Tag Archive: belajar


Tulisan ini untuk adik-adik Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya angkatan 2009 yang baruuu saja menjalani yudisium. Apa sih yudisium itu?

Di FKUB, kami menjalani dua kali yudisium. Yudisium pertama adalah pengesahan gelar Sarjana Kedokteran, [S. Ked] di belakang nama kami. Yudisium kedua adalah pengesahan gelar Dokter, [dr.] di depan nama kami. Yudisium ini berbeda dengan wisuda. Wisuda bersifat pelepasan dari institusi, artinya kami bukan mahasiswa lagi. Sementara yudisium, hanya pengesahan gelar, dimana kami masih berstatus mahasiswa.

Lha ini malah nulis tentang yudisium. Sebenarnya mau nulis apa ini Dok?

Hehe… Kali ini saya ingin menulis sekaligus memberi pesan untuk adik-adik yang baru saja yudisium. Tentang amnesia. Hilang ingatan. Tapi amnesia ini yang sering terjadi pada mahasiswa kedokteran. Amnesia fisiologis. Amnesia karena banyaknya data yang dimasukkan dalam otak kita.

Continue reading

Advertisements

Wah…
Saya sudah cukup lama absen posting tulisan. Hehe… Maklum masih sangat sibuk. Hehe… Aktifitas menjadi tutor dalam pendidikan mahasiswa FKUB menyita sebagian besar waktu saya. Karena apa? Karena setiap tutorial saya harus belajar lagi untuk memastikan saya menguasai materi dan bisa memperkaya pengetahuan mahasiswa dengan pengalaman di dunia klinik.

Ini adalah weekend pertama saya yang saya habiskan dengan berbaring di sofa bermalas-malasan. Dan kini saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Kenapa dengan residen atau PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis)? Hehe… Semua diawali dengan keikutsertaan saya di pertemuan ilmiah dua tahunan Asosiasi Seksolog Indonesia (ASI) di Solo. Saya menumpang tidur semalam di kos kakak kelas saya, mas Dearisa. Mas Dea kini menjadi residen psikiatri di UNS.

Di sana, saya banyak bertukar pikiran dengan mas Dea. Dan Voila! muncullah tulisan ini di benak saya. Dalam karir kependidikan profesi dokter, terdapat jenjang-jenjang yang harus dijalani. Yang pasti adalah dokter muda atau koass. Inilah strata terbawah dalam sistem perkastaan di Rumah Sakit. Baru di atasnya ada residen dan akhirnya supervisor (dokter spesialis).

Dan inilah sebuah kunci utama dalam melalui masa koass. Bagaimana bekerja sama dengan residen? Bekerja sama untuk apa? Tentu bukan hanya sekedar lewat. Melainkan benar-benar mendapat ilmu untuk kepentingan praktik kita nanti. Kenapa menjadi pertanyaan? Karena residen tidak seharusnya mempercayai koass dan harus mengecek semuanya sendiri. Lantas maukah kita hanya menjadi sekedar lewat?

Apakah saya berlebihan? Kok bisa Dok, residen tidak percaya koass?

Continue reading

Nah. Kali ini saya akan membahas tentang sekolah kedokteran. Medical School.

Saya akan bercerita tentang lima hal yang merupakan poin penting dalam kehidupan sekolah kedokteran. Di tiap poin akan ada tiga lini masa. Tiga lini masa itu akan mewakili pemikiran dan opini saya terkait poin yang kita bahas. Masa sebelum kuliah kedokteran. Masa ketika menyelesaikan kuliah preklinik. Dan masa ketika menyelesaikan pendidikan klinik.

Karena terlalu panjang bila kita langsung bahas kelimanya, mungkin akan saya buat serial. Selamat membaca.

Poin 1: Kuliah Kedokteran itu sulit, tetapi tidak sesulit yang dibayangkan

Saya mengawali kuliah kedokteran dengan mengecewakan. IP saya kurang dari 3,00 (berapanya, rahasiaa. Hehe…). Itu membuat saya marah. Marah pada kemalasan saya. Marah pada mudahnya saya mengantuk (serius. Textbook itu semacam memiliki efek sedasi yang luar biasa.) Dan saya marah pada kemampuan menghapal saya yang pas-pasan.

Continue reading

%d bloggers like this: