Category: Related Story


Dok… Saya baru tahu hari ini hari Dokter Indonesia. Selamat ya Dok… Semoga Dokter bisa terus menjadi dokter yang baik dan mengabdi ke masyarakat.

Dokter yang baik…
Saya tahu saya bukan siapa-siapa. Hanya salah seorang masyarakat biasa. Perantau yang setelah bekerja keras bertahun-tahun, akhirnya bisa punya toko sendiri, jual alat olahraga. Toko kecil, Dok. Alhamdulillah berkah.

Tinggal di perantauan dengan berkecukupan tidak membuat saya bahagia. Justru bertahun-tahun saya resah pada orang tua saya di desa terpencil di Jawa. Ayah saya sudah sepuh. 90 tahun, Dok. Ibu saya juga. 78 tahun.

Continue reading

Advertisements

Saya menghadiri wisuda pascasarjana ITB di Sabuga. Awalnya saya akan menyangka bahwa acara ini akan sangat-sangat membosankan. Dan awalnya memang iya. Bahkan saya tertidur. Hehe…

Tetapi ada satu atau dua atau tiga catatan saya yang membuat hati saya sangat terkesan. Apa itu?

Pertama. Dua sayap di podium ini sangat khas. Sayap kiri dihadiri Lingkung Seni Sunda didampingi para pimpinan program studi. Di tengah adalah Majelis Wali amanat, senat akademik, dan Majelis Guru Besar. Sayap kanan adalah Paduan Suara Mahasiswa didampingi Keluarga Paduan Angklung.

Continue reading

Sepotong Kenangan Spesial

Selasa, 21 Agustus 2012

“Dok, keluarganya bu Musi datang. Beliau bilang bu Musi sesak dan kakinya bengkak.” -08.30

“Waduh Mbak. Saya kalau tidak periksa tidak bisa melakukan apa-apa. Bukankah sekarang jadwal praktek dr. Nani? Apa beliau tidak hadir?” -08.31

“Tidak ada, Dok. Ini saya bingung bagaimana.” -08.31

“Mbak. Beri KIE ke beliau. Sesak pada pasien dengan riwayat payah jantung bisa karena paru-paru, bisa pula karena jantung. Apakah beliau masih rutin mengkonsumsi furosemid?” -08.33

Continue reading

Kemarin saya sudah bahas tentang kopi. Nah kali ini saya akan bahas tentang hipertensi. Kenapa dengan hipertensi? Hehehe…
Beberapa minggu yang lalu, ada dua penelitian yang menarik perhatian. Kedua penelitian ini dipresentasikan pada American Society of Hypertension (ASH) 2012 Scientific Sessions, yaitu tentang pengaruh musik dan terapi relaksasi terhadap tekanan darah. Nah! Kesimpulannya? Ternyata pada satu studi, mendengarkan Mozart di ruang dokter dapat menurunkan tekanan darah, di lain pihak, studi yang lain menyimpulkan program reduksi stres tidak signifikan menurunkan tekanan darah. Kedua penelitian ini diikuti oleh pasien sehat dengan hipertensi tahap 1.

Pada penelitian pertama, Dr Giuseppe Crippa (Ospedale Guglielmo de Saliceto, Piacenza, Italy) mengukur tekanan darah menggunakan automated office blood-pressure (BpTRU BPM-100, Quick Medical) sementara pasien duduk di kursi mendengarkan musik klasik, musik rock, atau tanpa musik. Ternyata mereka menemukan, musik rock, khususnya “Bicycle Race” oleh band Queen, meningkatkan tekanan darah, sementara Adagio-nya Mozart menurunkan tekanan darah.

Continue reading

A new meta-analysis, including the most contemporary studies that have examined coffee consumption and risk of cardiovascular events in a general population, has found that moderate intake may help protect against ischemic stroke.

Dalam presentasinya pada European Society of Hypertension (ESH) European Meeting on Hypertension 2012, Dr Lanfranco D’Elia (Federico II University of Naples, Italy) menyatakan: Poin pertama adalah konsumsi kopi tidak berkaitan dengan peningkatan risiko stroke. Poin kedua, analisis kami menunjukkan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah minimal sampai sedang–satu sampai tiga cangkir per hari–dikaitkan dengan penurunan risiko stroke pada populasi umum di beberapa wilayah meliputi Eropa, USA, dan Jepang.

Meskipun D’Elia mengakui hasil analisis ini masih memicu perlu ditelaah lebih lanjut, namun dia menekankan bahwa “one coffee a day is not dangerous for people with heart disease.”

Continue reading

Salah satu resolusi manajemen Rumah Sakit di Indonesia

Borobudur

Ah ya.
Sebenarnya posting ini hanya untuk mengisi waktu perjalanan Semarang-Jogja. Naik travel Cipaganti ku duduk di belakang. Di samping pak… ow. Oke. Fokus.

Trip ke Borobudur sebenarnya sudah beberapa kali saya lakukan, eh saya kerjakan, eh kenapa diksi nya terdengar aneh. Yah pokoknya begitulah. Saya sudah beberapa kali ke Borobudur. Kalau bicara Borobudur pasti mikirnya candi kan? Bukan hotel kan? Apalagi minimarket. Ah. Oke. Fokus dicky.

Cuma mau posting beberapa foto di Candi Borobudur. Cuma tiga foto sih. Dan sudah saya share via Instagram sebenarnya. Tetapi kan tidak semua bisa pakai Instagram. Jadi saya buat posting tersendiri saja.

image

Salah Satu Sudut Borobudur

Ini adalah foto di salah satu sudut Candi Borobudur. Sesungguhnya terlalu banyak objek foto yang bisa di foto. Apalagi saya sebagai modelnya. Hehe… Candi Borobudur memang terlalu indah.

image

Cerita Di Dinding Candi Borobudur

Dinding Candi Borobudur memiliki pahatan yang bercerita. Foto ini adalah salah satu yang terpotret kamera saya.

image

Langit Borobudur

Inilah salah satu pemandangan langit Borobudur. Dengan deretan stupa. Indah.

Sekali lagi. Terlalu banyak yang bisa direkam. Tetapi tiga foto inilah yang menurut saya mewakili keindahan Candi Borobudur. Kapan-kapan saya ingin menikmatinya dalam frame DSLR. Hehe…

Status: dizziness on Semarang-Jogja

Posted from WordPress for Android

It is interesting..

Ghost Cities

Easter is at once both an interesting and a mysterious time. One the one hand it is undeniably one of the most important Christian festivals of the year but on the other it has a wide range of baffling imagery related to it – eggs, the Easter Bunny, chocolate – even the very date of Easter Day differs on a yearly basis. Where did it all come from and what does it mean? Well, the word ‘Easter’ comes from the Old English Eostre or Ostara, the name of a Germanic pagan goddess. During Ostarmonath (the Anglo-Saxon equivalent of April) feasts were held in Ostara’s honour among the then pagan inhabitants of Britain. Ostara was a major deity among the early Germanic tribes (her name still survives in the form of modern Austria) and represented, among other things, the dawn, rebirth and light. As such she was closely related to the…

View original post 837 more words

Kamis lalu (29 Maret 2012) saya berkesempatan menikmati sore di warung Ikan Bakar Daoen. Sedikit yang tahu, bahwa sang pemilik Bakpao Telo yang terkenal itu memiliki sebuah warung dengan view yang menakjubkan.

salah satu view dari Warung Ikan Bakar Daoen

Warung ini terletak di sebelah utara dari toko Bakpao Telo. Bila dari arah Malang, terus menuju arah Surabaya, nanti setelah melewati pos Polisi di kanan jalan, akan ada tulisan Warung Ikan Bakar Daoen dan kita belok kanan.

Sebenarnya tidak pantas juga disebut warung karena tempat makan ini lumayan mewah. Menurut beberapa informasi yang saya dapatkan, pemilik Bakpao Telo ini memiliki lahan kosong di belakang tempat pelatihan yang didirikan bagi mereka yang ingin mempelajari budidaya telo. Lahan kosong ini digunakan untuk menampung koleksi bonsai yang cantik. Akhirnya, sekalian saja dibuka menjadi tempat makan yang lengkap, ada gazebo, kolam, dan ada pilihan lesehan.

Salah satu sisi yang dihiasi patung dan deretan bonsai menemani gazebo lesehan

Untuk pilihan menu sebenarnya hampir sama dengan menu yang tersedia di Bakpao Telo. Hanya di sini ada menu ikan bakar. Secara keseluruhan, tempatnya yang nyaman merupakan daya tarik. Sedangkan rasa, sepertinya tidak terlalu istimewa. Harga pun tidak terlalu mahal.

Beberapa foto yang sempat saya ambil:

Kolam dengan air mancur

Mie Goreng Telo Ungu

Nah. Setelah posting Sejarah Sumpah Dokter, Saya baru sempat melaksanakan tugas untuk membuat posting Sumpah Dokter saya. Kenapa kok Sumpah Dokter sendiri saja di-posting? Karena Blog ini merupakan memorabilia kehidupan saya. Dan proses diri untuk sampai pada tahap ini (Sumpah Dokter) merupakan sebuah proses berharga untuk dikenang.

Dokter baru, Mejeng dulu

Saya melaksanakan prosesi Sumpah Dokter pada tanggal 27 Desember 2011. Prosesi yang jujur saja saya telah alami sekian belas kali. Karena saya merupakan tim Paduan Suara FKUB, maka menjadi rutinitas untuk mengiringi prosesi Sumpah Dokter. Namun, berdiri di ruangan itu sebagai tim paduan suara dengan sebagai dokter baru yang melaksanakan Sumpah Dokter, ternyata sangat berbeda rasanya. Syahdu dan Menegangkan.

Berfoto Dengan Tim Paduan Suara (Dulu Mengiringi Sumpah, Sekarang Yang Disumpah)

Apalagi saya bertugas memimpin teman-teman dokter baru mengucapkan sumpah. Tiap diksi memiliki tekanan tersendiri pada nurani saya. Di sinilah segalanya dimulai. Pada detik Sumpah itu selesai dibacakan, itulah momentum semesta berhenti berputar menyaksikan kumpulan kecil kami. Di titik inilah langkah kami dimulai. Dengan arah yang berbeda-beda. Namun tetap sebagai rekan sejawat.

Tri Cowok Surgery Jayyeee

Kelompok kecil kami kini adalah kepingan puzzle. Ada yang telah tersusun pada tempatnya, namun masih ada pula yang masih bergelitak-gelituk mencari arah. Semoga di masa depan, kepingan puzzle kami menjadi sebuah gambaran utuh dimana menjadi impian setiap teka-teki semesta. Indah. Cantik. Saling melengkapi.

Inilah patah kata saya. Untuk jemejak kenangan indah.

Dicky.

Dokter Baru FKUB (271211)

%d bloggers like this: