Menunggu itu membosankan. Servis mobil itu menunggu. Dua premis itu kesimpulannya: servis mobil itu membosankan. Hehe… maklum baru minggu kemarin menjalani tes potensi akademik. Soal-soalnya model seperti itu.

Nah sembari menunggu mobil diservis, saya ingin berbagi tentang teknik sederhana untuk memudahkan belajar. Sebagian saya lakukan, sebagian saya adopsi dari mengamati cara belajar teman-teman yang nilai-nilai ujiannya sering tidak terjangkau oleh nalar. Hehe…

Kita mulai yaa…

    • Pertama. Mencatat. Buat catatan. Buat gambar, diagram, mindmap, apapun. Pokoknya jangan tidak menulis. Membaca materi dan menghapal itu memang penting, tapi gerakan tangan saat menulis dan menggambar juga punya porsi sendiri dalam akun memori otak kita. Mencatat saat kuliah, bagus. Asal kecepatan menulis kita juga bagus. Kalau tidak, tentu akan sering ketinggalan. Buat saya yang punya kecepatan menulis yang standar, biasanya saya print dulu materi kuliah (bisa dapat dari kakak kelas, misalkan), ketika kuliah, tinggal coret-coret deh.

 

    • Pakai Pena warna. Lebih praktis satu pena dengan beberapa pilihan warna. Atau stabilo. Atau apapun yang akan menarik minat kita untuk membaca, atau membuka mata kita saat mengantuk (karena materi kuliah memang sudah dikutuk memiliki efek kantuk yang sifatnya berulang, persisten, dan kronis.) Percaya deh, bagi yang benar-benar mengenal gaya belajar diri sendiri, penggunaan warna-warna dalam catatan atau materi kuliah bisa sangat menyenangkan, dan membuat kita ingin belajar lagi, lagi, dan lagi.

 

    • Rekam kuliah. Bagi mereka yang lebih suka belajar lewat suara (tipe auditorik), metode ini bisa sangat praktis. Begitu kuliah dimulai, perekam suara (kalau mau lebih canggih pakai perekam video, asal ndak bosan lihat dosen aja. Hehe…) diletakkan di atas speaker dan kita mendengarkan kuliah. Sepulang kuliah didengarkan lagi berulang-ulang di komputer di rumah. Mau sampai 10x juga boleh. Hehe… kalau saya tidak terlalu cocok dengan metode ini, karena entah kenapa suara dosen yang memberi kuliah itu memiliki efek kantuk yang sama besar dengan membaca materi kuliah. Bahkan tidak peduli tempat. Dengarkan rekaman kuliah, dan zzztttt… dalam lima menit.

 

    • Belajar bersama. Nah saya tipe auditorik tapi mungkin mengalami alergi terhadap suara dosen saat mengajar. Solusinya, mendengarkan teman yang hobinya belajar atau membaca atau menghapal dengan bersuara keras. trust me, it works.

 

    • Membaca textbook yang bagus. Oke, jelas ini bukan dari pengalaman saya. Tapi beberapa yang menggunakan teknik ini cukup berhasil. Karena kadang penjelasan textbook lebih bisa kita pahami (kadang lho ya). Sejujurnya, dibutuhkan kemampuan khusus untuk memahami textbook, tapi kalau strategi ini berhasil buat kamu, lakukan. Cara ini bisa dikombinasikan dengan…

 

    • Bolos kuliah. Ha? Apa Dok? Serius? Hehe… saya tidak menyarankan untuk bolos. Tapi beberapa orang yang mungkin sering tidak nyamam dengan duduk berdempet-dempetan, gerah, juga kadang berisik, menghindari kuliah dan belajar sendiri mungkin cara yang tepat. Asal belajar lho ya. Jangan terus nongkrong di mall.

 

    • Belajar di kafe. Saya merasa kadang belajar di rumah lebih sering menimbulkan kantuk. Hehe… dengan tersedianya camilan agar rahang tetap bergerak, juga beberapa orang hilir mudik, membantu kita untuk tetap melek.

 

Yah, susah memang agar kita bisa sukses kuliah FK. Kita benar-benar harus mengenal gaya belajar kita. Kita tipe yang mudah belajar dengan suara, atau dengan gambar, atau dengan kombinasi keduanya.

Teknik sederhana ini bisa juga saat ini sudah tidak berlaku. Atau ada beberapa teknik yang manjur di blok kuliah tertentu, tapi tidak bermanfaat saat kita aplikasikan di beberapa blok yang lain. Atau teknik yang berhasil di satu orang, belum tentu berhasil di orang lain. Mungkin beberapa rekan pembaca punya teknik lain?

Jadi, temukan sendiri cara belajar yang paling sesuai, dan jangan lupa selalu beradaptasi. Beda dosen, beda sistem, beda cara belajar. Tetap semangat!!