Suatu ketika, bidan saya di Udanawu bertanya: ‘Dokter, bibi saya ini masuk rumah sakit. Demam sudah 4 hari, Dokter. Tapi semua hasil lab normal. Kok ndak dibolehin pulang ya Dok?’

Untuk yang belum jadi dokter sekalipun, pasti akan menemui konsultasi-konsultasi seperti ini. Dan percayalah, sangat sulit bagi kita untuk menolak konsultasi dadakan model begini. Maka seringkali kita mengiyakan, bahkan kadang memberi opini medis, padahal kita tidak berkompeten.

Kok?

Ya karena kita tidak memeriksa pasien. Dan setiap dokter selalu memiliki alasannya sendiri yang harus kita hargai atas rencana diagnosis, rencana terapi, dan sebagainya. Sebagai ilustrasi:

‘Dok, om saya sudah seminggu ini tidak boleh pulang. Beliau kata dokter kena stroke. Lha sekarang sudah sembuh, sudah bisa jalan, bicara juga sudah lumayan. Kan harusnya bisa rawat jalan aja. Sudah tiga minggu Dok di rumah sakit, biayanya cukup terasa buat kami’

Dokter: hemm… menurut saya omnya sudah bisa pulang. Kondisinya sudah bagus itu. Coba minta pulang lagi ke dokternya.

Seketika itu juga isu malpraktik membahana, semua dugaan negatif akan meluncur mulus dalam pikiran keluarga si Om. Wah ini dokternya cuma mau nyari uang saja. Wah ini dokternya ndak memikirkan keuangan pasien. Wah ini dokternya ndak pinter. Dan sebagainya dan sebagainya.

Lihat. Dari sebaris kalimat kita yang tidak kompeten itu muncul banyak masalah. Maka kita harus hati-hati. Terutama konsultasi terkait dengan manajemen diagnosis dan terapi teman sejawat. Tetapi inilah yang sering terjadi. Konsultasi dadakan, seting lokasi di tempat umum. Pasien yang dibicarakan lokasinya ada di 100 km dari kita. Jangankan yang jauh, pasien dengan dokternya yang memeriksa langsung sekalipun masih terjadi perbedaan interpretasi atas apa yg terjadi pada tubuhnya. Seperti pasien stroke di ilustrasi. Bahwa stroke secara garis besar memiliki dua tipe, dan masing-masing tipe memiliki manajemen yang berbeda, salah satunya pada keputusan durasi rawat inap. Apakah si Dokter yang di‘konsulin’ jarak jauh itu tahu pasien menderita stroke apa? Tidak. Apakah si Dokter yang menangani si Om di rumah sakit sudah menjelaskan manajemen rawat inap stroke pada pasien? Mungkin iya mungkin tidak.

Challenges of Interpretation

There is a wonderful book about medical ethics originally written in the 1980s by the Yale physician and law professor Jay Katz, and called The Silent World of Doctor and Patient[1]

Katz discusses the difficulties of communication in medicine and he writes as follows: ‘Even in their most intimate relationships, human beings remain strangers to one another. One can only understand another to a limited extent. But the problem runs even deeper. One can only understand oneself to a limited extent. The latter impediment powerfully reinforces the former, making it even more difficult to know another. Physicians and patients are not exempt from this human tragedy. Its pervasive impact on all human encounters contradicts one of the most basic and revered professional dogmas: that doctors can be totally trusted because they act only ‘in their patients’ best interests’. This dogma only compounds the tragedy by assuming an identity of interests and brushing aside the need to clarify differences in expectations and objectives through conversation.’

Nah. Kesimpulannya, dokter itu baik dan bisa dipercaya kalau dia melakukan apa yang diinginkan pasien. Ini yang susah untuk dilakukan. Kenapa? Karena selalu terjadi perbedaan interpretasi antara dokter dengan pengetahuan medisnya, dengan pasiennya. Seperti pengalaman saya berikut:

Dok, ibu saya sesak. Saya minta rawat inap saja dan kasih furosemid yang dimasukin lewat infus aja ya Dok. Waktu di RSU dikasih obat itu manjur Dok.

Dalam kasus ini saya menjelaskan dulu kepada keluarga pasien kondisi pasien yang tensinya rendah, juga tentang kondisi paru-paru beliau yang sesak dikarenakan memang ada cairan yang menghalangi alveolusnya mengadakan pertukaran udara. Manajemennya, saya jelaskan tentang cairan infus yang akan saya batasi, furosemid bisa diberikan, bisa tidak, bergantung kondisi pasien, sambil kita pantau volume urin.

Wah Dok, menjelaskannya berat.

Iya memang berat. Tapi sebaiknya kita jelaskan kondisi pasien sejelas-jelasnya, daripada mencari istilah-istilah aneh yang dimaksudkan sebagai jembatan keledai agar pasien paham tapi justru semakin tidak paham.

Relevansinya begini: andai saya tidak menjelaskan kondisi pasien dan alasan kita mengambil langkah-langkah tertentu untuk pasien, mungkin pasien akan tidak puas. Infus kok netesnya sedikit sekali. Kok ndak diberi furosemid. Dan banyak kondisi diluar harapan pasien yang juga di‘rasa’ni.

Dialog Terapeutik

Ternyata model penjelasan saya di atas itu ada namanya. Namanya: dialog terapeutik. Inilah dialog dimana dokter berbagi pada pasiennya tentang kondisi pasien, standar manajemen, dan pilihan-pilihan yang dimiliki pasien. Dan ini butuh skill. Kita harus seolah berhadapan dengan anak kecil, tetapi dengan pola pikir orang dewasa. Kita usahakan transparansi proses berpikir kita, usahakan keluarga pasien paham kenapa kita menduga atau mendiagnosis seperti itu, kemungkinan diagnosis lain, manajemen terapi, semuanya. Inilah dialog terapeutik.

Kita jangan lupa bahwa apa yang mendasari pemikiran kita sekarang dibentuk dari pengetahuan medis yang kita pelajari bertahun-tahun, jadi jangan harap pasien akan segera mengerti. Tetapi baik dokter maupun pasien harus aktif dalam dialog, sehingga muncul progres konstruktif terkait dengan manajemen pasien.

Dan dialog terapeutik ini tidak bisa dilakukan jarak jauh, via sms, BBM, bahkan twitter. Maka seyogyanya kita menghargai pilihan tindakan sejawat kita yang menangani pasien secara langsung dengan tidak memberikan opini menyerang sehalus apapun. Karena dokter selalu punya latar belakang atas semua yang dikatakan dan dilakukan. Percayalah.