“What profession would you pursue if you couldn’t do anything related to medicine?”

Nah!
Pernah mikir seperti ini?

Saya? Sering. Bahkan dulu ketika saya belum masuk FK pun, meski bercita-cita menjadi dokter, saya harus siap kalau-kalau saya tidak diterima di FK. Pilihan saya saat itu, menjadi psikolog!!

Hehe… sama dengan dokter kan? Sama-sama menghadapi manusia. Saya mengenal diri saya sepenuhnya bahwa saya suka berhadapan dengan manusia. Sebagai rekan tim, rekan kerja, bahkan pasien.

Setelah menjalani pendidikan di FK, saya menyadari satu lagi gairah yang membakar semangat saya. Passion saya adalah menjadi seorang speaker alias pembicara. Berdiri di depan banyak orang, menyampaikan banyak hal, mengubah pola pikir banyak orang dengan kekuatan kata-kata kita, menyaksikan para pendengar kita tersenyum, tertawa, menangis mendengar lontaran kata kita.

Berawal dari aktif di banyak kegiatan mahasiswa, beberapa kali diminta adik kelas mengisi materi motivational training ataupun materi-materi kemahasiswaan, saya begitu mencintai kesempatan untuk berbicara di depan banyak orang. Sayang kesibukan koass sempat membuat saya kesulitan menerima tawaran mengisi materi.

Continue reading

Advertisements