Dokter itu wajib mengasah rasa.

Apa itu Dok mengasah rasa?

Hehe… para rekan pembaca sekalian. Mau menyapa dulu ah… Yang masih belajar di kampus, angkat tangaaan? Yang koass, manaaa? Kalau yang sudah dokter, suaranya manaaaa? Berasa konser aja… hehee…

Sebelum mulai, mau nanya dulu nih. Kira-kira yang sudah dapat pengalaman dengan kematian siapa yaa… gimana? Gimana rasanya? Kematian di klinik dengan fasilitas minim? Kematian di puskesmas PTT? Kematian di bangsal rumah sakit yang kapasitasnya puluhan pasien? Kematian pasien home visite? Kematian pasien VIP di pavilyun?

Semua kematian itu, kawan, kian sering, apakah kian biasa? Kian tidak berkesan? Pada akhirnya, kematian hanya seperti bunyi bising motor modifikasi, berisik, keras, menyakitkan sebentar, lalu wusss… hilang.

Saya memiliki pengalaman pasien pertama saya yang meninggal saat stase kedua: IPD. Pasien apneu dan saya segera melakukan prosedur RJP. Bukan pasien yang saya rawat sehari-hari (karena di bangsal, koass stase akan mendapat pasien bed nomor sekian sampai sekian, agar fokus dan tidak setiap hari ganti dokter), tapi saya ingat beliau menderita hepatocarcinoma (kanker hati).

Di tengah RJP, saya terbayang perasaan anak laki-lakinya berusia dua puluhan yang saat itu diam terpaku tidak percaya ayahnya sedang sekarat. Matanya berkaca-kaca tapi tidak menangis, hanya mulutnya bergetar menahan sesak di dadanya. Adik perempuannya bersandar di bahunya ambil menangis keras.

Saya tidak kuasa menahan haru. Sambil terus RJP saya bayangkan ada di posisi mereka. Inikah rasanya memandang kematian?

Pada akhirnya, pasien meninggal. Saya melalui hari itu dengan lesu.

Saya teringat cerita kakak kelas saya beberapa tahun sebelumnya ketika saya masih belajar di kampus.

“Pertama kali menghadapi pasien meninggal, rasanya luar biasa sedih dan menyesakkan. Tetapi pasien kedua, ketiga, dan berikutnya terasa lebih mudah. Bahkan setelah setahun koass biasanya kita bisa dengan mudah bilang: ‘pasien ini ndak lama lagi mungkin meninggal’. Tanpa kesedihan maupun beban.”

Apakah ini sesuatu yang salah?

Mungkin. Kita bisa menangis tergugu saat menonton film di bioskop, atau saat menonton drama Korea. Bagaimana mungkin kita tidak merasa apapun saat kematian nyata di depan kita terjadi? Apakah kematian manusia yang sebenarnya, lebih tidak menyedihkan, dibanding kematian fiksi tokoh fiksi?

Karena itu kita sebagai dokter, harus terus mengasah rasa kita. Dokter memang dibentuk dari pengalaman, begitu juga dengan rasa. Kita memahami kondisi tubuh manusia lebih dari orang lain, kita memahami proses penyakit, juga kinerja obat, lebih dari orang lain. Pengetahuan itu yang menuntut logika lebih dominan daripada rasa. Ketika seseorang meninggal kita cenderung lebih ingin tahu kenapa ia meninggal, sebagai proses belajar dan memperoleh pengalaman, daripada menyelami rasa kematian itu sendiri.

Meninggal? Iya lah. Kondisi livernya sungguh berat. Hasil lab kemarin sudah sangat menggambarkan itu. Ditambah munculnya cairan di paru-paru sehingga kematian memang sudah sangat dekat.

Respon kita begitu didominasi akal, karena memang begitulah seharusnya dokter. Porsi rasa harus kecil agar kita fokus dan mampu memutuskan yang terbaik bagi pasien. Karena itu sangat tidak disarankan dokter mengoperasi keluarganya sendiri. Dikhawatirkan objektifitas penilaian dan pengambilan keputusan didominasi rasa ketimbang akal.

Lantas kenapa kita harus mengasah rasa, Dok?

Mengasah rasa harus tetap dilakukan agar sisi humanis kita terjaga. Ingat, kita berhadapan dengan manusia, dengan segala atribut sosial, istri/suami, anak, cucu dan yang lainnya. Disitulah keunggulan dokter yang mampu mengolah rasa secara proporsional, ia akan mampu me’rasa’ menjadi pasien. Maka pertimbangannya akan lebih personal dan pasien tidak merasa diperlakukan sebagai robot.

Lantas bagaimana caranya, Dok?

Pernah mengenal pasien dengan sangat baik? Saya semasa IPD pernah punya pasien yang selalu menanti saya setiap pagi. Tn. A, 43 tahun, menderita hepatocarcinoma. Untuk apa beliau menanti saya? Untuk menyakiti beliau. Ya, setiap pagi saya bertugas meng-evakuasi cairan asites dari perut beliau. Dan setiap pagi pula beliau menyapa saya ceria, dan sembari menunggu evakuasi asites selesai biasanya beliau cerita banyak hal tentang kehidupannya.

Itulah caranya. Kenali pasien kita dengan baik. Itu akan membantu kita sedikit memahami rasa, dan mengasah rasa.

Saya memang tidak melihat bagaimana tn. A meninggal. Tapi saya yakin andai saya menyaksikan, saya akan menangis sedih. Keriangan beliau, keramahan beliau, cerita-cerita beliau, ketabahan beliau dalam menghadapi jarum setiap pagi dan nyeri saat evakuasi asites telah menyentuh saya.

Seorang residen pernah melihat saya sedih ketika pasien saya meninggal saat stase bedah. Dia berkata: ‘yah, memang kondisinya berat. Dan itu memang menyedihkan.’ Sambil melihat dan memilah tumpukan status pasien.

Kematian, memang seiring dengan pengalaman kita sebagai dokter, akan semakin mudah. Sangat jarang menemukan kesedihan dalam laporan kematian pasien. Begitu pula dalam mimik para supervisor ketika beliau visite. Tetapi memang akan sangat sulit, bila kita membawa emosi (seperti yang saya rasakan untuk tn. A) dalam menangani pasien. Apalagi pasien ICU. Saya rasa, ini adalah bagian dari pendidikan menjadi dokter.

Bagaimanapun juga, saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah keyakinan, bahwa dokter perlu mengasah rasa, sekecil apapun porsinya. Rasa itu yang mengingatkan kita bahwa kita manusia, dan pasien kita manusia. Mengasah rasa, tidak akan menumpulkan logika, justru menyentuh logika agar tajam dan proporsional. Humanis.