Tag Archive: cure


Karl Menninger, a well known American psychiatrist, had many conceptualizations regarding the mentally ill and treating them. Amongst them, was the concept that when it comes to treating our patients, our goal should be to “care” for them, rather than to “cure” them. He believed this approach to be valid for both psychiatric and medical patients.

Kesan pertama saya terhadap statement di atas adalah: WOW. Karena saya menemukan jawaban atas ke-galau-an saya beberapa saat lalu. Tentang profesi saya. Tentang bagaimana saya terhadap profesi ini.

Dokter memang memiliki tujuan utama menyembuhkan. Cure. Kita belajar empat tahun plus dua tahun di fakultas kedokteran. Belajar apa? Menyembuhkan penyakit. Kita belajar anatomi fisiologi biokimia untuk memahami how human body works. Lantas kita belajar patologi, dan berbagai macam penyakit klinis berdasarkan sistem, anatomi, untuk menyembuhkannya. Kita harus tahu how to diagnose, apa obatnya, dan bagaimana serta ke siapa merujuknya. Residen atau PPDS? Sama. Kita diajarkan bahwa tugas utama kita, tujuan utama kita, adalah melenyapkan disease. Mengobati sakit fisik pasien. To cure patient.

Continue reading

Kesempatan Kedua

“Dokter… ada adiknya bu Y di depan ingin konsultasi. Karena bu Y katanya masih muntah-muntah, Dok.” — Bidan saya memanggil saya.

Saat itu saya sedang bersantai di ruang tengah klinik. Bidan saya datang dan memanggil saya untuk menemui adik dari bu Y. Saya terkesiap. Ya Allah. Kenapa lagi dengan bu Y.

Sembari berjalan menuju ruang terima pasien di depan, saya mengingat kasus bu Y, 29 tahun, menderita hiperemesis gravidarum. Beliau hamil anak ketiga dengan usia kehamilan 8-10 minggu. Bu Y mual muntah selama hampir satu bulan. Bahkan riwayat anak pertama, beliau mual muntah selama tiga bulan. Saya berjalan sambil me-review kondisi pasien yang sempat saya rawat inap-kan selama dua hari dan sudah sangat membaik. Kenapa?

“Dokter, anak saya masih batuk. Bahkan lendirnya semakin kental dan sulit dibatukkan. Obat yang kemarin dari dokter sudah habis, Dok. Kira-kira kenapa anak saya, Dok?”

Pernahkah teman sejawat merasakan hal yang sama? Bahwa kita merasa gagal dalam menangani pasien. Bahwa kita terus mencari apa yang salah atau apa yang kurang. Lantas ada salah satu ingatan saya muncul pada sebuah wejangan supervisor ketika saya koass.

Continue reading

%d bloggers like this: