Latest Entries »

Mengintip Madakaripura

Mengintip Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

8s – 1/8s – 1/30s f/22 at 50mm

Menuju Air Terjun Madakaripura, kita akan melalui celah sempit yang seolah menjadi pintu gerbang Sang Madakaripura. Di celah sempit ini lumayan banyak yang mengambil foto. Dan saya mulai bongkar tripod saya, untuk mengambil foto HDR hasil intipan saya ke Sang Madakaripura.

Inilah hasilnya. Hasilnya kurang maksimal memang karena saya hanya pakai lensa 50 mm. Mungkin dengan lensa yang lebih lebar hasilnya akan lebih WOW!!

Kami pun sempat berfoto sejenak sebelum masuk ke Sang Madakaripura.

Befoto Di Gerbang Sang Madakaripura

Befoto Di Gerbang Sang Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

1/1.6s f/22 at 50mm

Hasilnya pun kurang maksimal. Hal ini disebabkan saya tidak menggunakan trigger, sehingga penyesuaian pose dengan klik kamera sulit dilakukan. Akibatnya ketika kamera klik, kami sedang bergerak. Sayang sekali. Saya sengaja menggunakan shutter speed lambat untuk menciptakan latar air terjun yang lembut.

Berikutnya adalah Sang Madakaripura.

Tautan yang berhubungan:

Sang Madakaripura (1)

Jeram Madakaripura (2)

Buih Kapas Madakaripura (3)

Sweet Spot Madakaripura (4)

Tari Penyambutan Madakaripura (5)

Inilah Sang Madakaripura (7)

Advertisements
Air Terjun Penyambutan Madakaripura

Air Terjun Penyambutan Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

1/250s f/3.2 at 50mm

Sepanjang perjalanan menuju Sang Madakaripura, saya terheran-heran bagaimana bisa orang yang berpapasan dengan kami basah kuyup. Ini kan hanya menyeberang sungai. Apakah semua bermain di bawah Air terjun?

Pertanyaan saya terjawab ketika kami sudah menyeberang sungai sebanyak lima kali. Banyak penjual jas hujan. Saya menyebut jas hujan seperti ini dengan jas hujan kresek. Karena bahannya memang dari bahan yang sama dengan kresek. Maka inilah persiapan kedua kalau ingin menyambangi Sang Madakaripura. Jas hujan. Atau siap basah.

Kenapa perlu jas hujan? Ternyata untuk mencapai Sang Madakaripura, kami harus menyusuri sungai sepanjang 50 m terakhir dengan curahan air terjun. Satu air terjun? Dua? Tidak. Empat air terjun sekaligus menghujani kita yang berjalan menyusuri sungai menuju Sang Madakaripura. Luar biasa!!

Kami menyempatkan berfoto dengan latar belakang air terjun ketiga. Ada yang beli jas hujan. Ada yang sangu jas hujan (dia sudah diberitahu temannya agar bawa jas hujan, tapi tidak bagi informasi. Huh!!). Ada yang siap basah. Ada yang tidak siap basah tapi enggan beli jas hujan (saya!!). Untung jaket saya lumayan nyaman untuk gerimis sedang, dan tas kamera saya pun punya raincoat sendiri.

Kita semakin dekat dengan Sang Madakaripura. Jangan ketinggalan posting selanjutnya ya.

Tautan yang berhubungan:

Sang Madakaripura (1)

Jeram Madakaripura (2)

Buih Kapas Madakaripura (3)

Sweet Spot Madakaripura (4)

Mengintip  Madakaripura (6)

Inilah Sang Madakaripura (7)

Sweet Spot Madakaripura

Sweet Spot Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

1/160s f/3.2 at 50mm

Ini yang saya bilang kita tidak akan kehabisan momen. Hampir setiap lokasi mempunyai Sweet Spot. Saya mengistilahkan sebuah lokasi yang sangat fotogenik sebagai sweet spot. Lokasi ini terletak di pinggir sungai yang harus kita seberangi. Dan seolah batu-batunya didesain untuk lokasi foto. Foto Post-wedding? Boleeeeh

Kita semakin dekat dengan Sang Madakaripura. Jangan ketinggalan posting selanjutnya ya.

Tautan yang berhubungan:

Sang Madakaripura (1)

Jeram Madakaripura (2)

Buih Kapas Madakaripura (3)

Tari Penyambutan Madakaripura (5)

Mengintip Madakaripura (6)

Inilah Sang Madakaripura (7)

Buih Kapas Madakaripura

Buih Kapas Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

2s f/22 at 50mm

Saya punya misi sendiri di perjalanan ini. Saya ingin memotret jeram sungai dengan teknik slow speed. Efeknya adalah jeram yang membentuk buih seperti kapas. Teknik ini mudah, hanya memang harus menggunakan tripod atau pakai metode saya dengan meletakkan body di batu. Trik ini dapat dipakai kalau kita malas bongkar pasang tripod, terutama saat perjalanan masih jauh. Hehe…

Hasilnya dapat dilihat di posting ini dan posting sebelumnya. Jangan khawatir kehilangan momen karena kita harus menyeberang sungai seperti ini sebanyak enam kali sebelum sampai di Sang Madakaripura.

Masih banyak foto yang akan saya bagi. Nantikan posting selanjutnya ya.

Tautan yang berhubungan:

Sang Madakaripura (1)

Jeram Madakaripura (2)

Sweet Spot Madakaripura (4)

Tari Penyambutan Madakaripura (5)

Mengintip  Madakaripura (6)

Inilah Sang Madakaripura (7)

Jawaban

Jawaban terindah pada pemfitnah: “Jika kau benar, semoga Allah mengampuniku. Jika kau keliru, semoga Allah mengampunimu.”

Jawaban terbaik pada penghina: “Yang kau katakan tadi sebenarnya pujian; sebab aku lebih tahu, bahwa aslinya diriku lebih rendah dari itu.”

Jawaban teragung pada caci maki & kenistaan: “Bahkan walau amat ingin membalas, aku tak kuasa. Sebab aku tak punya kata-kata keji & nista.”

Jawaban pada si pemuji: “Moga Allah ampuni aib yang tak kautahu; tak menghukumku sebab sanjungmu; & menjadikanku lebih baik dari semua itu.”

Ust. Salim A. Fillah

View on Path

Jeram sungai yang harus dilalui menuju Sang Madakaripura

Jeram sungai yang harus dilalui menuju Sang Madakaripura

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

2s f/22 at 50mm

Yang harus dipersiapkan apa saja untuk menempuh medan tracking menuju Sang Madakaripura?

Yang utama adalah sandal gunung. Saya sendiri melakukan kesalahan dengan tidak membawa sandal gunung saya ke Surabaya, tertinggal di Malang. Akhirnya saya memutuskan sangu sandal jepit. Sebenarnya sandal jepit pun kurang aman. Saya sendiri mengalami ketika akhirnya sandal jepit saya sebelah kanan sempat terlepas ketika menyeberang sungai dengan arus yang sedikit deras. Untung masih bisa dikejar dan diselamatkan (sandalnya!!). Hehe…

Well, kenapa kok kita harus bawa sandal gunung? karena medan tracking-nya menyusuri sungai dan beberapa kali menyeberang sungai. Jeramnya? Lumayan bagi mereka yang tidak pernah wisata alam. Hehe…

kalau tidak bawa sandal gunung? Tenang. Banyak penduduk yang mencari nafkah dengan berjualan sandal jepit. Harga sekitar 10.000-15.000 rupiah.

Apakah perlu Guide? Karena begitu sampai kita akan dikerumuni penduduk yang menawarkan diri sebagai guide. Berhubung ada di antara kami yang telah pernah ke Madakaripura, kami menolak dengan halus. Komentar abang-abang yang menawari kami, “Yah kalau gitu kami di sini dapat penghasilan dari mana?” sambil bersungut ngeloyor pergi. Saya sendiri agak kurang nyaman dengan cara mereka yang sedikit memaksa. Maka  terserah teman-teman kalau mau menggunakan jasa guide.

Cerita perjalanan kami belum selesai. Nantikan posting selanjutnya ya…

Tautan yang berhubungan:

Sang Madakaripura (1)

Buih Kapas Madakaripura (3)

Sweet Spot Madakaripura (4)

Tari Penyambutan Madakaripura (5)

Mengintip  Madakaripura (6)

Inilah Sang Madakaripura (7)

Sang Madakaripura (1)

Pose di depan Patung Gajah Mada

Pose di depan Patung Gajah Mada

Canon EOS 550DCanon EF 50mm f/1.8 II

1/250s f/2.5 at 50mm

Akhir minggu kemarin saya berkesempatan Tadabbur Alam. Hehe… ya, saya diajak senior PPDS Andrologi untuk berjalan-jalan ke Air Terjun Madakaripura. Ada yang pernah dengar? Bagi teman-teman pembaca yang tinggal di Jawa Timur saya rasa pernah sesekali mendengar nama air terjun yang katanya disebut sebagai air terjun terbagus di Jawa Timur.

Saya pribadi sangat tertarik dengan tawaran ini. Saya lama tinggal di Malang dan sering bermain ke air terjun sekitar Malang. Pernah juga ke Air Terjun Sedudo yang terkenal di daerah Nganjuk sewaktu stase di RS Kusta Kediri. Rasa penasaran pun menggelitik saya. Lagipula saya sudah terlalu lama memanjakan badan saya. Badan ini perlu diregangkan dengan sedikit petualangan alam. Maka saya terima tawaran senior saya ini, dan berangkatlah kami.

Kami berangkat pukul 7.00 dan sampai sekitar pukul 9.30. Masih relatif sepi. Adanya patung Maha Patih Gajah Mada menggoda kami untuk berfoto bersama sejenak sebelum memulai perjalanan yang cukup melelahkan untuk sampai di Sang Madakaripura.

Air Terjun Madakaripura berada di Probolinggo. Tepatnya di desa Sapih, Kecamatan Lumbang. Kalau kita menuju Probolinggo dari Pasuruan kita akan menemui pertigaan Tongas menuju ke Lumbang. Sesampainya di pasar Lumbang, kita belok kanan dan jalan masih naik lagi sekitar 10 km (meskipun ada tulisan di pinggir jalan yang menyebutkan jarak tinggal 5 km, saya rasa itu hanya pemberi harapan palsu. hehe…). Area Madakaripura berada di sekitar 620 m di atas permukaan laut. Ketinggian Air Terjun Madakaripura sekitar 200 m. Tetapi yang membuat saya tercengang adalah deretan air terjun yang menyambut kami sebelum sampai di Sang Madakaripura.

Bagaimana perjalanan kami menuju Sang Madakaripura? Tunggu posting selanjutnya.

Tautan yang berhubungan:

Jeram Madakaripura (2)

Buih Kapas Madakaripura (3)

Sweet Spot Madakaripura (4)

Tari Penyambutan Madakaripura (5)

Mengintip  Madakaripura (6)

Inilah Sang Madakaripura (7)

Osteoarthritis lutut

Osteoarthritis lutut (OA lutut) adalah penyebab paling umum dari nyeri lutut pada orang lanjut usia (lansia). Sebagian besar OA lutut disebabkan karena penggunaan sendi lutut yang terus-menerus dan akhirnya sendi lutut sampai pada kondisi aus, terutama mereka yang memiliki berat badan ekstra. Pada beberapa kasus, OA lutut dapat disebabkan karena trauma dan infeksi pada sendi lutut bahkan bagi beberapa penderita, OA lutut adalah kondisi yang bersifat genetik (diturunkan).

Wah, sampai genetik juga ya, Dok. Apa gejalanya, Dok?

Penderita OA lutut memiliki keluhan nyeri pada lutut, terutama ketika jongkok dan naik turun tangga. Pada beberapa kasus yang berat bahkan berjalan biasa juga menimbulkan rasa nyeri. Kondisi ini berlangsung beberapa lama hingga akhirnya akan memberikan keterbatasan. Sendi lutut sering kaku dan sulit digerakkan. Berjalan jarak jauh atau dengan durasi yang lama yang biasanya tanpa masalah, mulai menjadi masalah. Nyeri lutut ini biasanya mereda dengan istirahat.

Begitu ya, Dok. Bagaimana kok bisa OA lutut menjadi rasa nyeri, Dok?

Oke. Sendi lutut adalah sendi terbesar di tubuh kita. Dan sangat kompleks. Sendi lutut ini harus kuat untuk menopang tubuh kita (dengan berat badan kita) sehingga kita bisa berdiri tegak, sekaligus berfungsi sebagai engsel agar kita bisa berjalan, dan fungsi ekstra sebagai peredam kejut bagi tubuh kita kita bisa melakukan aktifitas lainnya, seperti olah raga.

Pada OA lutut, proses yang terjadi adalah kartilago yang merupakan bantalan alami dari lutut tidak berfungsi dengan baik karena permukaannya menipis dan kasar. Hal ini seperti yang telah disebutkan di atas, bisa disebabkan karena banyak hal, diantaranya trauma, penggunaan terus menerus, berat badan yang berlebih, bahkan genetik.

View full article »

I was a kid.

Sejak kecil cita-cita saya selalu menjadi dokter. Kisah tentang kakak perempuan saya yang meninggal saat dilahirkan meletupkan niat yang semakin bulat. Maka di dalam kepala saya hanya ada satu masa depan bagi saya, dan saya berjuang untuk itu.

Then, I was a medical student.

Maka saya bangun cita-cita saya berikutnya. Menggali potensi yang saya miliki. Mencari kebermanfaatan bagi masyarakat. Kenapa mencari yang bermanfaat bagi masyarakat? Karena itulah tanggung jawab kita sebagai makhluk sosial. Dan memiliki kemudahan untuk berinvestasi sosial di masyarakat adalah privilige seorang dokter, bukan? Maka saya tetapkan pilihan pada spesialis andrologi.

Kenapa andrologi?

Yakin mau jadi androlog?

Androlog lho bla bla bla…

Kenapa ndak yang lain?

Kamu punya kesempatan di tempat lain.

Sayang sekali kalau hanya menjadi seorang androlog...

Now I (still) will fight to be an Andrologist.

Menjadi spesialis andrologi. Dan di tengah pergumulan sekolah spesialis pun telah muncul cita-cita berikutnya.

Kita manusia yang (seharusnya) tidak pernah berhenti bercita-cita. Dan berkarya. Bukankah Allah telah menganugerahkan harta tak ternilai? Apa? Akal. Maka inilah obligasi Allah pada kita. Berkarya. Kita lah yang paling mengenal diri kita. Keraguan, cibiran, kekecewaan sudah pasti ada. Tapi bukan menjadi dinding (mental block) yang menghalangi kita.

Ketika kita kecil dulu kita tidak berpikir yang aneh-aneh. Kita hanya berpikir bahwa kita bisa. Selesai perkara.

Maka tetapkan tujuan, berjuang 200%, tidak, bahkan 1000% untuk mencapainya. Pantaskan diri kita untuk meraih cita-cita kita. Dan nantikanlah melodi semesta mengalun mengiringi langkah kita. Ada yang menyebutnya mukjizat. Ada yang menyebutnya keberuntungan. Ada yang menyebutnya semesta mendukung.

Bila tidak tercapai? Mungkin kita belum mencapai cita-cita kita. Mungkin memang bukan kesana arah hidup kita. Tapi. Tapi bukankah kita telah berinvestasi pada diri kita? Investasi mahal yang akan bermanfaat, menjadi apapun kita, berada di titik mana pun kita. Apa itu? Kita telah menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Itulah nilai dari sebuah PERJUANGAN.

Pengalaman menyetir di Surabaya ya seperti yang tergambar di foto ini.

Klakson dibunyikan setiap saat, bahkan tepat saat lampu merah menjadi hijau. Saat jalan sedang lengang pun klakson tetap terdengar. Untuk memastikan tidak ada yang menghalangi jalannya?
Entahlah.
Lampu hazard jadi senjata untuk dapat berhenti semaunya sendiri di pinggir jalan dalam waktu yang lama.
Bila ditegur akan dibalas kilahan ketus.
Dan kita memang sering lupa ada fasilitas lampu sein. Kedua lampu ini memang lebih sering mati, mau bermanuver seperti apapun.

Sikap kita dalam berlalu lintas sering dapat dijadikan gambaran sikap kita dalam kehidupan sehari-hari. – with Nina

View on Path

%d bloggers like this: