Selamat pagi semua…
Hehe… Ini adalah hari pertama buka lapak sendiri. Pagi-pagi begini biasanya masih males-malesan di sofa sekarang duduk di ruang praktik, rapi.

Nah sembari menunggu pasien, saya mau berbagi tulisan. Mau? Maauu? Alhamdu… lillaaah. Eh, salah. Misfokus. Hehe…

Teman-teman pembaca sekalian, beberapa saat yang lalu, lagi-lagi akun (at)triomacan2000 men-jlentreh-kan dosa para dokter. Dalam twitnya, dokter, secara tersirat adalah sosok yang tidak profesional, menghisap uang pasien (macam vampir saja), malas visite, kalau visite tak ditengok pula itu pasien. Hemmm… berat. Sungguh berat. Bahasa kerennya nih, Bedside manner yang sangat buruk. Bahkan ada yang bilang dehumanisesyen (dehumanization kali ya. Hehe…)

Seperti apa sih Dok, yang kita bilang bedside manner yang buruk atau dehumanisesyen itu?

Bila teman-teman pernah menjenguk sanak saudara handai taulan yang terbaring lemah di ruang putih bersih dengan berbagai macam selang tersambung… (oke, stop dramanya. Terima kasih.) Ah intinya saat kita menjenguk si sakit. Perhatikan saat dokter visite. Beberapa contoh, dokter memasuki kamar pasien dan langsung menempel-nempelkan stetoskop ke dada pasien, tanpa permisi atau perkenalan. Atau datang, tapi seringnya menanyai perawat yang mendampingi tanpa bertanya pada pasien. Atau dalam percakapan tampak dokter jijik dengan penyakit atau bahkan menyebut pasien dengan nama penyakitnya, bukan dengan nama.

Itulah bad bedside manner sekaligus dehumanization. Apa sih artinya dehumanization?

Dehumanization means denying a distinctively human mind to another person.

Jadi, dehumanisesyen itu saat benak kita tumpul dalam mengapresiasi kondisi mental orang lain. Akhirnya apa? Kita lupa kesakitan pasien, kita lupa keputusasaan pasien, kita lupa kelelahan pasien. Yang muncul adalah sikap meremehkan, mengentengkan, bahkan tidak jarang menjadi membeda-bedakan pasien (uang, ras, agama, bahkan gender).

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Perspectives on Psychological Science,[1] kita bisa tahu ternyata dehumanisasi (ini yang bener ya) terjadi dimana-mana. Tidak hanya di Indonesia. Dalam artikel tersebut juga disebutkan bagaimana cara kita untuk membuat pasien kita merasa dimanusiakan oleh para dokternya.

Berpakaian Yang Pantas

Harus diakui, dokter saat ini sudah tidak sama lagi dengan jaman dulu. Dimana dokter lekat dengan kemeja putih, celana kain, atau rok bagi para dokter perempuan. Kini banyak sekali dokter pakai celana jins, kemeja kotak-kotak (nyoblos Jo*owi nih) yang dua kancing teratas dilepas, kadang dokter laki-laki pakai kalung.

Bagi saya, tidak ada masalah. Selama attitude kita bagus harusnya tidak masalah. Tetapi bagi dokter baru, menurut saya kita posisikan diri pada dokter ideal dalam mindset masyarakat Indonesia. Pasien akan lebih mudah menerima saran, masukan, dan kritik bila kita memiliki ‘penampilan’ seorang dokter dalam benak mereka.

Tidak percaya? Perhatikan reaksi pasien. Bila menghadapi dokter yang berpakaian konvensional, pasien akan lebih respek, terbaca dari jawaban-jawaban yang muncul dari anamnesis. Kita perhatikan pasien yang berobat ke dokter dengan dandanan masa kini.

“Wuah dokternya gaul.”

Hehe… reaksi yang berbeda. Tetapi apakah jelek? Tidak. Hanya berbeda. Apakah kalau gaul jadi dehumanisasi? Tentu tidak. Tetapi untuk menghindari dehumanisasi, salah satu tipsnya adalah dengan berpakaian yang pantas. Gunakan jas dokter. Nametag atau pin. Dalam menghadapi pasien, pakaian tetap menjadi porsi paling besar.

Salah seorang sahabat sejawat yang bertugas di UGD RS kecil di Kabupaten Blitar mengatakan, saat dia menggunakan kaos dan celana panjang biasa, dia sering hanya dipanggil ‘mas’ sama pasien. Padahal sahabat saya ini pakai jas dokter loh. Pernah dia pakai kaos berkerah, masih sama.

Akhirnya dia pakai kostum resmi, kemeja dengan celana kain, dan ajaibnya, semua pasien terpana dan akhirnya menyebut ‘Dok’. Sungguh pesona dokter akan muncul dan membahana justru saat kita menggunakan pakaian profesional. Bukan pakaian ke mall.

Berikan Kesempatan Untuk Memutuskan Pada Pasien

Sadar ndak, sakit itu sendiri adalah proses dehumanisasi secara internal dalam benak pasien. Sakit itu menjarah kemampuan berpikir rasional, merampok kebebasan beraktifitas, dan membawa pergi kepekaan diri. Hehe… (jangan lebay Dok. Plisss…)

Maksudnya, sakit sendiri telah memberikan batasan-batasan bagi pasien. Entah itu batasan beraktifitas, batasan berkreasi, juga batasan mental. Nah saat inilah peran kita muncul. Kita apresiasi keterbatasan yang mereka rasakan dengan memberikan untuk ikut memutuskan, entah itu terkait dengan pilihan terapi, media diagnostik atau perawatan.

Berbincang-Bincang Tentang Hidup Pasien

Ini yang sering dilupakan. Kadang pembicaraan informal jauh lebih sakti loh daripada pembicaraan kaku dokter-pasien. Tanyakan pada pasien tentang keluarga, pekerjaan, hobi, prestasi, dan pergaulan mereka. Pada dasarnya, manusia itu suka menbicarakan dirinya sendiri. Benar?

Beri Tanggung Jawab Kecil Pada Pasien

Ini sebenarnya jarang kita lakukan. Tapi sangat mungkin kita praktikkan. Poin ini sebenarnya terkait dengan dehumanisasi internal. Dengan kita memberikan tanggung jawab kecil seperti merawat dan menyiram pot tanaman di kamar akan menyemangati pasien dalam menghadapi hari-harinya. Tidak hanya baring dan dikunjungi tamu saja.

Mengerti Kondisi Pasien

Kita pasti berbeda dengan pasien. Berbeda ras, berbeda agama, juga berbeda gender. Tidak masalah. Coba untuk menghidupkan sense of humanity kita. Caranya? Pikirkan bagaimana kalau pasien itu kita, atau keluarga kita. Bagaimana rasanya sakit, atau tidak bisa beraktifitas normal.Biasanya itu cara jitu untuk ikut mengerti kondisi pasien.

Hindari labelling

Hindari menggunakan nama penyakit atau kode bed pasien dalam memanggil pasien sekalipun hanya dalam pembicaraan sesama dokter. Tapi sulit juga kalau jumlah pasiennya sebangsal sendiri. Hehehe… tetapi setidaknya kita berusaha menghindari.

Personalisasikan Pasien

Pada dasarnya, manusia itu senang ketika dia menjadi objek pembicaraan (dalam hal positif tentunya). Jadi sempatkan menyampaikan sedikit tentang mereka pada orang lain, misal perawat.

“Eh Sus, ini Pak Hendra sudah beberapa kali juara lomba Tenis lho. Makanya meski usia 40an begini masih sangat sehat.”

Berikan sedikit tentang prestasi, pengalaman unik, hobi pasien yang telah dibagikan kepada kita, pada orang lain. Ini membantu pasien untuk merasa dihargai dan tentu pasien juga senang.

Fokus Pada Subjek (Pasien) dan Objek (Penyakit)

Sering sekali kita terlalu asyik pada objek, yaitu penyakit pasien. Menurut saya, kita harus bisa berpikir tentang subjek, tentang rasa sakit pasien. Ini membantu memunculkan empati dalam sikap kita.

“Bapak ini menderita Diabetes Mellitus. Kencing manis Pak. Kecing manis ini sangat berisiko memunculkan komplikasi ke banyak organ, liver, ginjal, bahkan otak. Mari kita periksa organ Bapak satu per satu agar segera bisa dideteksi lebih dini.”

Kemudian pasien pingsan.

Dokter adalah profesi istimewa. Karena kita behubungan dengan manusia. Maka sudah sewajarnya kita memahami manusia dengan lebih utuh, sebagai manusia, bukan hanya sekumpulan organ.

Bagaimanapun juga, tidak semua langsung bisa diterapkan. Tetapi coba lakukan hal sekecil apapun, bila datang dari hati, pasien akan merasakannya. Maybe it is just small thing to do for us, but it is BIG appreciation for patient…