Ah, sembari menunggu pasien, saya ingin cerita-cerita sedikit tentang passion medis saya. Cita-cita saya ingin menjadi dokter spesialis apa. Dan tentang apa spesialis itu.

Tapi sebelum mulai, saya mau bercerita tentang serial film CSI. Dalam sebuah episode, CSI ini bercerita tentang pembunuhan seorang dokter, dan yang menarik adalah, pelakunya merupakan kembar identik, tidak satu tetapi empat! Bagaimana kisahnya? Simak yaa…

Alkisah terjadi pembunuhan terhadap seorang dokter di sebuah Casino. Dari pemeriksaan tim CSI (Crime Scene Investigation) ternyata pelakunya adalah seorang laki-laki dengan baju jingga. Maka segera dilakukan pencarian dan ternyata ditemukan laki-laki berbaju jingga yang tampak di CCTV, tidak hanya satu, tetapi ada tiga laki-laki pria dengan wajah sama, mengenakan baju jingga di lokasi kejadian.

Tiga orang laki-laki dengan wajah sama, memiliki DNA yang sama, namun lahir di waktu yang berbeda, dan lokasi yang berbeda pula. Disinilah twist-nya. Ternyata mereka adalah embrio-embrio bayi tabung yang ditanam ke rahim pasangan lain tanpa ijin sang empunya embrio. Ternyata ketika sang empunya embrio melakukan proses IVF (In Vitro Fertilization), tercipta empat embrio. Satu embrio diberikan kepada sang empunya. Tiga lainnya yang seharusnya disimpan, oleh sang dokter di’jual’ kepada dua pasangan lain. Satu lagi? Diberikan kepada istrinya dan lahirlah menjadi anak sang dokter.

Di akhir kisah, sang embrio keempat inilah yang baru berusia 12 tahun yang menjadi dalang pembunuhan ayahnya sendiri. Ia merasa ayahnya tidak pernah menyayanginya. Dan ketika ia tahu bahwa ia bukan anak orang tuanya, melainkan hanya embrio dari pasangan lain, ia memutuskan untuk menghubungi ‘saudara-saudara’-nya, untuk bekerja sama membunuh orang yang telah bermain dengan nasib mereka.

Tentu saja ini malpraktik. Dan disinilah CSI secara lugas dan tersirat bahayanya bermain-main dengan embrio. Embrio merupakan ranah Tuhan dengan kekuasaan-Nya, tetapi dengan kemajuan ilmu pengetahuan reproduksi, manusia berhasil menemukan jalan untuk pembentukan embrio di luar rahim, yang akan menjadi janin bila disuntikkan ke rahim perempuan.

Dalam kasus ini, digambarkan kebingungan sang anak. Siapakah orang tuanya? Orang tua genetik? Atau orang tua yang membesarkan? Apakah ketia embrio yang lain adalah saudaranya? Atau bukan?

Bahkan secara gamblang, sang embrio keempat menyatakan sang ayah tidak pernah menyayangi dia. Apakah bisa? Ayah tidak memiliki kontak khusus apapun dengan sang anak, jadi sangat beralasan bila sang ayah kesulitan menemukan cara menyayangi anaknya. Ibu mungkin masih memiliki ikatan fisik, sembilan bulan di kandungan merupakan ikatan fisik yang tak terbantahkan. Tetapi ia tetap bukan ibu genetiknya.

Nah, kasus ini menarik bagi saya, karena saya memang tertarik di bidang biologi reproduksi. Saya tertarik menjadi seorang embryologist, dan terkait dengan spesialisasi, tentu saja yang masih seiring sejalan, spesialis andrologi. Sebenarnya yang terkait dengan reproduksi masih ada dokter kandungan, yaitu reproduksi dari sisi perempuan.

Saya dahulu kala sangat ingin menjadi dokter kandungan alias obstetri-ginekologi a.k.a. obsgyn. Kenapa? Karena kakak saya meninggal dalam persalinan. Kenapa? Karena dokter kandungannya pergi mengikuti seminar di luar kota tepat di hari taksiran persalinan ibu saya. Akhirnhya yang menangani bidan. Karena itu saya bertekad menjadi dokter kandungan yang baik.

Seiring waktu berjalan, saya menyadari, menjadi dokter kandungan tidak semudah yang saya kira. Tanggung jawab terhadap dua nyawa, kemungkinan-kemungkinan emergensi, dan menakar passion saya, saya memutuskan mengambil ke arah reproduksi dari sisi laki-laki, yaitu andrologi. Inilah cita-cita saya. Spesialis Andrologi.

Andrologist sendiri merupakan bidang spesialis yang relatif baru, yang dahulu merupakan bagian dari spesialis urologi. Namun dengan berkembangnya keilmuan manusia, dan semakin kompleksnya kasus problem kesehatan reproduksi, andrologi akhirnya menjadi satu keilmuan tersendiri yang berbeda dengan urologi.

Bidang ilmu andrologi mencakup lima hal, 1) infertilitas, yang kini sedang sangat booming dengan tokoh sentral di Indonesia adalah Dr. dr. Aucky Hinting, SpAnd. Bidang infertilitas inilah yang menjadi kasus CSI di atas. Lantas dimana peran embryologists? Ahli embriologi adalah mereka yang akan membantu dalam penanganan infertilitas mulai dari sperma dan ovum sampai menjadi embrio. Sedang ahli andrologi yang menangani pasien, terutama bila masalah infertilitas berasal dari pihak laki-laki.

2) Seksologi, yang sebenarnya bidang kerja bersama antara andrologists, obstetricians-gynecologists, dan psychiatrists. Untuk saat ini yang masih dikenal adalah prof. Dr. dr. Alex Pangkahila, SpAnd dan prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd. Kedua Pangkahila bersaudara inilah yang sempat menjadi motor pengembangan keilmuan seksologi di Indonesia. Kini keduanya masih kompak, namun mengembangkan bidang andrologi yang ketiga, 3) male aging. Keduanya mengembangkan master anti-aging melalui riset-riset ilmiah untuk laki-laki maupun perempuan.

4) Hypogadisme, adalah suatu kondisi keniscayaan yang akan terjadi pada setiap laki-laki, namun belum terlalu diperhatikan. Pakar di bidang ini adalah prof. Dr. dr. Arif Adimoelja, SpAnd. Dan yang terakhir adalah 5) kontrasepsi laki-laki.

Nah itulah sedikit tentang andrologi yang ingin saya bagi dengan rekan pembaca semuanya. Dengan pengantar sebuah kasus yang saya tonton dari serial CSI, saya berharap rekan pembaca sekalian dapat memahami pentingnya seorang ahli andrologi dan ahli embriologi. Semoga bermanfaat.