Sudah lama sekali tidak menulis. Masih dalam proses adaptasi kehidupan di Surabaya ini. Tapi kali ini saya ingin posting tulisan yang saya buat untuk tugas MKDU.

Pada sebuah kuliah MKDU PPDS di FK-Unair, ada mata kuliah Filsafat Ilmu. Dalam mata kuliah itu, kami diberikan sebuah parameter pengukuran kualitas sumber daya manusia. Apa itu? Tiga variabel. Moralitas, Soft skills, dan Hard skill. Tiga parameter inilah yang ditarik ke ranah profesi medis, yaitu dokter, menjadi sebuah konsep impian Dokter Indonesia. Apa saja itu?
Moralitas. Dalam kuliah itu, Prof. Dr. dr. Harjanto, AIF, menguraikan moralitas menjadi empat poin besar. Kejujuran, humanisme (menghargai orang lain), peduli bangsa (nasionalisme), dan peduli lingkungan (fisik-biologis-sosial). Di titik ini, muncul sebuah pemikiran bahwa keempat poin ini telah sangat lengkap dalam memunculkan dokter harapan Indonesia. Tetapi menurut saya, penekanan lebih, harus diberikan pada poin kejujuran dan humanisme. Kenapa? Karena kedua poin ini menjadi dasar bagi berkembangnya dua poin berikutnya. Kejujuran dan humanisme juga merupakan intisari sikap dan norma yang menjadi fondasi soft skill dan hard skill

Jujur, merupakan sifat dasar pokok dalam keseharian hidup manusia. Begitu pula dokter. Jujur merupakan salah satu azas etik kedokteran (principle of Veracity). Dokter dalam berinteraksi dengan pasien, mulai dari proses paling awal (salam), sampai pada sharing ilmu saat menjelaskan kondisi pasien. Bila pada tahap ini dapat berjalan dengan baik, maka hubungan dokter-pasien akan semakin mudah dan dengan mulus berlanjut pada proses terapi. Kita memberikan kepada pasien pilihan terapi dan media diagnostik yang paling bermanfaat bagi pasien, paling tidak merugikan pasien, juga kesempatan  kepada pasien untuk memilih. Pada tahap ini, nilai-nilai humanisme akan sangat menonjol karena berpijak pada keenam azas etik kedokteran (salah satunya: jujur).

Apa saja enam azas etik kedokteran?

Principle of Respect to the Patient’s Autonomy
Principle of Veracity
Principle of Non Maleficence
Principle of Beneficence
Principle of Confidentiality
Principle of Justice

Maka, dari uraian saya di atas, harapan saya untuk para dokter Indonesia adalah memperkuat proses internalisasi keempat nilai moralitas di atas, terutama kejujuran dan humanisme. Dengan internalisasi nilai-nilai tersebut, dokter Indonesia tidak berserah diri pada kebobrokan sistem. Ia tidak serta merta terlibat, atau dalam kasus yang paling ringan, mendiamkan segala proses patologis yang terjadi.

“Bagaimana lagi. Semua orang disini ya begini kerjanya. Sudah bertahun-tahun seperti ini, dan banyak orang yang menggantungkan hidup dari proses ini. Kita mau tidak mau ya harus ikut.” Ujar dokter saat ditanya kenapa semua pasiennya diberi antibiotik.

Bila moralitas adalah pengendali, Sang Master, maka soft skill ini adalah sang eksekutor. Moralitas hanya akan berupa sesuatu yang abstrak di dunia khayal tanpa pengejawantahan soft skill. Perwujudan moralitas ini berupa kepribadian (intrapersonal) dan perilaku (interpersonal). Diantaranya adalah motivasi, etika, disiplin, kecermatan, kreativitas, kepemimpinan, fleksibilitas, komunikasi, kompetitif, dan masih banyak sikap dan karakter yang termasuk dalam soft skill. Namun harapan saya yang terbesar bagi para dokter Indonesia adalah: Integritas.

Integritas adalah suatu elemen karakter yang sangat kompleks. Ada kejujuran, penghargaan tinggi terhadap nilai positif dan fanatik pada usaha terbaik untuk mencapai hasil terbaik. Integritas berarti jujur terbuka, berusaha maksimal, menerima ketidaksempurnaan atau kegagalan, tetapi benci pada kegagalan sistem, impotensi hukum, dan amputasi hak secara semena-mena. Pada prinsipnya integritas adalah sesuatu yang benar, adil, sesuai aturan.

Dalam situs http://www.thepoweroftruth.com ada sebuah kutipan yang menggambarkan integritas:

Have the courage to say No. have the courage to face the truth. Do the right thing because it is right. These are the magic keys to living your life with integrity. –W. Clement Stone-

Integrity is doing right thing, even if nobody is watching. –unknown author-

Soft skill. Di area soft skill, dalam profesi dokter, harapan saya adalah agar para dokter menegakkan integritas profesinya. Dengan menegakkan integritas, maka dokter akan senantiasa mengusahakan yang terbaik dalam mengamalkan Sumpah Dokter-nya, respek terhadap setiap elemen kehidupan, dan konsisten dalam mewujudkan nyata prinsip moralitas. Dokter akan mampu berkata TIDAK pada hal-hal yang diluar nilai-nilai profesi dan kemanusiaan yang terangkum dalam standar etik profesi dokter. Dokter yang berintegritas akan mampu berdiri tegak bagai karang di tengah arus yang mengajak berbelok arah.

Hard skill. Sang Pengendali dan Sang Eksekutor membutuhkan alat yang mumpuni untuk berwujud nyata. Maka di sinilah peran hard skill, diantaranya adalah pengetahuan dan ketrampilan. Harapan saya yang terbesar di area ini adalah dapat meningkatnya kompetensi dokter Indonesia. Terkait dengan hal ini tentu saja banyak yang harus dibenahi seperti peningkatan kualitas tenaga pengajar, fasilitas pendidikan, akses ilmu ke luar negeri. Akses ke luar negeri akan memperluas cakrawala berpikir dokter Indonesia sehingga bibit kerja sama dapat dengan mudah terwujud. Kerja sama institusi pendidikan dokter di Indonesia akan membantu akselerasi inovasi pendidikan dokter Indonesia. Hasil akhirnya adalah dokter Indonesia akan mampu bersaing dalam ilmu pengetahuan, penguasaan keahlian klinis, yang memenuhi standar internasional.

Harapan saya secara keseluruhan, dokter Indonesia harus mampu merasakan, memikirkan, dan bertindak dengan dalam setiap proses medis dengan penjiwaan moralitas yang terotomatisasi, sehingga tidak lagi lingkungan yang mempengaruhi dirinya, melainkan nilai-nilai moralitas akan menyebar bagai virus di lingkungannya.

Selanjutnya, dengan integritas dan kompetensi ilmu dan keahlian yang mumpuni, publik akan menilai positif. Dokter akan menjadi motor penggerak nilai-nilai positif di lingkungan masing-masing dalam skala kecil, dan tentu saja Indonesia dalam skala besar (kita bisa!)

Demikian harapan saya untuk para dokter Indonesia. Saya? Tentu saja tidak sedikitpun menyamai kualitas dokter yang saya tuangkan di tulisan ini. Tetapi hasrat untuk terus menuju ke arah sana akan terus ada. Semoga. Mohon doa dari teman pembaca sekalian.