Archive for April, 2013


A 19-year-old male college student returns from spring break in Fort Lauderdale, Florida, with complaints of acute pain and swelling of the scrotum. Physical examination reveals an exquisitely tender, swollen right testis that is rather hard to examine. The cremasteric reflex is absent, but there is no swelling in the inguinal area. The rest of his genitourinary examination appears to be normal. A urine dip is negative for red and white blood cells. Which of the following is the appropriate next step in management?

  1. Administration of antibiotics after culture of urethra for chlamydia and gonorrhea
  2. Reassurance
  3. Intravenous fluid administration, pain medications, and straining of all voids
  4. Ultrasound of the scrotum
  5. Laproscopic exploration of both inguinal regions

the answer is below…

Continue reading

Advertisements
Bukit Kawah Putih

Bukit Kawah Putih

Continue reading

Belajar di FK

Menunggu itu membosankan. Servis mobil itu menunggu. Dua premis itu kesimpulannya: servis mobil itu membosankan. Hehe… maklum baru minggu kemarin menjalani tes potensi akademik. Soal-soalnya model seperti itu.

Nah sembari menunggu mobil diservis, saya ingin berbagi tentang teknik sederhana untuk memudahkan belajar. Sebagian saya lakukan, sebagian saya adopsi dari mengamati cara belajar teman-teman yang nilai-nilai ujiannya sering tidak terjangkau oleh nalar. Hehe…

Kita mulai yaa…

  • Pertama. Mencatat. Buat catatan. Buat gambar, diagram, mindmap, apapun. Pokoknya jangan tidak menulis. Membaca materi dan menghapal itu memang penting, tapi gerakan tangan saat menulis dan menggambar juga punya porsi sendiri dalam akun memori otak kita. Mencatat saat kuliah, bagus. Asal kecepatan menulis kita juga bagus. Kalau tidak, tentu akan sering ketinggalan. Buat saya yang punya kecepatan menulis yang standar, biasanya saya print dulu materi kuliah (bisa dapat dari kakak kelas, misalkan), ketika kuliah, tinggal coret-coret deh.

 

Kawah Putih Airnya Biru-Hijau-Putih

Kawah Putih Airnya Biru-Hijau-Putih

Continue reading

Empat Hari UNAS

“Indonesia iki yo ngono,,
Dikit-dikit mundur,,
Salah, langsung disuruh mundur,,”

“Lha memang kita itu hobinya tandur,, tanam mundur,, jadi ya mundur terus,,”

Hehe… itu kutipan guyonan khas bapak ibu guru pengawas UNAS di sekolah tempat saya menjadi pengawas satuan pendidikan. Beginilah suasana setip hari dalam empat hari kemarin. Bahkan pagi-pagi sudah muncul kegayengan yang hangat. Guyonan di atas muncul menanggapi berita di koran tentang tuntutan agar Mendikbud mundur.

UNAS, Mendikbud, dan segala permasalahannya memang sedang menjadi primadona media akhir-akhir ini. Dan sepertinya masih akan berlanjut karena UNAS SMP masih akan dilaksanakan. Semua merasa pantas berkomentar dan kadang juga mengkritisi. Siapapun dia, pelaku pendidikan, ibu rumah tangga yang anaknya ikut UNAS, sampai bapak pengemudi becak.

Tapi selama empat hari bersama bapak ibu guru ini, tidak sekalipun, muncul usul UNAS ditiadakan atau Mendikbud mundur. Beliau-beliau ini, lebih sering melontarkan ide-ide segar untuk menyelesaikan masalah UNAS. Bagaimana agar siswa-siswanya lulus semua, bagaimana agar distribusi lancar, bagaimana mekanisme tender pengadaan, bagaimana kemasan soal dan LJU agar insiden sobek berkurang, bagaimana dan bagaimana. Tentu dengan gaya super kocak.

Tentu saya tidak mengomentari ide-idenya. Karena ide-ide itu tentunya sesuai dengan pemahaman beliau-beliau di tataran pelaksana proses belajar mengajar. Bukan di tataran manajemen pengambil kebijakan. Tetapi, pola pikir beliau-beliau ini berorientasi pada solusi. Bukan pada penghakiman baik sistem maupun personal. Padahal sebagai ujung tombak pendidikan, apalagi di daerah terpencil yang sudah kenyang dengan janji-janji yang tak kunjung terealisasi, beliau-beliau ini lebih berhak dan lebih pantas di barisan terdepan, mengkritik, bicara di media tentang dugaan korupsi, bahkan menuntut Mendikbud mundur. Tapi itu sama sekali tidak muncul bahkan dalam proses bercanda santai.

“Menurut saya, soal UNAS kali ini lebih sulit dari prediksi kami. Kami itu, Pak Dokter, ingin sekali berkomunikasi dengan pak Nuh. Hanya kami tidak tahu caranya. Mau menulis di media, kami tidak percaya diri. Mungkin Pak Dokter tahu alamat email beliau? Kami ini ingin menyampaikan aspirasi. Mungkin selama ini yang dijadikan sampel adalah sekolah maju atau favorit, sedang kami ini sekolah terpencil, murid kadang ada kadang tidak. Maka kami berpikir, mungkin masukan dari kami yang kondisinya seperti ini, akan membantu pak Nuh dalam berkoordinasi.”

Wih. Kalimat bertutur yang baik, lebih mendahulukan prasangka baik. Saya, tentu saja, tidak bisa menjanjikan apa-apa. Karena memang sulit bagi kita yang di bawah untuk bisa berkomunikasi dengan jajaran atas pengambil kebijakan. Tapi yang patut digarisbawahi, sekali lagi, sama sekali tidak muncul tuntutan apapun.

“Saya tadi lihat soal sosiologi, Pak Dokter. Saya guru sosiologi. Wah luar biasa soal UNAS sekarang. Soal bisa beda semua begitu ya, padahal kisi-kisinya sama, tapi soal dan jawabannya beda sama sekali. Salut saya sama pelaksanaan UNAS tahun ini. Cuma sayang ya ada insiden distribusi soal kemarin.”

Lihat, komentarnya sangat bijak. Beliau berkomentar setelah mengawasi UNAS, melihat soalnya, mencari sisi positif, tanpa menyerang sisi negatif.

Bagi saya, komentar ini adalah komentar bintang lima.

Kawah Putih

Kawah Putih

Kawah Putih

Continue reading

Kesederhanaan Al-Irsyad

Continue reading

An 18-year-old male college student is seen in the student health clinic for urinary frequency, dysuria, and urethral discharge. Which of the following is likely to explain his condition?

  1. Herpes simplex
  2. Escherichia coli urinary tract infection
  3. Chlamydial urethritis
  4. Syphilis
  5. HIV infection

the answer is below…

Continue reading

How long after a stroke is a patient at a higher risk for developing a depressive disorder?

  1.  Two weeks
  2.  Two months
  3.  Six months
  4.  One year
  5.  Two years

the answer is below…

Continue reading

A 15-month-old boy is brought to the emergency room because of fever and a rash. Six hours earlier he was fine, except for tugging on his ears; another physician diagnosed otitis media and prescribed amoxicillin. During the interim period, the child has developed an erythematous rash on his face, trunk, and extremities. Some of the lesions, which are of variable size, do not blanch on pressure. The child is now very irritable, and he does not interact well with the examiner. Temperature is 39.5°C (103.1°F). He continues to have injected, immobile tympanic membranes, but you are concerned about his change in mental status. Which of the following is the most appropriate next step in the management of this infant?

  1.  Begin administration of intravenous ampicillin
  2.  Begin diphenhydramine
  3.  Discontinue administration of ampicillin and begin trimethoprim with sulfamethoxazole
  4.  Perform bilateral myringotomies
  5.  Perform a lumbar puncture

the answer is below…

Continue reading

%d bloggers like this: