Category: Brainstorming


Sudah lama sekali tidak menulis. Masih dalam proses adaptasi kehidupan di Surabaya ini. Tapi kali ini saya ingin posting tulisan yang saya buat untuk tugas MKDU.

Pada sebuah kuliah MKDU PPDS di FK-Unair, ada mata kuliah Filsafat Ilmu. Dalam mata kuliah itu, kami diberikan sebuah parameter pengukuran kualitas sumber daya manusia. Apa itu? Tiga variabel. Moralitas, Soft skills, dan Hard skill. Tiga parameter inilah yang ditarik ke ranah profesi medis, yaitu dokter, menjadi sebuah konsep impian Dokter Indonesia. Apa saja itu?
Continue reading

true!!

Ah saya tetiba ingin bercerita tentang kematian. Salah satu saudara saya, saat ini tengah berbaring di ICU dalam kondisi tidak mampu bergerak, tidak mampu makan minum, tidak mampu merespon rangsang, maupun aktifitas hidup lain. Hidup beliau kini bergantung infus dan alat bantu napas mekanik. Belum. Belum mati batang otak, saya rasa.

“Tante Sina (tentu bukan nama sebenarnya) kemarin dioperasi lagi.” Kata mama.

Ini adalah operasi kelima mungkin, saya sendiri tidak terlalu hafal. Tapi sistem perawatan yang dependen perawat di ICU dan tidak memungkinkan didampingi selama 24 jam oleh keluarga membuat putra-putrinya semakin cemas. Sampai kapan usaha medis dilakukan? Kondisi keuangan semakin menipis? Harus terus diusahakan? Sampai kapan? Apakah bisa hidup sempurna setelah sembuh?

Saya sebagai bagian keluarga besar yang juga dokter hanya bisa termenung. Saya teringat materi euthanasia pada saat kuliah kewarganegaraan maupun agama Islam jaman saya kuliah preklinik dulu. Tidak terlalu ingat bagaimana perdebatan kami dulu, namun poin yang saya ingat, euthanasia itu salah.

“Euthanasia adalah langkah yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan, pun bertindak selayak Tuhan dengan kuasa kita sebagai dokter untuk menghentikan kehidupan.” Sekilas ingatan saya akan materi euthanasia.

Continue reading

Empat Hari UNAS

“Indonesia iki yo ngono,,
Dikit-dikit mundur,,
Salah, langsung disuruh mundur,,”

“Lha memang kita itu hobinya tandur,, tanam mundur,, jadi ya mundur terus,,”

Hehe… itu kutipan guyonan khas bapak ibu guru pengawas UNAS di sekolah tempat saya menjadi pengawas satuan pendidikan. Beginilah suasana setip hari dalam empat hari kemarin. Bahkan pagi-pagi sudah muncul kegayengan yang hangat. Guyonan di atas muncul menanggapi berita di koran tentang tuntutan agar Mendikbud mundur.

UNAS, Mendikbud, dan segala permasalahannya memang sedang menjadi primadona media akhir-akhir ini. Dan sepertinya masih akan berlanjut karena UNAS SMP masih akan dilaksanakan. Semua merasa pantas berkomentar dan kadang juga mengkritisi. Siapapun dia, pelaku pendidikan, ibu rumah tangga yang anaknya ikut UNAS, sampai bapak pengemudi becak.

Tapi selama empat hari bersama bapak ibu guru ini, tidak sekalipun, muncul usul UNAS ditiadakan atau Mendikbud mundur. Beliau-beliau ini, lebih sering melontarkan ide-ide segar untuk menyelesaikan masalah UNAS. Bagaimana agar siswa-siswanya lulus semua, bagaimana agar distribusi lancar, bagaimana mekanisme tender pengadaan, bagaimana kemasan soal dan LJU agar insiden sobek berkurang, bagaimana dan bagaimana. Tentu dengan gaya super kocak.

Tentu saya tidak mengomentari ide-idenya. Karena ide-ide itu tentunya sesuai dengan pemahaman beliau-beliau di tataran pelaksana proses belajar mengajar. Bukan di tataran manajemen pengambil kebijakan. Tetapi, pola pikir beliau-beliau ini berorientasi pada solusi. Bukan pada penghakiman baik sistem maupun personal. Padahal sebagai ujung tombak pendidikan, apalagi di daerah terpencil yang sudah kenyang dengan janji-janji yang tak kunjung terealisasi, beliau-beliau ini lebih berhak dan lebih pantas di barisan terdepan, mengkritik, bicara di media tentang dugaan korupsi, bahkan menuntut Mendikbud mundur. Tapi itu sama sekali tidak muncul bahkan dalam proses bercanda santai.

“Menurut saya, soal UNAS kali ini lebih sulit dari prediksi kami. Kami itu, Pak Dokter, ingin sekali berkomunikasi dengan pak Nuh. Hanya kami tidak tahu caranya. Mau menulis di media, kami tidak percaya diri. Mungkin Pak Dokter tahu alamat email beliau? Kami ini ingin menyampaikan aspirasi. Mungkin selama ini yang dijadikan sampel adalah sekolah maju atau favorit, sedang kami ini sekolah terpencil, murid kadang ada kadang tidak. Maka kami berpikir, mungkin masukan dari kami yang kondisinya seperti ini, akan membantu pak Nuh dalam berkoordinasi.”

Wih. Kalimat bertutur yang baik, lebih mendahulukan prasangka baik. Saya, tentu saja, tidak bisa menjanjikan apa-apa. Karena memang sulit bagi kita yang di bawah untuk bisa berkomunikasi dengan jajaran atas pengambil kebijakan. Tapi yang patut digarisbawahi, sekali lagi, sama sekali tidak muncul tuntutan apapun.

“Saya tadi lihat soal sosiologi, Pak Dokter. Saya guru sosiologi. Wah luar biasa soal UNAS sekarang. Soal bisa beda semua begitu ya, padahal kisi-kisinya sama, tapi soal dan jawabannya beda sama sekali. Salut saya sama pelaksanaan UNAS tahun ini. Cuma sayang ya ada insiden distribusi soal kemarin.”

Lihat, komentarnya sangat bijak. Beliau berkomentar setelah mengawasi UNAS, melihat soalnya, mencari sisi positif, tanpa menyerang sisi negatif.

Bagi saya, komentar ini adalah komentar bintang lima.

Dialog Dokter-Pasien

Suatu ketika, bidan saya di Udanawu bertanya: ‘Dokter, bibi saya ini masuk rumah sakit. Demam sudah 4 hari, Dokter. Tapi semua hasil lab normal. Kok ndak dibolehin pulang ya Dok?’

Untuk yang belum jadi dokter sekalipun, pasti akan menemui konsultasi-konsultasi seperti ini. Dan percayalah, sangat sulit bagi kita untuk menolak konsultasi dadakan model begini. Maka seringkali kita mengiyakan, bahkan kadang memberi opini medis, padahal kita tidak berkompeten.

Kok?

Ya karena kita tidak memeriksa pasien. Dan setiap dokter selalu memiliki alasannya sendiri yang harus kita hargai atas rencana diagnosis, rencana terapi, dan sebagainya. Sebagai ilustrasi:

‘Dok, om saya sudah seminggu ini tidak boleh pulang. Beliau kata dokter kena stroke. Lha sekarang sudah sembuh, sudah bisa jalan, bicara juga sudah lumayan. Kan harusnya bisa rawat jalan aja. Sudah tiga minggu Dok di rumah sakit, biayanya cukup terasa buat kami’

Dokter: hemm… menurut saya omnya sudah bisa pulang. Kondisinya sudah bagus itu. Coba minta pulang lagi ke dokternya.

Continue reading

Dokter itu wajib mengasah rasa.

Apa itu Dok mengasah rasa?

Hehe… para rekan pembaca sekalian. Mau menyapa dulu ah… Yang masih belajar di kampus, angkat tangaaan? Yang koass, manaaa? Kalau yang sudah dokter, suaranya manaaaa? Berasa konser aja… hehee…

Sebelum mulai, mau nanya dulu nih. Kira-kira yang sudah dapat pengalaman dengan kematian siapa yaa… gimana? Gimana rasanya? Kematian di klinik dengan fasilitas minim? Kematian di puskesmas PTT? Kematian di bangsal rumah sakit yang kapasitasnya puluhan pasien? Kematian pasien home visite? Kematian pasien VIP di pavilyun?

Semua kematian itu, kawan, kian sering, apakah kian biasa? Kian tidak berkesan? Pada akhirnya, kematian hanya seperti bunyi bising motor modifikasi, berisik, keras, menyakitkan sebentar, lalu wusss… hilang.

Continue reading

Selamat pagi semua…
Hehe… Ini adalah hari pertama buka lapak sendiri. Pagi-pagi begini biasanya masih males-malesan di sofa sekarang duduk di ruang praktik, rapi.

Nah sembari menunggu pasien, saya mau berbagi tulisan. Mau? Maauu? Alhamdu… lillaaah. Eh, salah. Misfokus. Hehe…

Teman-teman pembaca sekalian, beberapa saat yang lalu, lagi-lagi akun (at)triomacan2000 men-jlentreh-kan dosa para dokter. Dalam twitnya, dokter, secara tersirat adalah sosok yang tidak profesional, menghisap uang pasien (macam vampir saja), malas visite, kalau visite tak ditengok pula itu pasien. Hemmm… berat. Sungguh berat. Bahasa kerennya nih, Bedside manner yang sangat buruk. Bahkan ada yang bilang dehumanisesyen (dehumanization kali ya. Hehe…)

Seperti apa sih Dok, yang kita bilang bedside manner yang buruk atau dehumanisesyen itu?

Continue reading

Inilah catatan jaga saya yang kedua. Selama koass 18 bulan hanya dua catatan jaga yang saya hasilkan. Keduanya saat stase obgyn. Ada apa dengan obgyn? Hehe…

Sesungguhnya banyak sekali kisah selama koass. Sayang kemalasan saat itu begitu membahana sehingga kini sejumput (ya. Hanya sejumput kok.) penyesalan menyeruak. Tapi tidak apa. Sekarang kan produktif. Hehe…

Selamat menikmati…

Ahh, Kawan,,
Tidaklah saya meniatkan untuk menceriterakan dua kali dalam sekali jaga saya ini,,
Tapi sungguh kali ini adalah cerita yang sangat penting kita ambil hikmahnya,,

Continue reading

Rhenald Kasali

Ini adalah tulisan re-post dari Rhenald Kasali. Rhenald Kasali adalah salah satu penulis favorit saya. Selalu saya nanti tulisan beliau di harian Jawa Pos. Tulisan berjudul Encouragement ini pertama kali saya baca di milis resonansi beberapa tahun lalu. Lantas muncul kembali di Jawa Pos beberapa saat lalu. Dan kali ini saya muat di blog saya.

Inilah refleksi dunia kependidikan kita.

—-

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Continue reading

Bayangkan seandainya kita begitu menginginkan es krim,, tiap hari kita idam-idamkan,, tiap hari kita melewati toko yang memajang poster es krim yg amboi begitu menggiurkan,,

Tetapi kita punya keterbatasan,, uang misalnya,, sehingga tak mampu lah kita untuk langsung membelinya,, ahh bayangkan bagaimana frustasinya,,

Lalu,menabunglah kita,, rupiah demi rupiah,, tiap teleguk ludah kita terasa manis karena kita tahu,kita menabung untuk membeli es krim,, dan bukan sembarang es krim, kawan, kata hati,, ini es krim impian kita!!

Lalu kita beli es krim,, kita buka bungkusnya,, aw aw aw, bak judul lagu saja,,gemuruh gembira,,

Bayangkan,rasanya,,
Dan itu terjadi pada seorang ibu,yang begitu menginginkan anak,,
Setelah berusaha,dapatlah ia,, hamil kata tetangga,,
Aah,aq harus yakin,, katanya,,
Maka berangkatlah ia mencari sebungkus test pack kehamilan,, dan hatinya bersyukur melihat garis merah ganda di alat tersebut,,

Lalu,ia turuti nasihat orang-orang dekatnya,,ia pijatkan perutnya pada tukang pijat,, biar sehat katanya,,

Lalu,hari ini,,
Ibu itu terbaring d UGD dengan abortus incomplete,,
Bayangkan,, anak yg didamba-damba,, lenyap sudah,,

Sediiih,,

-Catatan Jaga Obgyn-
Sengaja tidak saya ubah apapun karena menjadi kenangan bahwa inilah gaya kepenulisan saya (dulu)… hehe…

%d bloggers like this: