image

Determinasi

Sudah lama tidak menulis. Mau menulis apa ya sembari menanti mobil yang sedang dicuci. Ah bagaimana kalau kita bicara tentang salah satu ability yang berharga dalam menjalani hidup. Cieeee… Dokter gaya thok.

Hehe… ini benar lho. Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Sering juga setelah kita memutuskan, ternyata hasilnya tidak sesuai harapan kita. Lantas kita berkeluh kesah. Banyak pertanyaan yang muncul, seperti: kenapa ini terjadi pada saya? Saya tidak pantas mengalami ini. Kalau dalam dunia profesi kita: dia lebih bodoh dari saya kok bisa diterima spesialis saya tidak.

Hehe… saya kali ini mau bercerita tentang pengalaman mendaftar PPDS. Ya pengalaman saya. Ya pengalaman teman-teman saya. Dan ternyata setelah saya renungi, ternyata missing puzzle-nya adalah determinasi.

Determinasi sangat sulit dicari makna dalam bahasa Indonesia. Definisi menurut KBBI adalah hal menentukan. Definisi kedua adalah ketetapan hati. Bingung kan? Hehe… Menurut saya, gambar diatas, sepertinya bisa menggambarkan determinasi. Apa yang membuat laki-laki itu mampu mendorong batu? Kekuatan. Ya. Tetapi dalam sebuah setting cerita yang utuh, mungkin dia mendorong batu awalnya di tanah datar. Suatu ketika dia sampai pada tanjakan, apa yang membuat dia tetap berusaha mendorong batu? Itulah determinasi. Selesaikan sampai tujuan.

Determinasi bisa lahir dari sebuah passion. Gairah yang luar biasa terhadap sesuatu. Tetapi passion bisa hanya berupa gairah tanpa determinasi. Contohnya saya. Saya memiliki passion di dunia travelling, tapi saya tidak cukup punya determinasi untuk benar-benar menjadi penggila travelling. Bagi yang punya determinasi, ia akan giat mencari tiket promo, menentukan destinasi berikutnya, bahkan sekedar membayangkan tiba di lokasi tujuan saja, adrenalin sudah membanjir. Bahagia.

Dok, Dok, kapan ngomong PPDSnyaaa… muehehehe… iya iyaaa…

Apa kaitannya dengan PPDS?

Suatu ketika saya bertemu dengan sahabat saya yang sudah berulang-ulang mendaftar PPDS, tapi tidak juga lulus. Di banyak universitas pula. Saya bertanya: apa aja yang sudah dipersiapkan?

“Aku udah belajar, Dick. Ikut seminar-seminar juga. Tapi ya memang kalah sama yang PNS atau PTT atau utusan daerah.”

“Lho kamu kerja dimana? Ada ndak dokter spesialis (contoh spesialis anak) yang praktik di rumah sakit tempat kamu kerja?”

“Ada lah. Ada dr. X, SpA”

“Udah pernah ngobrol sama beliau?”

“Belum.”

Waduh Broooo… hari gini mau PPDS tanpa persiapan? Susah. Lho kan udah persiapan belajar sama ikut seminar dan pelatihan-pelatihan, Dok.

Hemm… begini. Jaman sekarang, dokter itu orientasinya ya sekolah spesialis. Memang tidak semua. Ilustrasinya begini: bila ada 80 FK di Indonesia, dan masing-masing FK meluluskan 100 dokter baru tiap tahun, atau 50 dokter baru tiap semester. Maka, di Indonesia akan ada 4000 dokter baru tiap semester. Tentu hanya hitungan kasar. Lantas anggap saja yang ingin mengambil PPDS hanya 20% maka 800 dokter. Bila kuota satu universitas yang standar lengkap pilihan bidang untuk PPDS sekitar 100 dokter dan ada 6 universitas yang mampu mengadakan pendidikan spesialis, maka yang tertampung hanya 600.

Memang tampaknya probabilitasnya besar. Tapi ingat banyak faktor dalam proses pemilihan spesialis. Universitas. UI jelas lebih menjadi pilihan dibanding universitas lain. Dan tentu peminat akan menggelembung. Selain universitas: spesialis apa. Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, di UI. Jelas menjadi primadona. Masing-masing universitas memiliki jurusan primadona, seperti Bedah Orthopedi di UI, atau anastesi di Unair. Di jurusan-jurusan favorit, di universitas-universitas favorit, hitungan di atas menjadi blur. Tidak konsisten alias tidak valid. Ada satu jurusan yang peminatnya 40, yang diterima hanya 12. Berat!! Bukan tidak mungkin, tapi berat.

Lantas bagaimana caranya? Apa kaitannya sama determinasi?

Nah disinilah determinasi memiliki poin yang cukup besar. Dengan determinasi yang besar, dokter baru akan merintis jalan menuju mimpi spesialisnya dengan rapi dan penuh pertimbangan.

Kisah Fiksi. Ada seorang dokter. Ia sangat ingin menjadi spesialis patologi klinik. Kenapa? Karena masih sangat jarang, di kota tempat ia tinggal. Dokter ini bukan dari kalangan yang mampu, maka sejak awal, dia meniatkan sekolah spesialis harus dibiayai. Oleh siapa? Pertanyaan besar.

Tapi ketika koass, pelan-pelan ia sering main ke ruang pak Dekan. Untuk apa? Untuk bercerita bahwa ia ingin menjadi dosen. Dan juga ketertarikannya dengan bidang ilmu patologi klinik. Beberapa kali sowan, pak Dekan mulai familiar. Bahkan ketika bertemu, sering menanyakan kabar dokter kita ini.

Setelah lulus, sang dokter baru langsung mendaftar dosen. Setelah menjadi dosen, intensitas komunikasi semakin baik. Pak Dekan semakin paham betapa si Dokter ingin menjadi dokter spesialis patologi klinik. Sang dokter baru pun tidak diam saja. Ia menghubungi dokter patologi klinik senior, berkenalan dan menjelaskan passion-nya di bidang ini.

Hingga suatu ketika ada pendaftaran PPDS, si dokter muda ini mendapat persetujuan Pak Dekan, bahkan sampai diterima. Ketika ada rekan dosen yang iri, ia diam saja. Kenapa? Karena si dokter muda ini telah melakukan banyak hal, satu senti demi satu senti ia melangkah untuk lebih dekat ke impiannya. Orang lain hanya melihat tiba-tiba ia diijinkan sekolah dan diterima. Tapi si dokter baru telah menunjukkan determinasi.

Lihat. Betapa determinasi bisa sangat memiliki pengaruh terhadap banyak hal dalam hidup kita. Determinasi bukan kekukuhan hati yang membabi buta, melainkan sebuah proses ketetapan hati yang dikemas dengan cantik, perencanaan strategi yang rapi, sampai eksekusi yang jeli. Kombinasi maut itulah yang mengantarkan si dokter muda mencapai impiannya.

Lha temen dokter yang berulang-ulang tadi bagaimana?

Bicara idealitas, karena tentu saja kita tidak pernah berada di posisinya dia, seharusnya banyak yang bisa dilakukan. Buka pembicaraan dengan dokter spesialis terkait. Sampaikan bahwa ia tertarik dengan spesialisasi ini. Adakah tim penelitian yang ia bisa ikut terlibat. Bolehkah ia menjadi asisten saat beliau praktik. Banyak hal lain.

Hubungan ini harus berjalan konsisten. Sampai dokter spesialisnya mengenal si dokter muda tadi, bahkan awalnya hubungan searah, akan menjadi dua arah. Itu akan sangat menyenangkan.

Dokter muda harus bisa menetapkam self-branding. Apa keunggulanmu? Kenapa saya harus memilihmu untuk seleksi PPDS? Apa yang kamu tawarkan? Kemampuanmu? Kepandaian? Itu semua adalah brand kita dalam dunia profesi. Bukan penjilat ya. Tetapi lebih ke arah mempresentasikan kemampuan kita di depan pihak-pihak terkait. Dan tentu saja waktu wawancara PPDS sangat terlalu singkat untuk meyakinkan kemampuan kita. Kecuali kemampuan kita signifikan, seperti IP 4,0. Pasti para penguji akan wow dengan berkas kita.

Ada juga cerita teman saya yang sangat ingin menjadi spesialis jantung dan pembuluh darah. Ia belajar tekun. Bahkan melalui media sosial ia bisa mengumpulkan dokter-dokter yang juga memiliki minat di bidang jantung pembuluh darah. Ia membuat grup dimana para anggotanya saling berbagi kasus, berbagi gambar EKG, berbagi ilmu.

Maka semua yang saya ceritakan di atas adalah gambaran determinasi. Dan percayalah determinasi itu sangat berharga. Setidaknya di mata Tuhan karena Tuhan melihat proses kita secara utuh. Dan percaya pula, bahwa porsi keputusan Tuhan (faktor-X) masih sangat besar dalam hidup kita.

Ah, Dok, teman saya ndak pakai gitu-gituan ya bisa aja diterima?

Ada adik kelas. Secara mengejutkan ia diterima PPDS Ilmu Penyakit Dalam. Mengejutkan karena selama ini IPD sangat ketat dalam seleksi. Diantaranya pandai, jago band, pengalaman kerja, dan banyak uang.

Tapi adik kelas saya ini bikin kita semua melongo. Secara kasat mata saja, ia sangat sulit untuk diterima. Ketika ada yang bertanya: kok bisa?

“Aku juga ndak tahu. Ya hanya belajar saja. Mungkin doa ibuku yang membantu.”

Yah, ini sih faktor-L nya terlalu besar. Apa itu? Luck alias beruntung. Probabilitasnya kecil, tapi bisa juga terjadi pada kita. Atau mungkin ini bisa juga disebut determinasi. Determinasi dalam berdoa. Meski menurut saya, jangan juga hanya berdoa. Bukankah ikhtiar akan lebih baik dengan usaha maksimal, doa rutinkan, selanjutnya serahkan pada Tuhan (faktor X).

Semoga bisa memberikan sedikit petunjuk bila masih ada yang bertanya-tanya tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai dunia spesialis.