Category: Brainstorming


Dokter Itu Karakter

Beberapa pekan sebelumnya, saya berkesempatan menjadi tutor modul skill. Kali ini tentang history taking. Karena materi ini diberikan kepada mahasiswa semester satu, maka di awal, saya mengawali tutorial kali itu dengan sebuah pesan, bahwa menghafal checklist itu perlu. Wajib bahkan. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana keluwesan kita dalam “menanya-nanyai” pasien. Bagaimana pasien tidak merasa di-‘interogasi’ oleh dokternya.

Seperti biasa, saya me-review secara keseluruhan dan men-‘coba’ beberapa mahasiswa untuk role play dengan saya sebagai pasien. Terlihat beberapa canggung bahkan sambil tersenyum bingung. Setelah mahasiswa saya lepas untuk mandiri role play, semakin terlihat kebingungan dan kecanggungan. Kalimat-kalimat bernada diktasi, seperti membaca urutan checklist, banyak jeda untuk recall –pertanyaan apa lagi yang belum saya tanyakan, apa pertanyaan saya sudah cukup, apakah pasien nyaman.

Setelah kami diskusi, muncul sebuah keluhan. Betapa sulitnya memposisikan diri sebagai dokter. Saya tersenyum.

“Dok, menanyakan pertanyaan standar saja begitu susah. Bagaimana kalau pasien dengan penyakit seksual yang mungkin semakin tidak mau terang-terangan menjelaskan kondisi sakitnya?”

Continue reading

Advertisements

Ah menanti pesawat. Pesawat saya masih satu jam lagi. Jadi mari kita menulis sesuatu. Hehe… Ini adalah naskah yang sudah lama mengendap dalam draft. Terinspirasi oleh tulisan salah satu sejawat dari Amerika Serikat, saya berusaha menyajikan tulisan ini seringan mungkin.

Teman sejawat semua yang saya banggakan. Ingatkah kita akan tugas pertama kita menangani pasien sebagai dokter? Sebagai dokter yang baru saja disumpah?

Sumpah dokter menjadi momen titik balik dalam hidup kita. Kenapa? Karena itulah masa dimana tanggung jawab dokter resmi diletakkan di pundak kita. Berupa jas putih dengan segala konsekuensinya. Sumpah dokter adalah titik dimana kita tidak bisa balik badan dan menyerah menjadi dokter.

Dan yang terlintas di benak saya saat menangani pasien pertama saya adalah: “Hemm… Betapa sudah cukupkah anmnesis saya? Lengkapkah pemeriksaan saya? Benarkah diagnosis saya? Perlu ditambah obatnya? Atau malah kurang? Bagaimana kalau pasien tidak puas dengan performa saya?”

Continue reading

Menghadapi pasien anak adalah salah satu hal yang unik sekaligus menantang. Bahkan kadang lebih terasa menyebalkan. Hehe… nah kali ini saya sudah lama tidak posting. Sembari menunggu teman sejawat saya PPDS Psikiatri menyelesaikan visite-nya, saya akan berbagi tips dan trik.

Ketika kita memeriksa pasien anak, yang dibutuhkan adalah kesabaran. Mereka bukan pasien dewasa yang bisa menerangkan jenis dan tipe nyeri. Mereka juga bukan menangis karena sakit, mungkin lebih ke arah takut dengan kita sebagai dokter. Bagi bayi, mungkin sensasi sentuhan tangan yang berbeda dengan ibundanya akan bisa membuat mereka menangis sepanjang waktu.

Maka tugas kita mengumpulkan data yang adekuat untuk menetapkan diagnosis, dengan kondisi pasien yang jelas sulit memberikan informasi. Bila kita buru-buru, bukan tidak mungkin kita hanya akan mendapati misdiagnosis dan misterapi.

Lalu bagaimana dong, Dok?

Begitu pasien bayi datang, gunakan kesempatan untuk berinteraksi dengan pasien anak. Bermain cilukba dengan pasien bayi. Memegang tangan sambil memeriksa reflek-reflek bayi. Usahakan dapatkan perhatian bayi dengan respon positif, tandanya: dia tidak menangis dengan kehadiran kita.

Continue reading

Dokter Arogan

A life in medicine is a peculiar one, and we who pursue its course are also peculiar.

Posting kali ini mungkin terasa sangat aneh. Dan akan menjadi lebih aneh karena yang menulis seorang dokter. Tetapi ini adalah proses otokritik terhadap saya pribadi, juga terhadap kolega-kolega saya.

Dokter itu arogan.

Wow. Benarkah? Kok bisa Dok? -sebagian reaksi-

Benar. Baru nyadar, Dok? -sebagian (besar) reaksi-

Mungkin memang benar. Tetapi ijinkan saya yang baru seumur jagung berprofesi dokter ini mencoba membaca fenomena ini dari sudut pandang saya pribadi. Dan pada akhirnya saya akan menyerahkan semua opini pada para pembaca budiman.

Bagi saya, dokter, bila dibandingkan dengan profesi lain, memiliki ego yang lebih besar. Lihatlah mereka yang telah menjadi role model dokter selama beberapa dekade terakhir, percaya diri, sukses, pencapaian besar dalam hidup. Faktor-faktor yang menyeret gairah sebagian besar anak muda untuk meraih profesi dokter. Sejak awal pendidikan, ada warisan turun-temurun yang diletakkan di pundak para calon dokter, PRIDE.

Continue reading

Asuransi, Solusi?

“Maaf. Kami tidak melayani pasien jamkesda.” 

Pernah kolega sejawat mendapat respon seperti ini?
Belum pernah?
Mungkin bagi sebagian yang bekerja di kota besar, dimana masyarakatnya adalah kalangan berkecukupan, kolega sejawat belum pernah mendengar respon seperti ini.

Respon ini saya dapat ketika saya harus merujuk pasien dengan riwayat kecelakaan lalu lintas. Pasien saya adalah pejalan kaki, laki-laki berusia 63 tahun. Sepulang dari kenduren beliau ditabrak pesepeda motor berusia 13 tahun.

Beliau datang malam dengan kondisi yang baik-baik saja. Namun sesuai prosedur semua riwayat cedera kepala harus diobservasi minimal 24 jam. Dan beliau kami observasi di klinik. Keesokan paginya, kesadaran pasien turun drastis. Refleks kornea dan pupil negatif. Saya segera KIE pasien untuk rujuk ke RSUD kota terdekat, lebih dari 20 km dari lokasi klinik kami.

Respon pertama keluarga pasien, “kami tidak punya uang, Dok.”

Maka salah satu keluarga berkeliling cari hutang untuk biaya CT-Scan. Saya tahu, RSUD kota tidak memiliki CT-Scan, dan dari pengalaman, pasien yang datang tanpa CT-Scan akan dikirim dengan ambulans RSUD kota untuk CT-Scan di laboratorium swasta. Akan buang waktu dan biaya ambulans akan dobel. Saya jelaskan dan keluarga pasien setuju untuk CT-Scan. Biaya ambulans klinik untuk sementara klinik yang menanggungnya. Saya telpon RSUD kota. Dan respon di atas lah yang saya dapatkan.

Continue reading

Karl Menninger, a well known American psychiatrist, had many conceptualizations regarding the mentally ill and treating them. Amongst them, was the concept that when it comes to treating our patients, our goal should be to “care” for them, rather than to “cure” them. He believed this approach to be valid for both psychiatric and medical patients.

Kesan pertama saya terhadap statement di atas adalah: WOW. Karena saya menemukan jawaban atas ke-galau-an saya beberapa saat lalu. Tentang profesi saya. Tentang bagaimana saya terhadap profesi ini.

Dokter memang memiliki tujuan utama menyembuhkan. Cure. Kita belajar empat tahun plus dua tahun di fakultas kedokteran. Belajar apa? Menyembuhkan penyakit. Kita belajar anatomi fisiologi biokimia untuk memahami how human body works. Lantas kita belajar patologi, dan berbagai macam penyakit klinis berdasarkan sistem, anatomi, untuk menyembuhkannya. Kita harus tahu how to diagnose, apa obatnya, dan bagaimana serta ke siapa merujuknya. Residen atau PPDS? Sama. Kita diajarkan bahwa tugas utama kita, tujuan utama kita, adalah melenyapkan disease. Mengobati sakit fisik pasien. To cure patient.

Continue reading

Hemm…
Kali ini saya akan posting satu draft yang sudah lamaaaa mengendap dalam blog saya. Isi awalnya adalah percakapan di twitter antara saya dengan akun anonim SiBinikiYo. Diawali kultwit akun anonim TrioMacan2000 tentang kritisi sistem pelayanan rumah sakit di Indonesia, kultwit ini bagai bola salju menggelinding merangkai opini. Kian waktu kian besar dirangkai dominasi kekecewaan dengan pelayanan kesehatan para tenaga medis.

Dalam satu kesempatan, masuklah akun anonim binokiyo ini mengawali percakapan kami, karena saya tidak bisa menahan untuk tidak berkomentar berusaha memaparkan kondisi riil di masyarakat kita di daerah (karena mungkin beliau dari kota besar, asumsi saya), namun ternyata percakapan berkembang ke arah yang tidak saya duga. Saya sertakan percakapan saya dengan binokiyo. (Yang dicetak tebal dan miring adalah Binokiyo)

Gue usul, klo dokter2 udah gak bs diatur gmana klo profesi DUKUN dilegalkan oleh negara! hehe

Loh kl sampeyan ke daerah, dokter mmg saingan sama dukun. Lulusan SD. SMP. Hehe..

Jd kl dblg prsaingan bs meningkatkan pelayanan ya silakan.. buat qt dokter d daerah sudah kenyang

Kl anda lbh prefer ke dukun masa dokter mau marah2.. hehe.. silakan mas mbak sekalian

Di daerah,ada dukun. Penjaga apotek. Bidan. Mantri. Sangkal putung. Smw memberi pelayanan medis

iyah, ituy penting…persaingan membuat masing2 profesi meningkatkan pelayanan dan kualitas! hehehe

Persaingan seperti apa yg msh diinginkan? Bknnya sudah ada?

Continue reading

“I know ECMO settings, I don’t know how to treat a painful wrist.” – Resident

Ah sudah lama sekali tidak posting blog. Maklum, sedang banyak aktifitas (atau sok sibuk? Hehe…). Nah sembari menunggu mobil saya dicuci, markimen. Mari kita menulis. Hehe…

Hari ini adik-adik tingkat saya mengikuti Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Mau jadi dokter itu capek ya. Sekolah untuk dapat Sarjana Kedokteran itu empat tahun. Isinya kuliah praktikum penelitian dan ujian. Setelah itu koass atau dokter muda di Rumah Sakit. Dengan siklus masing-masing bagian (lab/SMF) minor/kecil kisaran empat-enam minggu maka kita juga ujian tiap empat-enam minggu. Dalam satu lab kadang tidak hanya ujian satu kali, bisa sampai tiga kali. Wow! Ujian terus. Dan setelah lulus, kita ujian lagi untuk dapat Surat Tanda Registrasi. Artinya kita dianggap kompeten sebagai dokter dan siap berpraktik mengamalkan ilmu.

Tetapi, benarkah kita siap? Nah inilah pertanyaan besarnya. Saya mau sharing sedikit.

Pasien pertama saya adalah pasien batuk pilek. Sederhana, bukan? Tapi pernah kah kita mendapat pasien batuk pilek selama menjalani pendidikan profesi? Sangat jarang bahkan tidak pernah.

Continue reading

“I challenge you to make your life a masterpiece. I challenge you to join the ranks of those people who live what they teach, who walk their talk.” – Anthony Robbins

Pagi ini, seusai sahur.
Saya menyaksikan tayangan pembukaan Olimpiade London 2012. Saya melihat satu demi satu kontingen peserta Olimpiade. Sosok-sosok sumringah nan bangga. Malam itu mungkin bagi para kontingen adalah satu malam sakral dalam hidup mereka. Muda, bertalenta, dan berprestasi. Senyum seolah terpahat permanen dalam tiap langkah mereka.

Mewakili negara merupakan sebuah prestasi tersendiri. Terutama Olimpiade yang seleksinya sangatlah ketat. Maka wajar bagi para kontingen, malam ini menjadi satu momen membanggakan, mengharukan, dan tak terlupakan. Terpilih dari sekian ratus juta penduduk. Berjuang menjadi seorang Olympian.

Nah, para kontingen ini kini sedang menciptakan masterpiece dalam hidup mereka. Masterpiece berupa waktu tercepat bagi para pelari, gaya terindah bagi para pelompat indah, smash terdahsyat bagi para pebulutangkis atau posisi tertinggi bagi para pesepakbola. Masterpiece ini setara dengan gubahan Mozart, sapuan kuas Van Gogh, ataupun cinematografi karya James Cameron.

Kawan pembaca. Lihatlah. Di sekitar kita juga banyak pencetak masterpiece. Adik-adik kelas saya beberapa waktu yang lalu menggondol medali emas dan kontingen Universitas Brawijaya menjadi juara umum dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Beberapa penelitian adik kelas saya adalah temuan bahan aktif sebagai vaksin untuk diabetes, dan temuan bahan aktif sebagai terapi regenerasi stem cell. Kontingen PIMNAS juga merupakan pencetak masterpiece. Pertanyaannya: Bagaimanakah dengan kita?

Continue reading

Yup.
Datanglah posting ketiga alias terakhir dari serial posting selamat datang untuk mahasiswa FK. Kita telah bahas tentang apa yang harus kita lakukan sebelum benar-benar kuliah di FK. Selanjutnya langkah awal ketika kuliah di FK. Sekarang kita akan membahas tentang bagaimana hidup di FK.

Kuliah di FK itu keras. Benar. Bagi mereka yang belum menjalani mungkin kesannya berlebihan. Tapi cobalah bayangkan apa saja yang harus ada di kepala kita sebagai dokter yang baik. Jaringan, organ, sampai sel harus kita kenali. Baik bentuk, fungsi, maupun kelainannya. Jumlah kelainannya pun ribuan. Masing-masing kelainan memiliki tanda dan gejala. Tanda dan gejala ini tidak lantas langsung muncul sa’grenjengan pada satu pasien. Kadang hanya dua gejala yang arahnya ke satu kelainan. Tiga yang lain “punya”nya kelainan yang lain. So semrawut, tho?

Continue reading

%d bloggers like this: