasien di depan, saya mengingat kasus bu Y, 29 tahun, menderita hiperemesis gravidarum. Beliau hamil anak ketiga dengan usia kehamilan 8-10 minggu. Bu Y mual muntah selama hampir satu bulan. Bahkan riwayat anak pertama, beliau mual muntah selama tiga bulan. Saya berjalan sambil me-review kondisi pasien yang sempat saya rawat inap-kan selama dua hari dan sudah sangat membaik. Kenapa?

“Dokter, anak saya masih batuk. Bahkan lendirnya semakin kental dan sulit dibatukkan. Obat yang kemarin dari dokter sudah habis, Dok. Kira-kira kenapa anak saya, Dok?”

Pernahkah teman sejawat merasakan hal yang sama? Bahwa kita merasa gagal dalam menangani pasien. Bahwa kita terus mencari apa yang salah atau apa yang kurang. Lantas ada salah satu ingatan saya muncul pada sebuah wejangan supervisor ketika saya koass.

Continue reading

Hadiah Dokter

Posting kali ini tidak terlalu panjang.
Karena memang hanya akan cerita singkat tentang sebuah hadiah. Oleh-oleh.

Saya memiliki pasien yang memang rutin saya rawat. Bedanya karena kondisi pasien yang tidak memungkinkan datang ke klinik, maka saya melakukan kunjungan rumah untuk pasien ini.

Dan hari ini, tepat satu bulan saya merawat beliau. Continue reading

%d bloggers like this: