Cinta adalah satu kata paling absurd di dunia. Nyaris tanpa definisi. Meski para pujangga tak pernah berhenti berusaha memaknainya.

Bagi saya, cinta adalah kontrak hubungan satu arah. Tidak berlaku hubungan timbal balik. Pun membutuhkan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Karena itu, cinta di dunia ini hanya ada dua bentuk utama.

Pertama. Cinta kepada Tuhan, maupun esensi pencipta yang dipercayainya. Lihat saja betapa kita memohon, menumpahkan curahan hati, kadang berkeluh kesah dalam sisipan doa kita. Cinta yang tanpa syarat dan tak meminta balasan.

Kedua. Cinta berdasarkan darah. Cinta kepada orang tua dan anak. Lihat saja, tanpa menuntut apapun, kita telah jatuh cinta pada anak kita bahkan di detik pertamanya menghirup udara. Lagi-lagi cinta tanpa syarat. Tak menuntut kembali cinta.

Lantas bagaimana bentuk cinta yang lain?

Entahlah. Kadang, cinta yang lain itu tidak pernah berhenti dihiasi keinginan, tuntutan, dan nuansa manusiawi lainnya.

Kadang, itu membuatnya begitu berwarna dan tampak berharga.

Kadang, itu membuat perih dan kepahitan sempurna. Ketika impian tak menemui realitas. Atau realitas yang menghantam. Telak.

Maka, cinta itu seharusnya tak bersyarat.

Tapi, kita akan selalu mementingkan cinta. Begitulah manusia. Begitulah juga saya.

Dicky, 2014