SKOLIOSIS

Skoliosis adalah gangguan berbentuk lengkungan menyamping pada tulang belakang yang awalnya tegak lurus. Apabila dilihat tampak belakang, tulang belakang pada penderita skoliosis akan terlihat seperti huruf “S” atau “C”, sedangkan tulang belakang yang normal  terlihat seperti huruf “I”. Skoliosis biasanya mempengaruhi dua kelompok usia: anak-anak atau remaja dan orang tua.

Kok bisa terjadi skoliosis ya Dok?

Skoliosis dapat terjadi disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kongenital, degeneratif, dan idiopatik. Skoliosis kongenital adalah kondisi dimana terjadi defek pada tulang belakang  yang mengalami kelainan perkembangan. Defek ini dapat terjadi pada dua kondisi yaitu defek segmentasi dan defek formasi. Penyebab defek ini belum diketahui. Skoliosis degeneratif adalah kondisi dimana terjadi trauma (kecelakaan maupun penyakit) yang menyebabkan kelainan bentuk tulang belakang.

Skoliosis idiopatik adalah skoliosis yang paling sering ditemukan dimana penyebabnya tidak diketahui (idiopatik). Penelitian banyak dilakukan untuk menemukan penyebab skoliosis tetapi belum ada hasil yang memuaskan. Bukti kuat menyebutkan skoliosis adalah kondisi tulang belakang yang diturunkan.

Penderita skoliosis 60% adalah perempuan, dan 40% laki-laki. Hal ini juga belum diketahui penyebabnya.

Wah kalau skoliosis kongenital ternyata cukup berat ya Dok?

Oke, kita bicarakan skoliosis kongenital dahulu ya. Skoliosis kongenital berbeda penanganan dengan skoliosis idiopatik yang akan kita bicarakan. Tetapi karena itu perlu diwaspadai dan dideteksi secara dini. Kenapa? Karena meskipun sangat jarang (angka kejadian 1 dalam 10.000) bila ditangani segera prognosisnya baik. Hal ini dikarenakan progres penyakitnya berbeda dengan skoliosis idiopatik. Skoliosis kongenital memiliki kelainan struktur tulang, maka setiap pertumbuhan tulang akan memperbesar kurva skoliosis. Hanya sebagian kecil (1-2%) yang membaik. 2.5% tidak mengalami progres yang signifikan. Sisanya justru progres memburuk. Karena itu skoliosis kongenital harus melakukan Xray setiap 6 bulan sekali untuk memastikan progresifitas skoliosis.

Lantas penanganannya bagaimana Dok?

Begitu ada tanda progres skoliosis, maka saat itu penanganan harus dilakukan. Dan penanganannya pun berbeda dengan skoliosis idiopatik dimana brace atau korset bisa menahan progresifitas skoliosis. Penanganan skoliosis kongenital adalah operasi. Dan biasanya membutuhkan lebih dari satu kali operasi.

Ingat, bila ada kelainan kongenital biasanya tidak hanya satu. Maka kita harus waspadai adanya kelainan kongenital lainnya. Kodenya adalah VACTERL.

V – Vertebral anomalies;

A – Anal atresia;

C – Cardiovascular anomalies;

TE – Tracheoesophageal fistula;

R – Renal and/or radial anomalies;

L – Limb defects.

 

Oke Dok. Kalau skoliosis idiopatik bagaimana Dok?

Kita mulai dari tandadan gejala. Skoliosis memiliki tanda yang khas, yaitu tidak sama tinggi pundak, pinggang, dan pinggul. Pada beberapa penderita juga ditemukan penonjolan tulang scapula di satu sisi (entong-entong). Tanda ini biasanya baru muncul saat pertumbuhan tulang terpacu pada usia 9-15 tahun. Gejala yang muncul biasanya tidak terlalu dirasakan di awal. Tetapi kian lama, penderita sering merasa lelah, nyeri punggung, tidak nyaman saat berada pada satu posisi dalam waktu yang lama.

Lantas apa yang bisa dilakukan bila muncul tanda skoliosis?

Pastikan bahwa itu skoliosis melalui Xray. Xray akan menunjukkan berapa derajat kurva skoliosis yang dialami. Pemeriksaan seperti MRI dan CT scan diperlukan bila dokter mencurigai adanya penyakit lain yang menyebabkan skoliosis, seperti tumor.

 

Penanganan skoliosis bagaimana Dok?

Penanganan skoliosis pada dasarnya dibagi menjadi tiga: observasi, brace, dan operasi. Pemilihan metode terapi ini dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah jenis kelamin. Perempuan lebih besar risiko progres skoliosis dibandingkan laki-laki. Jenis kurva juga berpengaruh, yaitu kurva S memiliki kemungkinan lebih besar untuk memburuk dibandingkan dengan kurva C. Lokasi kurva berpengaruh karena skoliosis dengan kurva di bagian tengah (vertebra torakal) prognosisnya akan lebih buruk.

Maturitas memiliki pengaruh karena jika pertumbuhan tulang berhenti, maka risiko skoliosis memburuk sangat kecil. Maturitas ini diukur dengan menggunakan skor Risser. Skor risser sering digunakan untuk mengetahui maturitas tulang anak (berapa pertumbuhan yang masih bisa terjadi). Mengetahui  skor risser melalui Xray tulang pelvis sehingga didapatkan skor antara 0-5. Skor 0-1 adalah pertumbuhan tulang sangat cepat, bermakna derajat kurva skoliosis bisa semakin besar. Skor risser 4-5 bermakna pertumbuhan tulang berhenti dan besar kurva skoliosis tidak bertambah. Biasanya dikombinasikan dengan Besar kurva (COBB angle). Besar kurva mempengaruhi metode penanganan skoliosis.

Brace atau korset digunakan untuk memperlambat progres skoliosis. Korset tidak akan memperkecil kurva skoliosis atau bahkan menyembuhkan skoliosis. Korset dapat dilepas bila pertumbuhan tulang berhenti, yaitu sekitar dua tahun setelah menstruasi, atau tidak ada pertambahan tinggi badan yang signifikan.

Fisioterapi diperlukan untuk mengurangi nyeri punggung dan keluhan mudah capek. Setiap pasien skoliosis memiliki karakteristik kurva skoliosis yang berbeda-beda, oleh karena itu metode fisioterapi yang diberikan pun sangat personal. Latihan diperlukan untuk menguatkan otot, sehingga keterbatasan aktifitas dapat ditekan seminimal mungkin, dan kualitas hidup penderita meningkat.

Figure 6 Salah satu jenis Brace atau korset yang didesain khusus untuk penderita skoliosis bertujuan untuk memperlambat progres skoliosis  [ sumber: http://www.mayoclinic.com/images/image_popup/r7_skoliosisbrace.jpg ]

Figure 6 Salah satu jenis Brace atau korset yang didesain khusus untuk penderita skoliosis bertujuan untuk memperlambat progres skoliosis
[ sumber: http://www.mayoclinic.com/images/image_popup/r7_skoliosisbrace.jpg ]

Apa yang dapat terjadi bila skoliosis memburuk, Dok?

Beberapa kondisi dimana skoliosis yang bertambah parah harus diwaspadai. Selain merusak postur tubuh dan memperburuk penampilan, kelainan ini juga akan mengakibatkan penyakit sendi akibat degeneratif, gangguan keseimbangan otot seperti nyeri otot kronis, mudah lelah dan kelemahan otot, gangguan sistem kerja tubuh seperti nafas jadi sesak karena ruang paru menyempit tertekan tulang dan sistem pencernaan terganggu karena ruang di perut terdesak tulang.

Bila skoliosis memburuk dibutuhkan penanganan operasi secepatnya agar tidak terjadi komplikasi pada organ lain. Operasi ini dapat memperkecil kurva skoliosis dan mencegah progres skoliosis. Pada umumnya, skoliosis membutuhkan prosedur operasi lebih dari satu kali.

Figure 7 Xray penderita skoliosis pre dan post operasi [ sumber: http://www.mayoclinic.com/images/image_popup/mcdc7_skoliosis_surgery.jpg ]

Figure 7 Xray penderita skoliosis pre dan post operasi [ sumber: http://www.mayoclinic.com/images/image_popup/mcdc7_skoliosis_surgery.jpg ]

Diadaptasi dengan perubahan dari tulisan dr. Tony Setiobudi BMedSci (Sydney), MBBS (Flinders), MMed (NUS), FRCS (Ortho) (Edinburgh)

Bethesda Clinic
(031) 99001242
www.bethesda-clinic.com