Archive for 25/01/2014


Testicular dysgenesis syndrome

Mari kita berkenalan dengan salah satu sindroma yang berkaitan dengan para laki-laki. Dari namanya mungkin sudah bisa ditebak bahwa ini adalah sindrom yang muncul pada sistem reproduksi laki-laki. Sindrom disgenesis testis ini adalah kumpulan gejala yang muncul dan menyerang sistem reproduksi laki-laki, yaitu: anomali genital laki-laki (hipospadia dan kriptorkidismus), spermatogenesis yang buruk, dan kanker testis.

Professional specialization has led to doctors and scientists concentrating on issues relevant to their own field, e.g. andrologists have been interested in sperm counts, paediatric endocrinologists have focused on hypospadias and undescended testis, and oncologists on testicular cancer. Similarly, epidemiologists traditionally analyse the incidence and risk factors separately for each disorder.

This paper applies a comprehensive approach to reproductive disorders by reviewing the evidence for the hypothesis that poor semen quality, testis cancer, undescended testis and hypospadias are symptoms of one underlying entity, the testicular dysgenesis syndrome (TDS) –Skakkebaek, 2001

Waduh, kok pakai ada kanker segala, Dok? Penyebabnya apa sih Dok?

Nah ternyata memang kanker testis ini memiliki keterkaitan dengan kondisi kelainan reproduksi lainnya, terutama kualitas semen dan penurunan fertilitas, bahkan sebelum kanker testis itu sendiri terdiagnosis.

Continue reading

UPPER CROSS SYNDROME

Upper cross syndrome adalah salah satu sindrom (kumpulan gejala) yang disebabkan ketidakseimbangan otot. Ketidakseimbangan otot ini sering disebabkan postur leher yang tidak benar. Pada orang yang memiliki postur tubuh atas yang benar, telinga dan bahu terletak dalam satu garis lurus. Pada orang dengan upper cross syndrome, kepala maju ke depan tubuh.

Figure 1 Kepala yang bergeser dari sumbu tubuh normal  [ sumber: http://www.drserbinski.ca/blog/wp-content/uploads/2012/09/upper-crossed.jpg ]

Figure 1 Kepala yang bergeser dari sumbu tubuh normal
[ sumber: http://www.drserbinski.ca/blog/wp-content/uploads/2012/09/upper-crossed.jpg ]

Loh, kan Cuma maju beberapa senti Dok?

Memang hanya maju beberapa sentimeter. Tetapi bayangkan tubuh kita seperti sebuah sistem yang saling terkait, termasuk otot. Ketika kepala kita maju sekian sentimeter, maka seharusnya kepala kita cenderung menunduk. Hal ini karena dengan bergesernya sumbu kepala, berat kepala kita menjadi lebih berat daripada berat kepala sebenarnya. Nah tubuh kita merespon dengan cerdas, bahwa tidak mungkin kita beraktifitas dengan kepala menunduk, maka otot leher akan bekerja keras untuk mengangkat kepala kita. Posisi leher yang sedang dalam mekanisme ini disebut hiperekstensi.

Continue reading

%d bloggers like this: