Ayah Terhebat

Ayah Terhebat

“Ayah… kata Kakak, Ibu ada di Surga. Surga itu di mana sih, Yah? Di mana-nya laut, Yah?” Tanya Anisa yang menatap laut, lalu menoleh menatap Ayah.

Ayah yang memangku Anisa menunduk menatap mata bulat Anisa, tersenyum. Entah sudah berapa tahun ia menghadapi pertanyaan anak bungsunya ini. Selalu pertanyaan yang sama. Awalnya ia bingung, mana bisa dirinya yang tidak sekolah ini menjawab pertanyaan seperti itu. Tapi saat itu, juga saat ini, ia menjawab, “Surga itu… ada di sana, Anisa. Itu, yang laut sama langit jadi satu.”

“Garis yang panjaaaaaaaang itu Yah? Jauh sekali ya…” Sahutnya.

“Ah Adik belum ngerti. Kakak sudah diajarkan di sekolah, di mana itu Surga.” Ujar Rizki, Si kakak yang sedang tengkurap memeluk besi untuk mengikat sauh kapal yang berlabuh.

Anisa menatap iri kakaknya. Lalu merajuk, “Yah, Anisa juga ingin sekolah. Teman-teman sudah sekolah. Anisa belum boleh sekolah ya, Yah?”

Ayah tersenyum getir. “Anisa yang sabar ya. Nanti kalau Ayah sudah punya uang, Ayah akan bawa Anisa ke sekolah dan Anisa akan sekolah…” Janji Ayah. Entah sudah berapa kali, batin Ayah berjanji.

“Dik, Nanti kalau Adik sekolah, tenang aja. Kakak ajarin. Kakak pinter lho!!” sahut Si sulung, bangga. “Kata Bu Guru, Yah, kalau kita pintar, kita akan bisa menggenggam dunia!” ujar Rizki semangat.

“Menggenggam itu apa Yah?” Tanya Anisa.

“Menggenggam itu memegang, Dik. Nih, seperti kita memegang apel.” ujar Rizki sambil tangannya tergenggam dan mengacungkan lengannya ke atas.

“Tapi tangan Kakak kan kecil. Mana bisa Kakak memegang dunia?” Tanya Anisa lagi.

“Dik, kata Bu Guru, kalau kita pintar, nanti semua orang di dunia akan hormat sama kita. Kita bisa jalan-jalan kemana-mana. Kita akan punya banyak uang. Jadi orang hebat!! Artinya, kita menggenggam dunia!!” Ujar Rizki antusias. “Keren kan Dik? Trus kita akan bisa beli semuanya. Makan enak. Kita bisa beli ayam goreng kesukaan Adik tiap hari. Baju, rumah, mobil. Semua kita beli.” Sahut Rizki antusias dan penuh semangat.

“Ayam goreng? Tiap hari? Waaaa… mau!! Adik bosan sama teri.” Mata Anisa membulat senang. Lucu. “Kalau untuk ayah kita belikan apa, Kak?” Ayah yang sedari tadi tersenyum lantas tersentak. Hatinya mau tidak mau ingin tahu celoteh lucu apa lagi yang akan keluar dari mulut polos Si Sulung.

“Untuk Ayah, kita belikan motor aja Dik. Biar Ayah ndak perlu pinjam sepeda ke Pak Santok. Kita juga belikan baju bagus biar Ayah tambah ganteng.” Rizki semangat.

“Kapal, Kak. Biar Ayah bisa cari ikan sendiri. Kita beli yang bagus ya Kak…”

Ayah tersentak mendengar percakapan kedua anaknya. Motor, baju, dan kapal. Begitu sederhana. Matanya berkaca-kaca.

“Kakak, sini duduk di sebelah Ayah.” Ayah mengajak Rizki duduk di sebelahnya. Sekejap, tangan kirinya memeluk erat Anisa di pangkuannya, dan tangan kanannya menarik Rizki ke pelukannya.

“Ayah kok tahu-tahu peluk adik? Ayah kangen ibu yaaa…” Anisa menggoda Ayah.

“Kalian tahu ndak. kalau Kakak ingin menggenggam dunia, Ayah bisa memeluk dunia.”

Kok bisa Yah? Mana buktinya?” Rizki penasaran.

“Ini sekarang Ayah sedang memeluk dunia!!” Sejenak Ayah menikmati dunianya. Ya, dua malaikat kecil inilah dunianya. Air matanya menetes bangga. Ia menatap baju kedua anaknya yang lusuh. Lebaran kali ini pun ia masih belum bisa membelikan baju untuk mereka. Ia tidak bisa membawa mereka jalan-jalan. Pun dengan sepeda pinjaman, ia hanya mampu membawa mereka ke pantai dan menikmati matahari terbit bersama.

“Ayo Kakak harus jadi orang pintar ya. Bukan untuk menggenggam dunia. Tapi agar bermanfaat untuk orang lain.” Ujar Ayah sambil mengecup ubun-ubun Si Sulung. Ini doa Ayah Ibu, Nak.

“Iya Yah. Kemarin, pas pulang, Bu Guru memanggil Rizki. Kata Bu Guru, Rizki punya Ayah yang hebat. Jadi Rizki harus belajar keras agar menjadi orang pintar.” Ujar Rizki dalam pelukan Ayah.

Ayah menatap mata Rizki dengan terharu. “Lalu Kakak bilang apa sama Bu Guru?”

“Rizki bilang, iya Bu. Ayah Rizki adalah ayah paling hebat!!” ujar Rizki sambil tersenyum bangga.

Ayah menangis terharu. Terima kasih, Tuhan, Engkau titipkan dua malaikat-Mu sebagai duniaku.

by: Dicky_dev
@Surabaya, 190913
#PeopleAroundUs day 9

Canon EOS 550DCanon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS

1/25 f/29 at 135mm

Foto ini Saya ambil di Pantai Boom Banyuwangi, Lebaran lalu. Pose sang anak menarik perhatian saya. Cukup menarik untuk foto Human Interest