“Rama… terima kasih.” Sahut perempuan berkerudung yang paling cantik sedunia di layar laptopku. Sayang, matanya sedang berkaca-kaca sehingga bahkan aku tidak tahan meneruskan pembicaraan ini. Kuputuskan untuk segera mengakhiri percakapan.

“Bunda, Rama ngantuk. Titip salam kecup untuk Maryam ya…” ucapku lirih.

Seakan memahami yang kurasakan, perempuan itu membalas, “Nanti akan bunda sampaikan. Rama jangan capek-capek ya. Diminum jinten hitamnya. Biar nggak mudah sakit. Bunda off dulu ya Rama. Masih harus menyelesaikan bab dua nih.” Ah istriku memang selalu cerewet tentang segala hal yang berkaitan dengan kesehatanku. Bahkan di tengah kesedihannya pun yang dia ingat selalu aku yang malas minum obat. Dia sering mengingatkan untuk minum suplemen kesehatan yang berjejer rapi di meja kerjaku. “Rama ini dokter tapi kok gampang sakit.” Katanya suatu ketika.

“Oke Bunda. Assalamu’alaykum…” ujarku yang dibalas salam lembut.

Aaahhh… Perlahan kupejamkan mataku sembari menyandarkan punggung. Aku lelah. Lelah dengan berbagai tugas di Rumah Sakit. Lelah dengan berbagai masalah di bisnis kulinerku. Lelah dengan kerinduanku yang tak kunjung surut pada istriku, Dewi, dan tentu saja buah hati kami, Maryam.

Sambil terpejam, aku mengingat momen satu setengah tahun yang lalu…

***

“Rama… Alhamdulillaaah… Bunda diterima!!” Itulah kalimat istriku pertama kali di telpon siang itu. Teriakan lebih tepatnya. Mendung seketika sirna oleh kebahagiaan yang terpancar dari deretan cerita istriku selanjutnya.

“Jadi ya Rama… barusan Bunda tes wawancara. Yang wawancara Pak Agus, Kepala Jurusan Biologi. Pak Agus yang dulu ngasi rekomendasi buat Bunda S2 ke IPB Rama. Bayangin aja Rama, bukannya wawancara kita malah ngobrol lho. Alhamdulillah dimudahkan sama Allah. Habis itu Pak Agus langsung bilang kalau Bunda diterima jadi dosen. Meski mungkin menunggu pengumuman resmi sih.” Cerocos istriku.

Continue reading