Cinta Si Mbok

Cinta Si Mbok

“Mbok… Mbok ndak perlu dagang lagi. Agus sudah bisa membiayai hidup Mbok sekarang…”

Si Mbok berhenti berkemas. Beliau menoleh padaku sekarang. Ah, senyum teduh itu lagi. Aku tahu ini saatnya berhenti memohon. Senyum Si Mbok, ibuku, punya kekuatan. Senyum ini yang telah menemani 25 tahun hidupku hingga kini. Si Mbok tidak pernah marah, namun senyum Si Mbok pernah menghantam lemas seluruh sendi tubuhku saat beliau menerima surat panggilan dari sekolah, karena aku tawuran. Si Mbok jarang menegur, tapi senyum Si Mbok yang menyentak maluku saat beliau memergokiku dan teman-teman nonton film porno di rumah.

Senyum Si Mbok selalu tanpa kata, tapi penuh makna. Senyum yang sama menjadi peganganku saat semangat hidupku hancur berkeping-keping karena tidak lulus Ujian Nasional SMA. Senyum yang selalu mengangkatku berdiri dari jatuh. Senyum yang menyesap sejuk saat aku menangis patah hati. Senyum beliau yang menyulut jingkrak banggaku saat aku diterima bekerja, meski hanya sebagai sopir taksi. Senyum yang selalu mampu menegakkan kepalaku percaya diri saat aku ingin tunduk rendah diri.

Si Mbok selalu punya cara berkomunikasi denganku, meski tanpa aksara. Si Mbok percaya aku mampu memahami tiap guratan senyum beliau. Si Mbok punya senyum orisinal. Senyum Si Mbok memiliki jutaan makna, kristalisasi manis getir hidup Si Mbok. Aku menahbiskan senyum Si Mbok sebagai senyum teduh nomor satu di dunia.

Aku enggan berpaling. Kunikmati senyum Si Mbok sepenuhnya. Menarik nyaris semua otot wajah yang kendor termakan usia, menegaskan guratan keriput yang selalu aku banggakan.

Si Mbok meneruskan berkemas, lalu bangkit dengan sedikit susah payah. Aku bantu Si Mbok memanggul dagangan mainannya. Setelah aku salim takzim, Si Mbok berjinjit mencium pipi kanan dan kiriku, diakhiri sebuah bisikan … yang lalu diakhiri sebuah pamit.

“Mbok berangkat dulu, Le… Assalamu’alaikum…”

***

Sore ini, aku duduk di latar Museum Kereta Keraton, Jogjakarta. Menanti segelas es cendol, kutatap wajah ramah yang menyapa setiap pengunjung yang lewat. Wajah teduhnya bahagia, senyumnya merekah, apalagi kalau ada anak kecil yang tertawa riang setelah membeli mainannya. Aku mengerti, Mbok. Aku sekarang mengerti.

Kubawa segelas es cendol untuknya, sambil melangkah terngiang bisikan Si Mbok…

“… Mbok seneng lihat anak-anak bisa ketawa pas main mainan dari Si Mbok. Si Mbok cinta, Le, sama pekerjaan ini …”

Aku menemukan senyum paling indah nomor dua. Tetap senyum Si Mbok. Tapi kali ini karena beliau mampu berbagi bahagia dengan orang lain. Senyum nomor satu, (harus) tetap milikku…

Didedikasikan untuk jutaan senyum ibu… Betapa kita merindukannya…

by: Dicky_dev
@Surabaya, 130913
#PeopleAroundUs day 3 

Canon EOS 550DCanon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS

1/100 f/5.6 at 75mm

repost dari Penjual Mainan