Category: Sastra


Renungan Sore

View on Path

(Cinta) Realitas VS Impian

Cinta adalah satu kata paling absurd di dunia. Nyaris tanpa definisi. Meski para pujangga tak pernah berhenti berusaha memaknainya.

Bagi saya, cinta adalah kontrak hubungan satu arah. Tidak berlaku hubungan timbal balik. Pun membutuhkan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Karena itu, cinta di dunia ini hanya ada dua bentuk utama.

Pertama. Cinta kepada Tuhan, maupun esensi pencipta yang dipercayainya. Lihat saja betapa kita memohon, menumpahkan curahan hati, kadang berkeluh kesah dalam sisipan doa kita. Cinta yang tanpa syarat dan tak meminta balasan.

Kedua. Cinta berdasarkan darah. Cinta kepada orang tua dan anak. Lihat saja, tanpa menuntut apapun, kita telah jatuh cinta pada anak kita bahkan di detik pertamanya menghirup udara. Lagi-lagi cinta tanpa syarat. Tak menuntut kembali cinta.

Lantas bagaimana bentuk cinta yang lain?

Entahlah. Kadang, cinta yang lain itu tidak pernah berhenti dihiasi keinginan, tuntutan, dan nuansa manusiawi lainnya.

Kadang, itu membuatnya begitu berwarna dan tampak berharga.

Kadang, itu membuat perih dan kepahitan sempurna. Ketika impian tak menemui realitas. Atau realitas yang menghantam. Telak.

Maka, cinta itu seharusnya tak bersyarat.

Tapi, kita akan selalu mementingkan cinta. Begitulah manusia. Begitulah juga saya.

Dicky, 2014

Inggris, Ilusi Sophia

Tercenung aku menatap layar ponselku. Sebuah hashtag yang mengusikku. #InggrisGratis. Ah Inggris. Inggris merupakan antithesis dalam kehidupanku. Aku ingin tapi pun tidak ingin. Benakku menolak kata Inggris. Tapi sebesar penolakan itu pula hasratku untuk ingin mencari tahu lebih banyak.

Semua gara-gara akun selebtwitter itu. @aMrazing. Dia yang sepertinya meluncurkan ide gila ini. Ke Inggris gratis selama 9 hari. Dan rasanya 9 hari itu cukup memberiku jawaban. Akan ada banyak blank spot dalam hidupku dapat terjawab. Hatiku terus menimbang-nimbang. Siapkah aku untuk menerima kenyataan? Siapkah aku untuk segala konsekuensinya? Termasuk… hilang?

Bagaimana dengan Jo? Dia pasti tidak setuju. Kalau Devita… dia harus tahu. Dan kalaupun aku harus ikut kompetisi ini, Devita-lah yang akan mengikutinya.

“Letakkan dahulu ponselmu. Lanjutkan latihannya.” Ibuku mengingatkan dari dapur. Ah beliau selalu tahu kalau aku menyempatkan menjelajah lini masa twitter di tengah-tengah latihan pianoku.

“Baik, Bu. Ngetwit satuuu lagi aja Bu…” balasku sambil segera mengetik sebuah tweet. Aku tidak berani berbicara langsung dengan Devita tentang ini. Reaksinya tidak bisa kuprediksi. Biarlah lewat twitter saja.

@devita13 devi, coba buka link ini, dan pikirkan. Ini kesempatan langka dan kita harus mengejarnya… http://misterpotato.co.id/ – 15:12, 27 May 2014

Dan kulanjutkan latihan pianoku. Kubiarkan jemariku melayang dan menari di atas tuts piano sembari membayangkan Inggris dan sebuah kenangan di masa lalu. Kumainkan lagu Yesterday milik Beatles dan bersenandung…

Why he… had to go I don’t know! He wouldn’t say…

I said… something wrong! Now I long for yesterday…

*** Continue reading

Tunggu Rama, Maryam

“Rama… terima kasih.” Sahut perempuan berkerudung yang paling cantik sedunia di layar laptopku. Sayang, matanya sedang berkaca-kaca sehingga bahkan aku tidak tahan meneruskan pembicaraan ini. Kuputuskan untuk segera mengakhiri percakapan.

“Bunda, Rama ngantuk. Titip salam kecup untuk Maryam ya…” ucapku lirih.

Seakan memahami yang kurasakan, perempuan itu membalas, “Nanti akan bunda sampaikan. Rama jangan capek-capek ya. Diminum jinten hitamnya. Biar nggak mudah sakit. Bunda off dulu ya Rama. Masih harus menyelesaikan bab dua nih.” Ah istriku memang selalu cerewet tentang segala hal yang berkaitan dengan kesehatanku. Bahkan di tengah kesedihannya pun yang dia ingat selalu aku yang malas minum obat. Dia sering mengingatkan untuk minum suplemen kesehatan yang berjejer rapi di meja kerjaku. “Rama ini dokter tapi kok gampang sakit.” Katanya suatu ketika.

“Oke Bunda. Assalamu’alaykum…” ujarku yang dibalas salam lembut.

Aaahhh… Perlahan kupejamkan mataku sembari menyandarkan punggung. Aku lelah. Lelah dengan berbagai tugas di Rumah Sakit. Lelah dengan berbagai masalah di bisnis kulinerku. Lelah dengan kerinduanku yang tak kunjung surut pada istriku, Dewi, dan tentu saja buah hati kami, Maryam.

Sambil terpejam, aku mengingat momen satu setengah tahun yang lalu…

***

“Rama… Alhamdulillaaah… Bunda diterima!!” Itulah kalimat istriku pertama kali di telpon siang itu. Teriakan lebih tepatnya. Mendung seketika sirna oleh kebahagiaan yang terpancar dari deretan cerita istriku selanjutnya.

“Jadi ya Rama… barusan Bunda tes wawancara. Yang wawancara Pak Agus, Kepala Jurusan Biologi. Pak Agus yang dulu ngasi rekomendasi buat Bunda S2 ke IPB Rama. Bayangin aja Rama, bukannya wawancara kita malah ngobrol lho. Alhamdulillah dimudahkan sama Allah. Habis itu Pak Agus langsung bilang kalau Bunda diterima jadi dosen. Meski mungkin menunggu pengumuman resmi sih.” Cerocos istriku.

Continue reading

Ayah Terhebat

Ayah Terhebat

“Ayah… kata Kakak, Ibu ada di Surga. Surga itu di mana sih, Yah? Di mana-nya laut, Yah?” Tanya Anisa yang menatap laut, lalu menoleh menatap Ayah.

Ayah yang memangku Anisa menunduk menatap mata bulat Anisa, tersenyum. Entah sudah berapa tahun ia menghadapi pertanyaan anak bungsunya ini. Selalu pertanyaan yang sama. Awalnya ia bingung, mana bisa dirinya yang tidak sekolah ini menjawab pertanyaan seperti itu. Tapi saat itu, juga saat ini, ia menjawab, “Surga itu… ada di sana, Anisa. Itu, yang laut sama langit jadi satu.”

“Garis yang panjaaaaaaaang itu Yah? Jauh sekali ya…” Sahutnya.

“Ah Adik belum ngerti. Kakak sudah diajarkan di sekolah, di mana itu Surga.” Ujar Rizki, Si kakak yang sedang tengkurap memeluk besi untuk mengikat sauh kapal yang berlabuh.

Anisa menatap iri kakaknya. Lalu merajuk, “Yah, Anisa juga ingin sekolah. Teman-teman sudah sekolah. Anisa belum boleh sekolah ya, Yah?”

Ayah tersenyum getir. “Anisa yang sabar ya. Nanti kalau Ayah sudah punya uang, Ayah akan bawa Anisa ke sekolah dan Anisa akan sekolah…” Janji Ayah. Entah sudah berapa kali, batin Ayah berjanji.

“Dik, Nanti kalau Adik sekolah, tenang aja. Kakak ajarin. Kakak pinter lho!!” sahut Si sulung, bangga. “Kata Bu Guru, Yah, kalau kita pintar, kita akan bisa menggenggam dunia!” ujar Rizki semangat.

“Menggenggam itu apa Yah?” Tanya Anisa.

“Menggenggam itu memegang, Dik. Nih, seperti kita memegang apel.” ujar Rizki sambil tangannya tergenggam dan mengacungkan lengannya ke atas.

“Tapi tangan Kakak kan kecil. Mana bisa Kakak memegang dunia?” Tanya Anisa lagi.

“Dik, kata Bu Guru, kalau kita pintar, nanti semua orang di dunia akan hormat sama kita. Kita bisa jalan-jalan kemana-mana. Kita akan punya banyak uang. Jadi orang hebat!! Artinya, kita menggenggam dunia!!” Ujar Rizki antusias. “Keren kan Dik? Trus kita akan bisa beli semuanya. Makan enak. Kita bisa beli ayam goreng kesukaan Adik tiap hari. Baju, rumah, mobil. Semua kita beli.” Sahut Rizki antusias dan penuh semangat.

“Ayam goreng? Tiap hari? Waaaa… mau!! Adik bosan sama teri.” Mata Anisa membulat senang. Lucu. “Kalau untuk ayah kita belikan apa, Kak?” Ayah yang sedari tadi tersenyum lantas tersentak. Hatinya mau tidak mau ingin tahu celoteh lucu apa lagi yang akan keluar dari mulut polos Si Sulung.

“Untuk Ayah, kita belikan motor aja Dik. Biar Ayah ndak perlu pinjam sepeda ke Pak Santok. Kita juga belikan baju bagus biar Ayah tambah ganteng.” Rizki semangat.

“Kapal, Kak. Biar Ayah bisa cari ikan sendiri. Kita beli yang bagus ya Kak…”

Ayah tersentak mendengar percakapan kedua anaknya. Motor, baju, dan kapal. Begitu sederhana. Matanya berkaca-kaca.

“Kakak, sini duduk di sebelah Ayah.” Ayah mengajak Rizki duduk di sebelahnya. Sekejap, tangan kirinya memeluk erat Anisa di pangkuannya, dan tangan kanannya menarik Rizki ke pelukannya.

“Ayah kok tahu-tahu peluk adik? Ayah kangen ibu yaaa…” Anisa menggoda Ayah.

“Kalian tahu ndak. kalau Kakak ingin menggenggam dunia, Ayah bisa memeluk dunia.”

Kok bisa Yah? Mana buktinya?” Rizki penasaran.

“Ini sekarang Ayah sedang memeluk dunia!!” Sejenak Ayah menikmati dunianya. Ya, dua malaikat kecil inilah dunianya. Air matanya menetes bangga. Ia menatap baju kedua anaknya yang lusuh. Lebaran kali ini pun ia masih belum bisa membelikan baju untuk mereka. Ia tidak bisa membawa mereka jalan-jalan. Pun dengan sepeda pinjaman, ia hanya mampu membawa mereka ke pantai dan menikmati matahari terbit bersama.

“Ayo Kakak harus jadi orang pintar ya. Bukan untuk menggenggam dunia. Tapi agar bermanfaat untuk orang lain.” Ujar Ayah sambil mengecup ubun-ubun Si Sulung. Ini doa Ayah Ibu, Nak.

“Iya Yah. Kemarin, pas pulang, Bu Guru memanggil Rizki. Kata Bu Guru, Rizki punya Ayah yang hebat. Jadi Rizki harus belajar keras agar menjadi orang pintar.” Ujar Rizki dalam pelukan Ayah.

Ayah menatap mata Rizki dengan terharu. “Lalu Kakak bilang apa sama Bu Guru?”

“Rizki bilang, iya Bu. Ayah Rizki adalah ayah paling hebat!!” ujar Rizki sambil tersenyum bangga.

Ayah menangis terharu. Terima kasih, Tuhan, Engkau titipkan dua malaikat-Mu sebagai duniaku.

by: Dicky_dev
@Surabaya, 190913
#PeopleAroundUs day 9

Canon EOS 550DCanon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS

1/25 f/29 at 135mm

Foto ini Saya ambil di Pantai Boom Banyuwangi, Lebaran lalu. Pose sang anak menarik perhatian saya. Cukup menarik untuk foto Human Interest

Cinta Si Mbok

Cinta Si Mbok

“Mbok… Mbok ndak perlu dagang lagi. Agus sudah bisa membiayai hidup Mbok sekarang…”

Si Mbok berhenti berkemas. Beliau menoleh padaku sekarang. Ah, senyum teduh itu lagi. Aku tahu ini saatnya berhenti memohon. Senyum Si Mbok, ibuku, punya kekuatan. Senyum ini yang telah menemani 25 tahun hidupku hingga kini. Si Mbok tidak pernah marah, namun senyum Si Mbok pernah menghantam lemas seluruh sendi tubuhku saat beliau menerima surat panggilan dari sekolah, karena aku tawuran. Si Mbok jarang menegur, tapi senyum Si Mbok yang menyentak maluku saat beliau memergokiku dan teman-teman nonton film porno di rumah.

Senyum Si Mbok selalu tanpa kata, tapi penuh makna. Senyum yang sama menjadi peganganku saat semangat hidupku hancur berkeping-keping karena tidak lulus Ujian Nasional SMA. Senyum yang selalu mengangkatku berdiri dari jatuh. Senyum yang menyesap sejuk saat aku menangis patah hati. Senyum beliau yang menyulut jingkrak banggaku saat aku diterima bekerja, meski hanya sebagai sopir taksi. Senyum yang selalu mampu menegakkan kepalaku percaya diri saat aku ingin tunduk rendah diri.

Si Mbok selalu punya cara berkomunikasi denganku, meski tanpa aksara. Si Mbok percaya aku mampu memahami tiap guratan senyum beliau. Si Mbok punya senyum orisinal. Senyum Si Mbok memiliki jutaan makna, kristalisasi manis getir hidup Si Mbok. Aku menahbiskan senyum Si Mbok sebagai senyum teduh nomor satu di dunia.

Aku enggan berpaling. Kunikmati senyum Si Mbok sepenuhnya. Menarik nyaris semua otot wajah yang kendor termakan usia, menegaskan guratan keriput yang selalu aku banggakan.

Si Mbok meneruskan berkemas, lalu bangkit dengan sedikit susah payah. Aku bantu Si Mbok memanggul dagangan mainannya. Setelah aku salim takzim, Si Mbok berjinjit mencium pipi kanan dan kiriku, diakhiri sebuah bisikan … yang lalu diakhiri sebuah pamit.

“Mbok berangkat dulu, Le… Assalamu’alaikum…”

***

Sore ini, aku duduk di latar Museum Kereta Keraton, Jogjakarta. Menanti segelas es cendol, kutatap wajah ramah yang menyapa setiap pengunjung yang lewat. Wajah teduhnya bahagia, senyumnya merekah, apalagi kalau ada anak kecil yang tertawa riang setelah membeli mainannya. Aku mengerti, Mbok. Aku sekarang mengerti.

Kubawa segelas es cendol untuknya, sambil melangkah terngiang bisikan Si Mbok…

“… Mbok seneng lihat anak-anak bisa ketawa pas main mainan dari Si Mbok. Si Mbok cinta, Le, sama pekerjaan ini …”

Aku menemukan senyum paling indah nomor dua. Tetap senyum Si Mbok. Tapi kali ini karena beliau mampu berbagi bahagia dengan orang lain. Senyum nomor satu, (harus) tetap milikku…

Didedikasikan untuk jutaan senyum ibu… Betapa kita merindukannya…

by: Dicky_dev
@Surabaya, 130913
#PeopleAroundUs day 3 

Canon EOS 550DCanon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS

1/100 f/5.6 at 75mm

repost dari Penjual Mainan

Bapak sayang si-Nduk

Bapak sayang si-Nduk

Nduk-ku…

Anakku yang paling manis…

Bagaimana kabarmu, Nduk?

 Bapak resah dan rindu

Bapak sekarang sudah dapat pekerjaan

Bapak bekerja pada juragan ikan laut

Pekerjaan Bapak menyenangkan

Tiap Shubuh, Bapak ke pantai, Nduk…

Bapak tugasnya memilih ikan yang baru saja diambil nelayan di laut

Ikannya banyaaaak

si-Nduk suka ikan, kan?

Menyenangkan, kan?

Ah kalau si-Nduk liburan, si-Nduk harus main ke sini yaa…

dan…

Bapak minta maaf, Nduk..

Bapak belum bisa pulang lebaran ini

Bapak belum diizinkan pulang kampung, Nduk…

Tapi Bapak sudah bisa kirim uang untuk uang sekolah si-Nduk

Juga untuk menebus kain seragam si-Nduk dari sekolah

Jangan sedih ya, Nduk…

Bapak juga kangen sama Nduk…

Kalau si-Nduk kangen Bapak, si-Nduk ke pantai aja

Bapak tiap pagi duduk di pantai

Bapak sama si-Nduk lihat pantai

Kita melihat laut yang sama

Kita bertemu di laut yang sama

Bapak sayang si-Nduk

by: Dicky_dev
@Surabaya, 120913
#PeopleAroundUs day 2 

Canon EOS 550DCanon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS

1/25 f/29 at 135mm

Piramida

Mati sudah,

Lepas… ia pergi

Terbang tak bersayap

Lari tak terjejak

 

Mungkin ia di sana

Atau di situ

Bahkan mungkin di sini

Tapi tidak kemana-mana

Karena janji harus ditepati

Meski lelah terombang-ambing

 

Mati sudah,

Kakiku kaku

Lelah berlaku

Tetap, kontan

Dalam deras aliran waktu

Habis… terluka

 

Sejenak ia melangkah

Menuju ke arah-Nya

Meski sakit tetaplah mendera

by: Dicky_dev
@Malang, 020403

Bunga

Dulu, kau tempatku merona

Tepat di sana, di ujung jalan

Tempat kutuangkan jutaan resah

Hari demi hari tiada luang

Titik demi titik tiada hilang

Pusaran demi pusaran, demi jelang

Tibalah kini saatnya

Engkau dipetik sang pecundang

Sosok yang bahagia

Seribu tahun lagi pun ku takkan pernah lupa

 

by: Dicky_dev
@Surabaya, 100913, L-Fash dini hari
A Couple - Afternoon of Sanur Beach

A Couple – Afternoon of Sanur Beach

Tahukah rasa yang demikian kering?

Meski teramu sempurna

Meski terbalut istana

Meski terbumbu tawa

Demikian ia kering

Terngiang kenangan

Awal indah berangan-angan

Kini bersimbah butir kegelisahan

Pernikahan layaknya sekam

Liburan pun hanya mencekam

Bersama tapi hampa

Berdua namun tak saling mendamba

Sampai kapankah kami mampu mendekam

Dalam sekam?

 
by: Dicky_dev
@Surabaya, 150913
#PeopleAroundUs day 5

Canon EOS 550DCanon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS
1/250s f/7.1 at 80mm

Salah satu scene yang tidak bisa saya lepaskan. Saat petugas hotel telah sibuk melipat kursi pantai dan membereskan payung-payung pantai, pasangan ini tetap cuek menikmati suasana sore Pantai Sanur.

%d bloggers like this: