Archive for May, 2013


The Doors

Doors

Doors

Continue reading

Advertisements

Hemm…
Sembari menanti motor saya yang diservis, ayo kita bahas tentang sesuatu yang menggalaukan hati saya akhir-akhir ini. Apa itu?

Tulisan-tulisan saya tentang belajar di FK laris manis dikunjungi. Senang? Tentu saja. Tapi yang membuat saya galau adalah ternyata banyak komentar tentang betapa galaunya para pembaca. Bahwa mereka ingin masuk FK, ingin menjadi dokter, tetapi lemah di biologi, ada yang lemah di hitung-hitungan, ada yang lemah di kimia dan fisika. Ada juga yang mengatakan ingin masuk FK tapi tidak ada biaya.

Aduh saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Jujur, saya juga mengalami hal yang sama. Saya dulu masuk FK dengan harapan tidak bertemu dengan fisika. Karena saya, demi matahari pagi ini, sangat, amat, tidak paham dengan ilmu yang satu itu. Masa SMA saya lalui dengan bersusah payah untuk dapat nilai fisika yang ‘cukup’ untuk lulus. Dan memang nilai fisika saya di ujian sekolah paling rendah. Hanya dapat 6 (batas lulus 4,5).

Ngapain cerita aib sendiri, Dok?

Hehe… ini bukan aib. Saya bangga dengan segala proses yang saya jalani. Dan tentu saja agar para pembaca paham betapa mata saya menatap nanar saat mengisi kartu rencana studi untuk semester satu. Fisika Kedokteran. Dua semester. Aawww…

Jujur, saya tidak memahami materi dan retensi saya terhadap materi fisika kedokteran ini sangat jelek. Meskipun ternyata di akhir masa pendidikan saya akhirnya mengerti kenapa fisika kedokteran ternyata sangat penting.

Saya tidak suka fisika. Saya lemah di fisika. Pun saya lemah di kemampuan menghapal.

Lantas apakah saya tidak ingin menjadi dokter?

Continue reading

Wastafel Oldies

Wastafel Oldies

Continue reading

Part of Lawang Sewu, Semarang

Part of Lawang Sewu, Semarang

Continue reading

Oldies In Red

Oldies In Red

Continue reading

Walkin' Such The Old Time

Walkin’ Such The Old City

Continue reading

Old City Stunning

Old City Stunning

Continue reading

Ah saya tetiba ingin bercerita tentang kematian. Salah satu saudara saya, saat ini tengah berbaring di ICU dalam kondisi tidak mampu bergerak, tidak mampu makan minum, tidak mampu merespon rangsang, maupun aktifitas hidup lain. Hidup beliau kini bergantung infus dan alat bantu napas mekanik. Belum. Belum mati batang otak, saya rasa.

“Tante Sina (tentu bukan nama sebenarnya) kemarin dioperasi lagi.” Kata mama.

Ini adalah operasi kelima mungkin, saya sendiri tidak terlalu hafal. Tapi sistem perawatan yang dependen perawat di ICU dan tidak memungkinkan didampingi selama 24 jam oleh keluarga membuat putra-putrinya semakin cemas. Sampai kapan usaha medis dilakukan? Kondisi keuangan semakin menipis? Harus terus diusahakan? Sampai kapan? Apakah bisa hidup sempurna setelah sembuh?

Saya sebagai bagian keluarga besar yang juga dokter hanya bisa termenung. Saya teringat materi euthanasia pada saat kuliah kewarganegaraan maupun agama Islam jaman saya kuliah preklinik dulu. Tidak terlalu ingat bagaimana perdebatan kami dulu, namun poin yang saya ingat, euthanasia itu salah.

“Euthanasia adalah langkah yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan, pun bertindak selayak Tuhan dengan kuasa kita sebagai dokter untuk menghentikan kehidupan.” Sekilas ingatan saya akan materi euthanasia.

Continue reading

Looking Through

Looking Through Glasses

Continue reading

An 18-year-old male college student is seen in the student health clinic for urinary frequency, dysuria, and urethral discharge. Which of the following is likely to explain his condition?

  1. Herpes simplex
  2. Escherichia coli urinary tract infection
  3. Chlamydial urethritis
  4. Syphilis
  5. HIV infection

the answer is below…

Continue reading

%d bloggers like this: