Archive for September, 2013


Ayah Terhebat

Ayah Terhebat

“Ayah… kata Kakak, Ibu ada di Surga. Surga itu di mana sih, Yah? Di mana-nya laut, Yah?” Tanya Anisa yang menatap laut, lalu menoleh menatap Ayah.

Ayah yang memangku Anisa menunduk menatap mata bulat Anisa, tersenyum. Entah sudah berapa tahun ia menghadapi pertanyaan anak bungsunya ini. Selalu pertanyaan yang sama. Awalnya ia bingung, mana bisa dirinya yang tidak sekolah ini menjawab pertanyaan seperti itu. Tapi saat itu, juga saat ini, ia menjawab, “Surga itu… ada di sana, Anisa. Itu, yang laut sama langit jadi satu.”

“Garis yang panjaaaaaaaang itu Yah? Jauh sekali ya…” Sahutnya.

“Ah Adik belum ngerti. Kakak sudah diajarkan di sekolah, di mana itu Surga.” Ujar Rizki, Si kakak yang sedang tengkurap memeluk besi untuk mengikat sauh kapal yang berlabuh.

Anisa menatap iri kakaknya. Lalu merajuk, “Yah, Anisa juga ingin sekolah. Teman-teman sudah sekolah. Anisa belum boleh sekolah ya, Yah?”

Ayah tersenyum getir. “Anisa yang sabar ya. Nanti kalau Ayah sudah punya uang, Ayah akan bawa Anisa ke sekolah dan Anisa akan sekolah…” Janji Ayah. Entah sudah berapa kali, batin Ayah berjanji.

“Dik, Nanti kalau Adik sekolah, tenang aja. Kakak ajarin. Kakak pinter lho!!” sahut Si sulung, bangga. “Kata Bu Guru, Yah, kalau kita pintar, kita akan bisa menggenggam dunia!” ujar Rizki semangat.

“Menggenggam itu apa Yah?” Tanya Anisa.

“Menggenggam itu memegang, Dik. Nih, seperti kita memegang apel.” ujar Rizki sambil tangannya tergenggam dan mengacungkan lengannya ke atas.

“Tapi tangan Kakak kan kecil. Mana bisa Kakak memegang dunia?” Tanya Anisa lagi.

“Dik, kata Bu Guru, kalau kita pintar, nanti semua orang di dunia akan hormat sama kita. Kita bisa jalan-jalan kemana-mana. Kita akan punya banyak uang. Jadi orang hebat!! Artinya, kita menggenggam dunia!!” Ujar Rizki antusias. “Keren kan Dik? Trus kita akan bisa beli semuanya. Makan enak. Kita bisa beli ayam goreng kesukaan Adik tiap hari. Baju, rumah, mobil. Semua kita beli.” Sahut Rizki antusias dan penuh semangat.

“Ayam goreng? Tiap hari? Waaaa… mau!! Adik bosan sama teri.” Mata Anisa membulat senang. Lucu. “Kalau untuk ayah kita belikan apa, Kak?” Ayah yang sedari tadi tersenyum lantas tersentak. Hatinya mau tidak mau ingin tahu celoteh lucu apa lagi yang akan keluar dari mulut polos Si Sulung.

“Untuk Ayah, kita belikan motor aja Dik. Biar Ayah ndak perlu pinjam sepeda ke Pak Santok. Kita juga belikan baju bagus biar Ayah tambah ganteng.” Rizki semangat.

“Kapal, Kak. Biar Ayah bisa cari ikan sendiri. Kita beli yang bagus ya Kak…”

Ayah tersentak mendengar percakapan kedua anaknya. Motor, baju, dan kapal. Begitu sederhana. Matanya berkaca-kaca.

“Kakak, sini duduk di sebelah Ayah.” Ayah mengajak Rizki duduk di sebelahnya. Sekejap, tangan kirinya memeluk erat Anisa di pangkuannya, dan tangan kanannya menarik Rizki ke pelukannya.

“Ayah kok tahu-tahu peluk adik? Ayah kangen ibu yaaa…” Anisa menggoda Ayah.

“Kalian tahu ndak. kalau Kakak ingin menggenggam dunia, Ayah bisa memeluk dunia.”

Kok bisa Yah? Mana buktinya?” Rizki penasaran.

“Ini sekarang Ayah sedang memeluk dunia!!” Sejenak Ayah menikmati dunianya. Ya, dua malaikat kecil inilah dunianya. Air matanya menetes bangga. Ia menatap baju kedua anaknya yang lusuh. Lebaran kali ini pun ia masih belum bisa membelikan baju untuk mereka. Ia tidak bisa membawa mereka jalan-jalan. Pun dengan sepeda pinjaman, ia hanya mampu membawa mereka ke pantai dan menikmati matahari terbit bersama.

“Ayo Kakak harus jadi orang pintar ya. Bukan untuk menggenggam dunia. Tapi agar bermanfaat untuk orang lain.” Ujar Ayah sambil mengecup ubun-ubun Si Sulung. Ini doa Ayah Ibu, Nak.

“Iya Yah. Kemarin, pas pulang, Bu Guru memanggil Rizki. Kata Bu Guru, Rizki punya Ayah yang hebat. Jadi Rizki harus belajar keras agar menjadi orang pintar.” Ujar Rizki dalam pelukan Ayah.

Ayah menatap mata Rizki dengan terharu. “Lalu Kakak bilang apa sama Bu Guru?”

“Rizki bilang, iya Bu. Ayah Rizki adalah ayah paling hebat!!” ujar Rizki sambil tersenyum bangga.

Ayah menangis terharu. Terima kasih, Tuhan, Engkau titipkan dua malaikat-Mu sebagai duniaku.

by: Dicky_dev
@Surabaya, 190913
#PeopleAroundUs day 9

Canon EOS 550DCanon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS

1/25 f/29 at 135mm

Foto ini Saya ambil di Pantai Boom Banyuwangi, Lebaran lalu. Pose sang anak menarik perhatian saya. Cukup menarik untuk foto Human Interest

Advertisements

Awan Berarak

Awan Berarak

Awan Berarak

Continue reading

Cinta Si Mbok

Cinta Si Mbok

“Mbok… Mbok ndak perlu dagang lagi. Agus sudah bisa membiayai hidup Mbok sekarang…”

Si Mbok berhenti berkemas. Beliau menoleh padaku sekarang. Ah, senyum teduh itu lagi. Aku tahu ini saatnya berhenti memohon. Senyum Si Mbok, ibuku, punya kekuatan. Senyum ini yang telah menemani 25 tahun hidupku hingga kini. Si Mbok tidak pernah marah, namun senyum Si Mbok pernah menghantam lemas seluruh sendi tubuhku saat beliau menerima surat panggilan dari sekolah, karena aku tawuran. Si Mbok jarang menegur, tapi senyum Si Mbok yang menyentak maluku saat beliau memergokiku dan teman-teman nonton film porno di rumah.

Senyum Si Mbok selalu tanpa kata, tapi penuh makna. Senyum yang sama menjadi peganganku saat semangat hidupku hancur berkeping-keping karena tidak lulus Ujian Nasional SMA. Senyum yang selalu mengangkatku berdiri dari jatuh. Senyum yang menyesap sejuk saat aku menangis patah hati. Senyum beliau yang menyulut jingkrak banggaku saat aku diterima bekerja, meski hanya sebagai sopir taksi. Senyum yang selalu mampu menegakkan kepalaku percaya diri saat aku ingin tunduk rendah diri.

Si Mbok selalu punya cara berkomunikasi denganku, meski tanpa aksara. Si Mbok percaya aku mampu memahami tiap guratan senyum beliau. Si Mbok punya senyum orisinal. Senyum Si Mbok memiliki jutaan makna, kristalisasi manis getir hidup Si Mbok. Aku menahbiskan senyum Si Mbok sebagai senyum teduh nomor satu di dunia.

Aku enggan berpaling. Kunikmati senyum Si Mbok sepenuhnya. Menarik nyaris semua otot wajah yang kendor termakan usia, menegaskan guratan keriput yang selalu aku banggakan.

Si Mbok meneruskan berkemas, lalu bangkit dengan sedikit susah payah. Aku bantu Si Mbok memanggul dagangan mainannya. Setelah aku salim takzim, Si Mbok berjinjit mencium pipi kanan dan kiriku, diakhiri sebuah bisikan … yang lalu diakhiri sebuah pamit.

“Mbok berangkat dulu, Le… Assalamu’alaikum…”

***

Sore ini, aku duduk di latar Museum Kereta Keraton, Jogjakarta. Menanti segelas es cendol, kutatap wajah ramah yang menyapa setiap pengunjung yang lewat. Wajah teduhnya bahagia, senyumnya merekah, apalagi kalau ada anak kecil yang tertawa riang setelah membeli mainannya. Aku mengerti, Mbok. Aku sekarang mengerti.

Kubawa segelas es cendol untuknya, sambil melangkah terngiang bisikan Si Mbok…

“… Mbok seneng lihat anak-anak bisa ketawa pas main mainan dari Si Mbok. Si Mbok cinta, Le, sama pekerjaan ini …”

Aku menemukan senyum paling indah nomor dua. Tetap senyum Si Mbok. Tapi kali ini karena beliau mampu berbagi bahagia dengan orang lain. Senyum nomor satu, (harus) tetap milikku…

Didedikasikan untuk jutaan senyum ibu… Betapa kita merindukannya…

by: Dicky_dev
@Surabaya, 130913
#PeopleAroundUs day 3 

Canon EOS 550DCanon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS

1/100 f/5.6 at 75mm

repost dari Penjual Mainan

Bapak sayang si-Nduk

Bapak sayang si-Nduk

Nduk-ku…

Anakku yang paling manis…

Bagaimana kabarmu, Nduk?

 Bapak resah dan rindu

Bapak sekarang sudah dapat pekerjaan

Bapak bekerja pada juragan ikan laut

Pekerjaan Bapak menyenangkan

Tiap Shubuh, Bapak ke pantai, Nduk…

Bapak tugasnya memilih ikan yang baru saja diambil nelayan di laut

Ikannya banyaaaak

si-Nduk suka ikan, kan?

Menyenangkan, kan?

Ah kalau si-Nduk liburan, si-Nduk harus main ke sini yaa…

dan…

Bapak minta maaf, Nduk..

Bapak belum bisa pulang lebaran ini

Bapak belum diizinkan pulang kampung, Nduk…

Tapi Bapak sudah bisa kirim uang untuk uang sekolah si-Nduk

Juga untuk menebus kain seragam si-Nduk dari sekolah

Jangan sedih ya, Nduk…

Bapak juga kangen sama Nduk…

Kalau si-Nduk kangen Bapak, si-Nduk ke pantai aja

Bapak tiap pagi duduk di pantai

Bapak sama si-Nduk lihat pantai

Kita melihat laut yang sama

Kita bertemu di laut yang sama

Bapak sayang si-Nduk

by: Dicky_dev
@Surabaya, 120913
#PeopleAroundUs day 2 

Canon EOS 550DCanon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS

1/25 f/29 at 135mm

Matahari Terbit Pantai Boom

Matahari Terbit Pantai Boom

Continue reading

Lompat dan Teriaklah

Lompat dan Teriaklah

Continue reading

Mati sudah,

Lepas… ia pergi

Terbang tak bersayap

Lari tak terjejak

 

Mungkin ia di sana

Atau di situ

Bahkan mungkin di sini

Tapi tidak kemana-mana

Karena janji harus ditepati

Meski lelah terombang-ambing

 

Mati sudah,

Kakiku kaku

Lelah berlaku

Tetap, kontan

Dalam deras aliran waktu

Habis… terluka

 

Sejenak ia melangkah

Menuju ke arah-Nya

Meski sakit tetaplah mendera

by: Dicky_dev
@Malang, 020403

Bunga

Dulu, kau tempatku merona

Tepat di sana, di ujung jalan

Tempat kutuangkan jutaan resah

Hari demi hari tiada luang

Titik demi titik tiada hilang

Pusaran demi pusaran, demi jelang

Tibalah kini saatnya

Engkau dipetik sang pecundang

Sosok yang bahagia

Seribu tahun lagi pun ku takkan pernah lupa

 

by: Dicky_dev
@Surabaya, 100913, L-Fash dini hari
Pandang Lautan

Pandang Lautan

Continue reading

Tukang Becak

Bersama TukangBecak

Bersama TukangBecak

Continue reading

%d bloggers like this: