“Maaf. Kami tidak melayani pasien jamkesda.” 

Pernah kolega sejawat mendapat respon seperti ini?
Belum pernah?
Mungkin bagi sebagian yang bekerja di kota besar, dimana masyarakatnya adalah kalangan berkecukupan, kolega sejawat belum pernah mendengar respon seperti ini.

Respon ini saya dapat ketika saya harus merujuk pasien dengan riwayat kecelakaan lalu lintas. Pasien saya adalah pejalan kaki, laki-laki berusia 63 tahun. Sepulang dari kenduren beliau ditabrak pesepeda motor berusia 13 tahun.

Beliau datang malam dengan kondisi yang baik-baik saja. Namun sesuai prosedur semua riwayat cedera kepala harus diobservasi minimal 24 jam. Dan beliau kami observasi di klinik. Keesokan paginya, kesadaran pasien turun drastis. Refleks kornea dan pupil negatif. Saya segera KIE pasien untuk rujuk ke RSUD kota terdekat, lebih dari 20 km dari lokasi klinik kami.

Respon pertama keluarga pasien, “kami tidak punya uang, Dok.”

Maka salah satu keluarga berkeliling cari hutang untuk biaya CT-Scan. Saya tahu, RSUD kota tidak memiliki CT-Scan, dan dari pengalaman, pasien yang datang tanpa CT-Scan akan dikirim dengan ambulans RSUD kota untuk CT-Scan di laboratorium swasta. Akan buang waktu dan biaya ambulans akan dobel. Saya jelaskan dan keluarga pasien setuju untuk CT-Scan. Biaya ambulans klinik untuk sementara klinik yang menanggungnya. Saya telpon RSUD kota. Dan respon di atas lah yang saya dapatkan.

Continue reading

Advertisements