Tulisan ini untuk adik-adik Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya angkatan 2009 yang baruuu saja menjalani yudisium. Apa sih yudisium itu?

Di FKUB, kami menjalani dua kali yudisium. Yudisium pertama adalah pengesahan gelar Sarjana Kedokteran, [S. Ked] di belakang nama kami. Yudisium kedua adalah pengesahan gelar Dokter, [dr.] di depan nama kami. Yudisium ini berbeda dengan wisuda. Wisuda bersifat pelepasan dari institusi, artinya kami bukan mahasiswa lagi. Sementara yudisium, hanya pengesahan gelar, dimana kami masih berstatus mahasiswa.

Lha ini malah nulis tentang yudisium. Sebenarnya mau nulis apa ini Dok?

Hehe… Kali ini saya ingin menulis sekaligus memberi pesan untuk adik-adik yang baru saja yudisium. Tentang amnesia. Hilang ingatan. Tapi amnesia ini yang sering terjadi pada mahasiswa kedokteran. Amnesia fisiologis. Amnesia karena banyaknya data yang dimasukkan dalam otak kita.

Masih teringat tanggal saya yudisium sarjana kedokteran. Tanggal cantik. 9-9-2009. Bahagia? Bahagia dong! Tapi lebih banyak resah.

Habis ini koass loh. Bisa apa kamu? Nilai masih standar mau nanganin pasien? Kalau ndak tahu pasien sakit apa mau ngomong apa?

Lab pertama Ophtalmology. Kesehatan mata. Inget penyakit apa aja yang bisa muncul di mata? Pemeriksaan mata harus ngapain aja?

Tiga setengah tahun kita belajar ilmu medis. Kita belajar sangat banyak, hampir tanpa berhenti. Selesai satu blok, lanjut blok berikutnya nyaris tanpa jeda. Selesai tutorial lanjut kuliah pakar. Belum lagi praktikum. Belajar sampai gila!

Dalam kondisi seperti itu, wajar kadang kita lupa sesuatu. Otak kita tanpa batas. Itu pasti. Kemampuan kita dalam mengorganisasi data itu yang terbatas. Alangkah enaknya punya kemampuan Sherlock Holmes, yang bisa menata data memori dengan rapi, seperti laptop kita yang ter-defrag. Tapi kita tidak seperti itu. Kita seperti belajar mati-matian di satu blok, setelah selesai, terlupakan (dengan tidak sengaja, tentunya… *wajah malaikat*), mari belajar blok berikutnya. Seperti itu terus, seperti siklus, masuk satu blok, masukkan informasi sebanyak-banyaknya, simpan untuk ujian, lalu terlupakan. Seperti itulah kuliah kedokteran.

Terus bagaimana ini, Dok, mau koass, kok malah lupa semua…

Sebenarnya, kita tidak pernah benar-benar melupakan. Adakah yang mengalami, ketika belajar Ilmu Penyakit Dalam, tertulis allopurinol, maka yang terlintas adalah gout atau asam urat. Teringat sempat disebut oleh dr. Widodo ketika pelajaran metabolisme purin di Biokimia (apa ituuu… -jeritan mahasiswa). Atau ketika membaca metabolisme glukosa yang teringat skema siklus krebs, berapa asetil-koA yang dibutuhkan, berapa NADH yang dihasilkan (huaaaa… berapaaaa -masih jeritan). Atau saat kita menangani neonatus yang mengalami ikterus, ingatan kita (samar) tentang metabolisme porfirin (ehem. -dehem…putus asa).

Hehe… Jadi semakin resah. Tapi, tenanglah. Hampir semua mengalami itu. Kita semua bekerja keras belajar di FK. Belajar banyak materi medis, untuk bekal kita sebagai dokter. Meskipun kita pikir kita melupakan banyak hal, sebenarnya tidak. Semua informasi itu, ada, tersembunyi dan menanti kita mengakses mereka. Asal kita belajar dengan benar, semua materi itu tersimpan, meski samar.

Selama koass, wajar kita lupa. Maka belajarlah. Baik belajar dari pasien kita, juga belajar mengakses ilmu kita yang terserak, menyusunnya bagai buah puzzle, menjadi sebuah gambaran besar. Jadi kata kuncinya: belajar. Tetap belajar, dan selalu belajar. Amnesia mahasiswa FK? Wajar. Dan taklukkan.

Epilog:

“Dok, anak saya keputihan.”
Setelah saya anamnesis, saya yakin pada sebuah penyakit dengan ciri keputihan, sangat gatal, seperti susu pecah. Diagnosisnya… saya lupa.