Ah saya tetiba ingin bercerita tentang kematian. Salah satu saudara saya, saat ini tengah berbaring di ICU dalam kondisi tidak mampu bergerak, tidak mampu makan minum, tidak mampu merespon rangsang, maupun aktifitas hidup lain. Hidup beliau kini bergantung infus dan alat bantu napas mekanik. Belum. Belum mati batang otak, saya rasa.

“Tante Sina (tentu bukan nama sebenarnya) kemarin dioperasi lagi.” Kata mama.

Ini adalah operasi kelima mungkin, saya sendiri tidak terlalu hafal. Tapi sistem perawatan yang dependen perawat di ICU dan tidak memungkinkan didampingi selama 24 jam oleh keluarga membuat putra-putrinya semakin cemas. Sampai kapan usaha medis dilakukan? Kondisi keuangan semakin menipis? Harus terus diusahakan? Sampai kapan? Apakah bisa hidup sempurna setelah sembuh?

Saya sebagai bagian keluarga besar yang juga dokter hanya bisa termenung. Saya teringat materi euthanasia pada saat kuliah kewarganegaraan maupun agama Islam jaman saya kuliah preklinik dulu. Tidak terlalu ingat bagaimana perdebatan kami dulu, namun poin yang saya ingat, euthanasia itu salah.

“Euthanasia adalah langkah yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan, pun bertindak selayak Tuhan dengan kuasa kita sebagai dokter untuk menghentikan kehidupan.” Sekilas ingatan saya akan materi euthanasia.

Pengalaman saya berpraktik di Udanawu, memberikan sebuah perspektif yang berbeda akan kematian. Di desa, kepercayaan di masyarakat yang tumbuh subur adalah sebaik-baik meninggal, itu di rumah sendiri, dikelilingi sanak saudara, diiringi lantunan ayat suci Al Quran.

Oleh karena itu, jarang sekali pasien meninggal di klinik. Begitu kami menyampaikan kondisi pasien yang buruk, dan saran untuk dilakukan tindakan emergensi, atau bahkan rujuk ke rumah sakit, keluarga akan memilih pulang paksa. Apapun penjelasannya.

“Alhamdulillah, Dokter Dicky. Ibu meninggal dua hari setelah pulang dari klinik. Kami semua ikhlas. Bahkan ibu sempat bilang terima kasih untuk dokter yang sudah merawat ibu beberapa hari di klinik. Kami putra putri beliau ikhlas Dok.” Ujar seorang putra dari pasien saya yang meninggal karena gagal liver.

Saran saya untuk rujuk ditolak mentah-mentah melalui musyawarah keluarga di hari terakhir beliau rawat inap. Pasien pun ingin pulang saja. Sekeras apapun saya serta teman sejawat saya menjelaskan saat itu, keputusan keluarga bulat.

Seringkali pasien saya di Udanawau mengambil langkah yang sama. Beberapa pasien saya ketika koass di RSSA yang berasal dari daerah pun punya sikap yang sama.

“Saya ingin pulang saja, Dok. Toh usia juga sudah tidak lama. Saya ingin bebas berkumpul dengan saudara. Tidak membebani mereka dengan hutang.” Ujar pak S, di kala saya mengevakuasi cairan asites. Beliau menderita hepatocarcinoma. Kalimat di atas diungkapkan dengan tawa renyah, tanpa rasa sedih.

Kematian menyediakan ruang pikir multidimensi yang banyak dan berbeda-beda. Dimensi pasien, keluarga pasien, dokter, sampai masyarakat. Belum lagi dimensi ekonomi, sosial, agama. Begitu banyak dimensi perspektif tentang kematian, menyebabkan setiap kasus unik dan memberikan dampak yang khas.

Seorang bapak pasien gagal ginjal kronis. Beliau rutin cuci darah. Keluarganya bukan keluarga miskin yang bisa dapat pembiayaan jamkesmas. Tapi juga bukan keluarga kaya. Maka hutang sana sini untuk cuci darah, rawat inap beberapa kali, juga obat. Semua keluarga mafhum, usia sang bapak tidaklah lama, tapi ikhtiar tidak pernah berhenti. Hingga akhirnya sang bapak meninggal.

“Ibu ikhlas. Dan puas telah memberikan semua ikhtiar untuk bapak.” Ucap sang istri.

Setelahnya, kedua rumah yang dimiliki dengan susah payah, dijual untuk menutupi hutang. Satu demi satu barang diambil debt collector. Hingga dua putrinya mengalami kesulitan untuk melanjutkan sekolah.

Ah ya, tentu saja saya tidak dalam posisi menghakimi siapapun. Setiap dokter punya alasan untuk keputusan medisnya. Begitu juga keluarga. Disini saya hanya berusaha menghadirkan berbagai dimensi kematian pasien. Untuk apa? Agar kita bisa lebih bijak.

Apakah ada kemungkinan pasien sembuh? Seberapa besar? Usaha apa yang bisa kita lakukan sebagai tenaga medis? Apakah memberatkan ekonomi keluarga pasien? Bagaimana pendapat keluarga? Ikhlaskah keluarga pasien? Siapkah keluarga menyaksikan pasien berulang-ulang dioperasi? Melihat kesakitan pasien? Ketidakmampuan pasien?

Saya masih ingat potongan adegan film Habibie Ainun. Saat Ainun sudah berulang-ulang dioperasi, Habibie tidak mau menyerah. Ainun harus menjalani operasi sebanyak yang dibutuhkan.

“Ainun kuat. Ainun pasti bisa.” Ujar Habibie.

Hingga sang sahabat memberikan sebuah perspektif yang berbeda dan akhirnya Habibie melepas Ainun.

Bagaimana perasaan pasien? Tahukah ia hiruk pikuk keluarga dalam memutuskan perawatannya? Sedihkah ia? Atau ia ingin tidak merepotkan keluarganya? Minta dihentikan perawatannya?

Bagaimana dengan ikhtiar? Takdir? Bukankah Tuhan tidak memberikan cobaan melebihi kemampuan kita? Maka harus kuat. Pasti ada hikmahnya. Apa? Kapan hikmahnya muncul? Bukankah kalau sudah digariskan meninggal akan meninggal jua? Haruskah ikhtiar dilanjutkan?

Pertanyaan-pertanyaan berulin-pilin. Menyajikan jutaan jaring laba-laba, saling bersentuhan, bersinggungan, berlintasan. Maka euthanasia tidak sesederhana ‘boleh atau tidak boleh’, saya rasa. Pertimbangan kematian pasien melibatkan banyak aspek, perspektif, dan dimensi.

Lantas dimana posisi dokter? Pendapat pribadi saya adalah dokter hanya mempersiapkan dan mengantarkan pasien sebaik-baiknya untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Tahap apapun itu.

What’s wrong with death, sir? What are we so mortally afraid of? Why can’t we treat death with a certain amount of humanity, and dignity, and decency, and god forbid maybe even humor. Death is not the enemy, gentlemen. If we’re going to fight a disease, let’s fight one of the most terrible diseases of all – indifference. Now I’ve sat in your schools and heard people lecture on transference and professional distance. Transference is inevitable, sir. Every human being has an impact on another. Why don’t we want that in a patient-doctor relationship? That’s why I’ve listened to your teachings and I believe they’re wrong. A doctor’s mission should be not just to prevent death, but also to improve the quality of life. That’s why you treat a disease, you win you lose. You treat a person I guarantee you’ll win no matter what the outcome. — Patch Adams