Tag Archive: Canon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS


Sang Madakaripura

Sang Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

1/1000s f/1.8 at 50mm

Inilah Air Terjun Madakaripura, Sang Madakaripura. Sungguh luar biasa. Sayang sekali saya belum memiliki rejeki untuk membeli lensa lebar, kalau tidak… hemmm… sungguh teman-teman akan bisa menangkap keindahan yang luar biasa.

Air terjun Madakaripura konon merupakan persinggahan terakhir Maha Patih Gajah Mada setelah mengundurkan diri sebagai Maha Patih Majapahit. Gajah Mada sebagai Resi Tunggul Manik tinggal di Madakaripura sebelum akhirnya Moksa. Beliau juga konon sempat mendidik dan menggembleng seorang anak bernama Damar Wulan yang pada akhirnya kelak akan menggantikan Prabu Hayam Wuruk sebagai Brawijaya V atau Kertabumi.

Karena itu sampai saat ini, Air Terjun Madakaripura masih dianggap suci oleh umat Hindu sebagai air suci atau Tirta Sewana. Air terjun ini masih digunakan warga Tengger setiap tahun dalam prosesi Mendhak Tirta yang masih dalam rangkaian upacara Yadnya Kasada.

Kami pun sempat berfoto dengan latar Sang Madakaripura.

Berfoto dengan latar Madakaripura

Berfoto dengan latar Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

1/40s f/1.8 at 50mm

Sekian cerita perjalanan saya ke Air Terjun Madakaripura. Semoga menggugah keinginan teman-teman semua untuk sebentar saja berpisah dengan keriuhan kota dan bermain sejenak dengan alam.

Tautan yang berhubungan:

Sang Madakaripura (1)

Jeram Madakaripura (2)

Buih Kapas Madakaripura (3)

Sweet Spot Madakaripura (4)

Tari Penyambutan Madakaripura (5)

Mengitip Madakaripura (6)

Advertisements
Mengintip Madakaripura

Mengintip Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

8s – 1/8s – 1/30s f/22 at 50mm

Menuju Air Terjun Madakaripura, kita akan melalui celah sempit yang seolah menjadi pintu gerbang Sang Madakaripura. Di celah sempit ini lumayan banyak yang mengambil foto. Dan saya mulai bongkar tripod saya, untuk mengambil foto HDR hasil intipan saya ke Sang Madakaripura.

Inilah hasilnya. Hasilnya kurang maksimal memang karena saya hanya pakai lensa 50 mm. Mungkin dengan lensa yang lebih lebar hasilnya akan lebih WOW!!

Kami pun sempat berfoto sejenak sebelum masuk ke Sang Madakaripura.

Befoto Di Gerbang Sang Madakaripura

Befoto Di Gerbang Sang Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

1/1.6s f/22 at 50mm

Hasilnya pun kurang maksimal. Hal ini disebabkan saya tidak menggunakan trigger, sehingga penyesuaian pose dengan klik kamera sulit dilakukan. Akibatnya ketika kamera klik, kami sedang bergerak. Sayang sekali. Saya sengaja menggunakan shutter speed lambat untuk menciptakan latar air terjun yang lembut.

Berikutnya adalah Sang Madakaripura.

Tautan yang berhubungan:

Sang Madakaripura (1)

Jeram Madakaripura (2)

Buih Kapas Madakaripura (3)

Sweet Spot Madakaripura (4)

Tari Penyambutan Madakaripura (5)

Inilah Sang Madakaripura (7)

Air Terjun Penyambutan Madakaripura

Air Terjun Penyambutan Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

1/250s f/3.2 at 50mm

Sepanjang perjalanan menuju Sang Madakaripura, saya terheran-heran bagaimana bisa orang yang berpapasan dengan kami basah kuyup. Ini kan hanya menyeberang sungai. Apakah semua bermain di bawah Air terjun?

Pertanyaan saya terjawab ketika kami sudah menyeberang sungai sebanyak lima kali. Banyak penjual jas hujan. Saya menyebut jas hujan seperti ini dengan jas hujan kresek. Karena bahannya memang dari bahan yang sama dengan kresek. Maka inilah persiapan kedua kalau ingin menyambangi Sang Madakaripura. Jas hujan. Atau siap basah.

Kenapa perlu jas hujan? Ternyata untuk mencapai Sang Madakaripura, kami harus menyusuri sungai sepanjang 50 m terakhir dengan curahan air terjun. Satu air terjun? Dua? Tidak. Empat air terjun sekaligus menghujani kita yang berjalan menyusuri sungai menuju Sang Madakaripura. Luar biasa!!

Kami menyempatkan berfoto dengan latar belakang air terjun ketiga. Ada yang beli jas hujan. Ada yang sangu jas hujan (dia sudah diberitahu temannya agar bawa jas hujan, tapi tidak bagi informasi. Huh!!). Ada yang siap basah. Ada yang tidak siap basah tapi enggan beli jas hujan (saya!!). Untung jaket saya lumayan nyaman untuk gerimis sedang, dan tas kamera saya pun punya raincoat sendiri.

Kita semakin dekat dengan Sang Madakaripura. Jangan ketinggalan posting selanjutnya ya.

Tautan yang berhubungan:

Sang Madakaripura (1)

Jeram Madakaripura (2)

Buih Kapas Madakaripura (3)

Sweet Spot Madakaripura (4)

Mengintip  Madakaripura (6)

Inilah Sang Madakaripura (7)

Sweet Spot Madakaripura

Sweet Spot Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

1/160s f/3.2 at 50mm

Ini yang saya bilang kita tidak akan kehabisan momen. Hampir setiap lokasi mempunyai Sweet Spot. Saya mengistilahkan sebuah lokasi yang sangat fotogenik sebagai sweet spot. Lokasi ini terletak di pinggir sungai yang harus kita seberangi. Dan seolah batu-batunya didesain untuk lokasi foto. Foto Post-wedding? Boleeeeh

Kita semakin dekat dengan Sang Madakaripura. Jangan ketinggalan posting selanjutnya ya.

Tautan yang berhubungan:

Sang Madakaripura (1)

Jeram Madakaripura (2)

Buih Kapas Madakaripura (3)

Tari Penyambutan Madakaripura (5)

Mengintip Madakaripura (6)

Inilah Sang Madakaripura (7)

Buih Kapas Madakaripura

Buih Kapas Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

2s f/22 at 50mm

Saya punya misi sendiri di perjalanan ini. Saya ingin memotret jeram sungai dengan teknik slow speed. Efeknya adalah jeram yang membentuk buih seperti kapas. Teknik ini mudah, hanya memang harus menggunakan tripod atau pakai metode saya dengan meletakkan body di batu. Trik ini dapat dipakai kalau kita malas bongkar pasang tripod, terutama saat perjalanan masih jauh. Hehe…

Hasilnya dapat dilihat di posting ini dan posting sebelumnya. Jangan khawatir kehilangan momen karena kita harus menyeberang sungai seperti ini sebanyak enam kali sebelum sampai di Sang Madakaripura.

Masih banyak foto yang akan saya bagi. Nantikan posting selanjutnya ya.

Tautan yang berhubungan:

Sang Madakaripura (1)

Jeram Madakaripura (2)

Sweet Spot Madakaripura (4)

Tari Penyambutan Madakaripura (5)

Mengintip  Madakaripura (6)

Inilah Sang Madakaripura (7)

Jeram sungai yang harus dilalui menuju Sang Madakaripura

Jeram sungai yang harus dilalui menuju Sang Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

2s f/22 at 50mm

Yang harus dipersiapkan apa saja untuk menempuh medan tracking menuju Sang Madakaripura?

Yang utama adalah sandal gunung. Saya sendiri melakukan kesalahan dengan tidak membawa sandal gunung saya ke Surabaya, tertinggal di Malang. Akhirnya saya memutuskan sangu sandal jepit. Sebenarnya sandal jepit pun kurang aman. Saya sendiri mengalami ketika akhirnya sandal jepit saya sebelah kanan sempat terlepas ketika menyeberang sungai dengan arus yang sedikit deras. Untung masih bisa dikejar dan diselamatkan (sandalnya!!). Hehe…

Well, kenapa kok kita harus bawa sandal gunung? karena medan tracking-nya menyusuri sungai dan beberapa kali menyeberang sungai. Jeramnya? Lumayan bagi mereka yang tidak pernah wisata alam. Hehe…

kalau tidak bawa sandal gunung? Tenang. Banyak penduduk yang mencari nafkah dengan berjualan sandal jepit. Harga sekitar 10.000-15.000 rupiah.

Apakah perlu Guide? Karena begitu sampai kita akan dikerumuni penduduk yang menawarkan diri sebagai guide. Berhubung ada di antara kami yang telah pernah ke Madakaripura, kami menolak dengan halus. Komentar abang-abang yang menawari kami, “Yah kalau gitu kami di sini dapat penghasilan dari mana?” sambil bersungut ngeloyor pergi. Saya sendiri agak kurang nyaman dengan cara mereka yang sedikit memaksa. Maka  terserah teman-teman kalau mau menggunakan jasa guide.

Cerita perjalanan kami belum selesai. Nantikan posting selanjutnya ya…

Tautan yang berhubungan:

Sang Madakaripura (1)

Buih Kapas Madakaripura (3)

Sweet Spot Madakaripura (4)

Tari Penyambutan Madakaripura (5)

Mengintip  Madakaripura (6)

Inilah Sang Madakaripura (7)

Sang Madakaripura (1)

Pose di depan Patung Gajah Mada

Pose di depan Patung Gajah Mada

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

1/250s f/2.5 at 50mm

Akhir minggu kemarin saya berkesempatan Tadabbur Alam. Hehe… ya, saya diajak senior PPDS Andrologi untuk berjalan-jalan ke Air Terjun Madakaripura. Ada yang pernah dengar? Bagi teman-teman pembaca yang tinggal di Jawa Timur saya rasa pernah sesekali mendengar nama air terjun yang katanya disebut sebagai air terjun terbagus di Jawa Timur.

Saya pribadi sangat tertarik dengan tawaran ini. Saya lama tinggal di Malang dan sering bermain ke air terjun sekitar Malang. Pernah juga ke Air Terjun Sedudo yang terkenal di daerah Nganjuk sewaktu stase di RS Kusta Kediri. Rasa penasaran pun menggelitik saya. Lagipula saya sudah terlalu lama memanjakan badan saya. Badan ini perlu diregangkan dengan sedikit petualangan alam. Maka saya terima tawaran senior saya ini, dan berangkatlah kami.

Kami berangkat pukul 7.00 dan sampai sekitar pukul 9.30. Masih relatif sepi. Adanya patung Maha Patih Gajah Mada menggoda kami untuk berfoto bersama sejenak sebelum memulai perjalanan yang cukup melelahkan untuk sampai di Sang Madakaripura.

Air Terjun Madakaripura berada di Probolinggo. Tepatnya di desa Sapih, Kecamatan Lumbang. Kalau kita menuju Probolinggo dari Pasuruan kita akan menemui pertigaan Tongas menuju ke Lumbang. Sesampainya di pasar Lumbang, kita belok kanan dan jalan masih naik lagi sekitar 10 km (meskipun ada tulisan di pinggir jalan yang menyebutkan jarak tinggal 5 km, saya rasa itu hanya pemberi harapan palsu. hehe…). Area Madakaripura berada di sekitar 620 m di atas permukaan laut. Ketinggian Air Terjun Madakaripura sekitar 200 m. Tetapi yang membuat saya tercengang adalah deretan air terjun yang menyambut kami sebelum sampai di Sang Madakaripura.

Bagaimana perjalanan kami menuju Sang Madakaripura? Tunggu posting selanjutnya.

Tautan yang berhubungan:

Jeram Madakaripura (2)

Buih Kapas Madakaripura (3)

Sweet Spot Madakaripura (4)

Tari Penyambutan Madakaripura (5)

Mengintip  Madakaripura (6)

Inilah Sang Madakaripura (7)

Ekspresi dr. Onny Pieters Sono SpAnd

Ekspresi dr. Onny Pieters Sono SpAnd

Continue reading

Keluarga Besar SMF Andrologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Keluarga Besar SMF Andrologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Continue reading

Salah satu keunikan memotret kembang api adalah kita tidak pernah tahu akan jadi seperti apa hasil foto kita. Ke arah mana cahaya bergerak, berbentuk apa, dan bagaimana segala ketidakpastian itu membeku dalam lensa kamera kita. Sudah cukup lama kah Shutter Speed kita? Apakah terlalu lama? Atau mungkin terlalu sebentar? Bagaimana fokusnya? Bukankah sulit menentukan fokus saat malam?

Itulah menariknya memotret kembang api. Dalam frame ini, salah satu favorit saya, tampak peri cahaya dengan sayap warna-warni berpendar seolah menari dengan gemulai diiringi pengawal-pengawalnya berwarna putih bagai ubur-ubur. Peri cahaya yang turun ke bumi. Indah!

Continue reading

%d bloggers like this: