“What profession would you pursue if you couldn’t do anything related to medicine?”

Nah!
Pernah mikir seperti ini?

Saya? Sering. Bahkan dulu ketika saya belum masuk FK pun, meski bercita-cita menjadi dokter, saya harus siap kalau-kalau saya tidak diterima di FK. Pilihan saya saat itu, menjadi psikolog!!

Hehe… sama dengan dokter kan? Sama-sama menghadapi manusia. Saya mengenal diri saya sepenuhnya bahwa saya suka berhadapan dengan manusia. Sebagai rekan tim, rekan kerja, bahkan pasien.

Setelah menjalani pendidikan di FK, saya menyadari satu lagi gairah yang membakar semangat saya. Passion saya adalah menjadi seorang speaker alias pembicara. Berdiri di depan banyak orang, menyampaikan banyak hal, mengubah pola pikir banyak orang dengan kekuatan kata-kata kita, menyaksikan para pendengar kita tersenyum, tertawa, menangis mendengar lontaran kata kita.

Berawal dari aktif di banyak kegiatan mahasiswa, beberapa kali diminta adik kelas mengisi materi motivational training ataupun materi-materi kemahasiswaan, saya begitu mencintai kesempatan untuk berbicara di depan banyak orang. Sayang kesibukan koass sempat membuat saya kesulitan menerima tawaran mengisi materi.

Sekarang? Menjadi dosen adalah salah satu media passion saya ini. Sambil menunggu job menjadi pembicara menghampiri lagi. Tapi menjadi dosen mirip dengan speaker, dosen juga diharuskan mengolah materi kuliah menjadi (harus) menyenangkan. Tidak membuat ngantuk, dan mahasiswa kita mengerti. Serius tapi santai. Dan itu susah (ternyata). Hehehe…

Mahasiswa itu sudah bawaan genetiknya untuk mengantuk. Mungkin perlu dilakukan penelitian: sleepy disorder in university student, is it hereditary? Mungkin ada gen yang khusus menyala saat usia di atas 18 tahun. Gen mengantuk. Hehe…

Lha kok jadi ngomongin mahasiswa. Hehe… tapi begitulah. Menurut saya, dokter adalah profesi kita, tetapi kita harus menemukan passion di bidang lain yang bisa membuat kita relaks, menikmati detik demi detik melakukannya. Bila kita sudah menemukan aktifitas yang memicu gairah kita, percayalah, itu (harusnya) akan menunjang profesi dokter kita.

Kok bisa, Dok?

Bisa. Karena passion itu akan menjadi stress reliever. Bahkan kita akan merasa lebih nikmat daripada belajar. Benar kan? Coba lihat teman sejawat saya. Ada yang suka menyusun atau merangkai benda-benda kecil menjadi bros, asesoris kerudung, dan bisa dijual!! Jadi menguntungkan! Dan mungkin dia lebih menikmati membuat asesoris-asesoris itu daripada praktik dokter.

Atau teman sejawat yang passion-nya mendaki gunung. Badan pegal-pegal kalau seminggu ndak bersentuhan dengan alam. Mau gunung sejauh apa dan seberat apa juga dijabanin. Denger-denger, sekarang ada semacam master expedicine and wilderness medicine. Wow kan?!

Ada yang suka fotografi, doyan hunting foto. Ada yang suka menulis cerpen sampai doyan ikut kompetisi macam 30 hari menulis surat cinta atau 14 hari menulis cerpen atau yang sejenisnya.

Ada juga yang suka ngoprek gadget. Komputer, laptop, tablet, HP, semua dilahap.

That is fine.

Temukan passion-mu. Lakukan. Dokter bukanlah profesi yang bisa kita tinggalkan. Tetapi menjalani passion kita tetaplah menyenangkan. Bila bisa menghasilkan uang, jauh lebih baik. Apalagi bisa digabung sama profesi medis kita.

Lihat bang Ferdiriva dan Tompi.

Kita bisa!!