Tag Archive: dokter


Dok… Saya baru tahu hari ini hari Dokter Indonesia. Selamat ya Dok… Semoga Dokter bisa terus menjadi dokter yang baik dan mengabdi ke masyarakat.

Dokter yang baik…
Saya tahu saya bukan siapa-siapa. Hanya salah seorang masyarakat biasa. Perantau yang setelah bekerja keras bertahun-tahun, akhirnya bisa punya toko sendiri, jual alat olahraga. Toko kecil, Dok. Alhamdulillah berkah.

Tinggal di perantauan dengan berkecukupan tidak membuat saya bahagia. Justru bertahun-tahun saya resah pada orang tua saya di desa terpencil di Jawa. Ayah saya sudah sepuh. 90 tahun, Dok. Ibu saya juga. 78 tahun.

Continue reading

Ah menanti pesawat. Pesawat saya masih satu jam lagi. Jadi mari kita menulis sesuatu. Hehe… Ini adalah naskah yang sudah lama mengendap dalam draft. Terinspirasi oleh tulisan salah satu sejawat dari Amerika Serikat, saya berusaha menyajikan tulisan ini seringan mungkin.

Teman sejawat semua yang saya banggakan. Ingatkah kita akan tugas pertama kita menangani pasien sebagai dokter? Sebagai dokter yang baru saja disumpah?

Sumpah dokter menjadi momen titik balik dalam hidup kita. Kenapa? Karena itulah masa dimana tanggung jawab dokter resmi diletakkan di pundak kita. Berupa jas putih dengan segala konsekuensinya. Sumpah dokter adalah titik dimana kita tidak bisa balik badan dan menyerah menjadi dokter.

Dan yang terlintas di benak saya saat menangani pasien pertama saya adalah: “Hemm… Betapa sudah cukupkah anmnesis saya? Lengkapkah pemeriksaan saya? Benarkah diagnosis saya? Perlu ditambah obatnya? Atau malah kurang? Bagaimana kalau pasien tidak puas dengan performa saya?”

Continue reading

Dokter Arogan

A life in medicine is a peculiar one, and we who pursue its course are also peculiar.

Posting kali ini mungkin terasa sangat aneh. Dan akan menjadi lebih aneh karena yang menulis seorang dokter. Tetapi ini adalah proses otokritik terhadap saya pribadi, juga terhadap kolega-kolega saya.

Dokter itu arogan.

Wow. Benarkah? Kok bisa Dok? -sebagian reaksi-

Benar. Baru nyadar, Dok? -sebagian (besar) reaksi-

Mungkin memang benar. Tetapi ijinkan saya yang baru seumur jagung berprofesi dokter ini mencoba membaca fenomena ini dari sudut pandang saya pribadi. Dan pada akhirnya saya akan menyerahkan semua opini pada para pembaca budiman.

Bagi saya, dokter, bila dibandingkan dengan profesi lain, memiliki ego yang lebih besar. Lihatlah mereka yang telah menjadi role model dokter selama beberapa dekade terakhir, percaya diri, sukses, pencapaian besar dalam hidup. Faktor-faktor yang menyeret gairah sebagian besar anak muda untuk meraih profesi dokter. Sejak awal pendidikan, ada warisan turun-temurun yang diletakkan di pundak para calon dokter, PRIDE.

Continue reading

Sepotong Kenangan Spesial

Selasa, 21 Agustus 2012

“Dok, keluarganya bu Musi datang. Beliau bilang bu Musi sesak dan kakinya bengkak.” -08.30

“Waduh Mbak. Saya kalau tidak periksa tidak bisa melakukan apa-apa. Bukankah sekarang jadwal praktek dr. Nani? Apa beliau tidak hadir?” -08.31

“Tidak ada, Dok. Ini saya bingung bagaimana.” -08.31

“Mbak. Beri KIE ke beliau. Sesak pada pasien dengan riwayat payah jantung bisa karena paru-paru, bisa pula karena jantung. Apakah beliau masih rutin mengkonsumsi furosemid?” -08.33

Continue reading

Kesempatan Kedua

“Dokter… ada adiknya bu Y di depan ingin konsultasi. Karena bu Y katanya masih muntah-muntah, Dok.” — Bidan saya memanggil saya.

Saat itu saya sedang bersantai di ruang tengah klinik. Bidan saya datang dan memanggil saya untuk menemui adik dari bu Y. Saya terkesiap. Ya Allah. Kenapa lagi dengan bu Y.

Sembari berjalan menuju ruang terima pasien di depan, saya mengingat kasus bu Y, 29 tahun, menderita hiperemesis gravidarum. Beliau hamil anak ketiga dengan usia kehamilan 8-10 minggu. Bu Y mual muntah selama hampir satu bulan. Bahkan riwayat anak pertama, beliau mual muntah selama tiga bulan. Saya berjalan sambil me-review kondisi pasien yang sempat saya rawat inap-kan selama dua hari dan sudah sangat membaik. Kenapa?

“Dokter, anak saya masih batuk. Bahkan lendirnya semakin kental dan sulit dibatukkan. Obat yang kemarin dari dokter sudah habis, Dok. Kira-kira kenapa anak saya, Dok?”

Pernahkah teman sejawat merasakan hal yang sama? Bahwa kita merasa gagal dalam menangani pasien. Bahwa kita terus mencari apa yang salah atau apa yang kurang. Lantas ada salah satu ingatan saya muncul pada sebuah wejangan supervisor ketika saya koass.

Continue reading

Hemm…
Kali ini saya akan posting satu draft yang sudah lamaaaa mengendap dalam blog saya. Isi awalnya adalah percakapan di twitter antara saya dengan akun anonim SiBinikiYo. Diawali kultwit akun anonim TrioMacan2000 tentang kritisi sistem pelayanan rumah sakit di Indonesia, kultwit ini bagai bola salju menggelinding merangkai opini. Kian waktu kian besar dirangkai dominasi kekecewaan dengan pelayanan kesehatan para tenaga medis.

Dalam satu kesempatan, masuklah akun anonim binokiyo ini mengawali percakapan kami, karena saya tidak bisa menahan untuk tidak berkomentar berusaha memaparkan kondisi riil di masyarakat kita di daerah (karena mungkin beliau dari kota besar, asumsi saya), namun ternyata percakapan berkembang ke arah yang tidak saya duga. Saya sertakan percakapan saya dengan binokiyo. (Yang dicetak tebal dan miring adalah Binokiyo)

Gue usul, klo dokter2 udah gak bs diatur gmana klo profesi DUKUN dilegalkan oleh negara! hehe

Loh kl sampeyan ke daerah, dokter mmg saingan sama dukun. Lulusan SD. SMP. Hehe..

Jd kl dblg prsaingan bs meningkatkan pelayanan ya silakan.. buat qt dokter d daerah sudah kenyang

Kl anda lbh prefer ke dukun masa dokter mau marah2.. hehe.. silakan mas mbak sekalian

Di daerah,ada dukun. Penjaga apotek. Bidan. Mantri. Sangkal putung. Smw memberi pelayanan medis

iyah, ituy penting…persaingan membuat masing2 profesi meningkatkan pelayanan dan kualitas! hehehe

Persaingan seperti apa yg msh diinginkan? Bknnya sudah ada?

Continue reading

Wah. Cape bahas vaksin terus. Ayo kita bahas sesuatu yang lebih ringan. Judulnya bisa dibaca. Saya mengamati ada perubahan tren di kalangan mahasiswa kedokteran. Bahkan di kalangan dokter. Yaitu munculnya fenomena tablet.

Kok bisa? Karena teknologi kini semakin murah dan lengkap. Evolusi pun muncul. Dari awal zaman dimana kita bergantung pada mesin ketik, komputer, laptop, hingga kini tablet. Mengingat kini kita ada di zaman tablet, jelas evolusi ini menawarkan yang semua orang cari, simpel, mudah dibawa, lengkap, dan bergaya. Tapi perlu nggak sih tablet itu bagi mahasiswa kedokteran atau dokter?

Di US, 30% dokter telah menenteng iPad®. Wow! Ini spesifik pada produk dari raksasa elektronik berlogo apel tergigit. Dan Apple sendiri berani mengklaim bahwa lebih dari 80% dokter di RS Top US menggunakan iPad. Meski tidak dijelaskan RS mana yang disebut Top.

Continue reading

Ha.
Ini dia. Setelah beberapa kali membaca tweet teman tentang peringkat kebahagiaan dokter spesialis, akhirnya Medscape merilis resmi hasil pollingnya. Temanya asyik. Tentang lifestyle dokter. Di Amerika Serikat sih. Yah harusnya ndak terlalu berbeda juga. Harusnya… Hehe…

Posting ini hanya meringkas beberapa poin yang menarik. Kita bahas dengan santai. Mungkin beberapa ada yang ingin menambahi komentar, dipersilakan. Sebenarnya polling ini melibatkan banyak pertanyaan. Untuk lebih lengkap saya beri link untuk melihat hasil lengkap polling Medscape ini. Kita mulai ya…

Hei, Dokter. Anda bahagia?
Hehe… sayang di polling ini ndak ada responden dari dokter umum. Beberapa pertanyaan yang diajukan seperti apakah anda bahagia, apa yang anda lakukan untuk bersenang-senang, mobil apa yang anda punya. Something like that.

Continue reading

“Saya sudah berobat ke dokter, bidan, mantri selama 1 tahun ini. Semua bilang saya punya masalah lambung. Tapi kenapa saya tidak sembuh-sembuh, Dokter?” Ny. A, 45 th, diduga gastric ulcer.

Pengalaman pasien biasanya dipengaruhi beberapa faktor. Seperti diagnosis yang tepat, pengobatan yang efektif, alat yang bagus, juga suasana terapeutik yang oke. Dan masih banyak lagi. Dan ternyata ada beberapa faktor yang ternyata lebih ringan secara keilmuan, seperti sikap kita terhadap pasien, mendengarkan curahan hati pasien, melibatkan pasien dalam keputusan terapi. Dimanakah posisi faktor-faktor ini? Bukankah seharusnya ia sama pentingnya dengan faktor keahlian klinis?

“Saya tidak tahu, Dok, anak saya dikasih obat apa. Pokoknya puyer gitu lho. Dokternya juga tidak bilang anak saya sakit apa.” Ny. F, 39 th, ketika saya tanya apa yang dikatakan dokter sebelumnya tentang sakit anaknya dan diberi obat apa.

Continue reading

Artikel ini menarik!!

Hehe… itu bagian dari marketing saya terhadap blog saya. Karena ini tulisan saya, maka setidaknya saya sendiri harus yakin terlebih dahulu kalau tulisan saya menarik. Hehehe… narsis ceritanya.

Saya membaca judul ini di salah satu blog medstudent di Amerika Serikat. Penulisnya yang dari USA. Bukan saya membaca blog ini di USA (lhah?!). Iseng-iseng saya baca. Di akhir posting tersebut saya merasa ingin mengunggah posting itu dalam bahasa saya. Kenapa? Karena sesungguhnya memang banyak alasan kenapa kita tidak ingin menjadi dokter (meski saya heran peminat FK kok ya ndak berkurang ya… ^^).

Di setiap poin akan saya jelaskan ketakutan itu beralasan atau tidak. Dan di akhir tiap poin saya juga mencoba memberikan resolusi, atas pengalaman saya. Semua penjelasan ini dipaparkan secara singkat. Untuk lebih rinci, insya Allah akan saya susun menjadi sebuah buku (ada yang mau beli? Insya Allah ada). Doakan ya. Untuk sekarang, Selamat membaca…

1) Kita akan kehilangan teman yang kita miliki sebelum menjadi mahasiswa kedokteran.

Continue reading

%d bloggers like this: