Tag Archive: koass


Tulisan ini untuk adik-adik Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya angkatan 2009 yang baruuu saja menjalani yudisium. Apa sih yudisium itu?

Di FKUB, kami menjalani dua kali yudisium. Yudisium pertama adalah pengesahan gelar Sarjana Kedokteran, [S. Ked] di belakang nama kami. Yudisium kedua adalah pengesahan gelar Dokter, [dr.] di depan nama kami. Yudisium ini berbeda dengan wisuda. Wisuda bersifat pelepasan dari institusi, artinya kami bukan mahasiswa lagi. Sementara yudisium, hanya pengesahan gelar, dimana kami masih berstatus mahasiswa.

Lha ini malah nulis tentang yudisium. Sebenarnya mau nulis apa ini Dok?

Hehe… Kali ini saya ingin menulis sekaligus memberi pesan untuk adik-adik yang baru saja yudisium. Tentang amnesia. Hilang ingatan. Tapi amnesia ini yang sering terjadi pada mahasiswa kedokteran. Amnesia fisiologis. Amnesia karena banyaknya data yang dimasukkan dalam otak kita.

Continue reading

Dokter itu wajib mengasah rasa.

Apa itu Dok mengasah rasa?

Hehe… para rekan pembaca sekalian. Mau menyapa dulu ah… Yang masih belajar di kampus, angkat tangaaan? Yang koass, manaaa? Kalau yang sudah dokter, suaranya manaaaa? Berasa konser aja… hehee…

Sebelum mulai, mau nanya dulu nih. Kira-kira yang sudah dapat pengalaman dengan kematian siapa yaa… gimana? Gimana rasanya? Kematian di klinik dengan fasilitas minim? Kematian di puskesmas PTT? Kematian di bangsal rumah sakit yang kapasitasnya puluhan pasien? Kematian pasien home visite? Kematian pasien VIP di pavilyun?

Semua kematian itu, kawan, kian sering, apakah kian biasa? Kian tidak berkesan? Pada akhirnya, kematian hanya seperti bunyi bising motor modifikasi, berisik, keras, menyakitkan sebentar, lalu wusss… hilang.

Continue reading

Catatan Hati – Curhat!

Ini adalah barisan curhat saya. Hehe… ketika saya harus menunggu supervisor untuk ujian di stase Ilmu Penyakit Dalam (IPD).

Stase IPD memiliki tiga linimasa. Linimasa pertama adalah empat minggu pertama disebut koass junior. Di waktu ini jaga adalah makanan sehari-hari. Linimasa kedua adalah empat minggu kedua disebut koass intermediate. Ini adalah masa bersantai dengan jaga yang tidak terlalu berat. Linimasa ketiga adalah empat minggu terakhir disebut koass senior. Masa-masa presentasi kasus (masing-masing kelompok harus menyediakan lima laporan kasus sesuai request pembimbing). Masa ini juga masa ujian.

Di masa koass senior ini pula biasanya dua minggu terakhir digunakan untuk ujian. Dan saya menjadi koass pertama yang ujian dengan dr. G, SpPD-KPTI. Senang sekali. Segera selesai dan menikmati masa-masa selesai koass IPD. Ternyata oh ternyata.

Continue reading

Cado Cado Series

Haha… Ayo, siapa yang berani menjawab ajakan saya di judul postingan ini dengan jawaban: YUK!!

Hehe… Apa kaitannya tho Dok? Wong mau nge-review kok malah diajak koass lagi.

Tapi begitulah kesan saya setelah membaca Cado-Cado (Catatan Dodol Calon Dokter) karya Bang Ferdiriva. Saya seolah diajak mengenang, tersenyum, bahkan juga ikut trenyuh dengan membaca pengalaman-pengalaman beliau sebagai koass bertahun-tahun yang lalu. Lantas, yang terbersit, mau koass lagi ndak  yaa… jawabannya: Nggak.

Koass memang selalu manis untuk dikenang. Tapi tidak untuk diulang.

Continue reading

Inilah catatan jaga saya yang kedua. Selama koass 18 bulan hanya dua catatan jaga yang saya hasilkan. Keduanya saat stase obgyn. Ada apa dengan obgyn? Hehe…

Sesungguhnya banyak sekali kisah selama koass. Sayang kemalasan saat itu begitu membahana sehingga kini sejumput (ya. Hanya sejumput kok.) penyesalan menyeruak. Tapi tidak apa. Sekarang kan produktif. Hehe…

Selamat menikmati…

Ahh, Kawan,,
Tidaklah saya meniatkan untuk menceriterakan dua kali dalam sekali jaga saya ini,,
Tapi sungguh kali ini adalah cerita yang sangat penting kita ambil hikmahnya,,

Continue reading

Yup!
Setelah beberapa saat lalu saya membahas tentang bagaimana bekerja sama dengan residen, kini saya akan bahas dari sudut pandang berbeda.

Koass. Kelompok orang yang selalu salah. Ada yang menafsirkan begitu. Hehe… benarkah Dok?

Sudah bukan rahasia lagi, koass merupakan kasta terbawah dalam piramida tim dokter di Rumah Sakit. Maka kita memang selalu dituntut untuk melakukan segalanya dengan benar. Kita dianggap siap untuk melakukan banyak hal mulai tindakan medis sampai administratif. Dan juga bukan rahasia bahwa sulit menghindari kesalahan dalam hari-hari kerja koass. Dengan tugas ilmiah, stase, jaga, yang tidak pernah berhenti ada kalanya konsentrasi kita berada pada kadar terendah, dan terjadilah kesalahan.

Itu wajar. Manusiawi. Asalkan kita telah melakukan langkah-langkah prevensi terhadap terjadinya kesalahan. Tetapi kadang yang sulit adalah mendapatkan penilaian negatif, entah dari residen maupun supervisor. Bagaimana tips dan trik menghadapi penilaian buruk ini?

Continue reading

Wah…
Saya sudah cukup lama absen posting tulisan. Hehe… Maklum masih sangat sibuk. Hehe… Aktifitas menjadi tutor dalam pendidikan mahasiswa FKUB menyita sebagian besar waktu saya. Karena apa? Karena setiap tutorial saya harus belajar lagi untuk memastikan saya menguasai materi dan bisa memperkaya pengetahuan mahasiswa dengan pengalaman di dunia klinik.

Ini adalah weekend pertama saya yang saya habiskan dengan berbaring di sofa bermalas-malasan. Dan kini saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Kenapa dengan residen atau PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis)? Hehe… Semua diawali dengan keikutsertaan saya di pertemuan ilmiah dua tahunan Asosiasi Seksolog Indonesia (ASI) di Solo. Saya menumpang tidur semalam di kos kakak kelas saya, mas Dearisa. Mas Dea kini menjadi residen psikiatri di UNS.

Di sana, saya banyak bertukar pikiran dengan mas Dea. Dan Voila! muncullah tulisan ini di benak saya. Dalam karir kependidikan profesi dokter, terdapat jenjang-jenjang yang harus dijalani. Yang pasti adalah dokter muda atau koass. Inilah strata terbawah dalam sistem perkastaan di Rumah Sakit. Baru di atasnya ada residen dan akhirnya supervisor (dokter spesialis).

Dan inilah sebuah kunci utama dalam melalui masa koass. Bagaimana bekerja sama dengan residen? Bekerja sama untuk apa? Tentu bukan hanya sekedar lewat. Melainkan benar-benar mendapat ilmu untuk kepentingan praktik kita nanti. Kenapa menjadi pertanyaan? Karena residen tidak seharusnya mempercayai koass dan harus mengecek semuanya sendiri. Lantas maukah kita hanya menjadi sekedar lewat?

Apakah saya berlebihan? Kok bisa Dok, residen tidak percaya koass?

Continue reading

%d bloggers like this: