Ini adalah barisan curhat saya. Hehe… ketika saya harus menunggu supervisor untuk ujian di stase Ilmu Penyakit Dalam (IPD).

Stase IPD memiliki tiga linimasa. Linimasa pertama adalah empat minggu pertama disebut koass junior. Di waktu ini jaga adalah makanan sehari-hari. Linimasa kedua adalah empat minggu kedua disebut koass intermediate. Ini adalah masa bersantai dengan jaga yang tidak terlalu berat. Linimasa ketiga adalah empat minggu terakhir disebut koass senior. Masa-masa presentasi kasus (masing-masing kelompok harus menyediakan lima laporan kasus sesuai request pembimbing). Masa ini juga masa ujian.

Di masa koass senior ini pula biasanya dua minggu terakhir digunakan untuk ujian. Dan saya menjadi koass pertama yang ujian dengan dr. G, SpPD-KPTI. Senang sekali. Segera selesai dan menikmati masa-masa selesai koass IPD. Ternyata oh ternyata.

Ujian dengan dr. G terkenal prolong (durasinya lamaaaaaaaaaa). Sejak senin minggu ketiga saya menunggu di depan ruang beliau menanti dengan setia untuk diuji. Catatan: koass lain belum ada yang ujian.

Dalam durasi dua minggu itu, saya hanya diuji tiga kali. Saya hanya bertemu muka dua kali. Pertemuan pertama saya diberi beberapa soal disuruh dijawab di kertas-catat: kami tidak bertatap muka. Pertemuan kedua terkait dengan kasus ujian. Pertemuan ketiga untuk menyerahkan tugas paper.

“Besok kembali kesini ya. Kita akan ujian lagi.”

Esoknya, saya menanti sejak jam delapan.

-Jam 09.00-

“Aduh Dik, saya masih harus rapat. Tunggu sampai jam satu ya.”

-Jam 14.30-

“Wah tadi rapatnya molor. Besok saja ya kamu kembali.”

Begitulah.

Hari demi hari saya lalui dengan menjadi arca penjaga. Bahkan setelah melalui minggu pertama saya didaulat menjadi resepsionis handal.

“Mas, dr. D ada?” Tanya seorang mbak.

“Waduh Mbak. Dr. D ada menguji koass sampai jam satu siang nanti.” Jawab saya.

“Kalau dr. A ada mas?” Tanya seorang mas.

“Kalau dr. A ada rapat.” Jawab saya kalem.

“Kira-kira jam berapa beliau bisa saya temui?” Tanya seorang bapak yang juga mencari dr. A.

“Mungkin Bapak bisa saya temui esok hari. Karena biasanya beliau tidak kembali ke ruangan bila ada rapat sampai sore. Apalagi tadi tas kerja beliau bawa.” Jawab saya yakin.

Hehe… hebat kan? Awalnya mereka ragu. Namun akurasi saran saya sampai pada angka 98%. Saya hanya salah ketika memberi informasi bahwa dr. G ada rapat sampai jam satu siang, eh beliau baru datang jam tiga sore.

“Gimana Dik, potongan rambut saya?”

Uhuk. Hehehe… ternyata beliau mampir potong rambut dulu.

Dan di tengah kegalauan itulah lahir syair ini. Lebay dan saat sekarang saya baca pun rasanya badan kaku dan perut mulas. Tapi gimana-gimana juga ini karya saya. Hehe…

Hingga akhirnya saya baru benar-benar selesai ujian di hari jumat minggu keempat.

Pasir berbuih,,
Laut mengatur irama angin,,
Dikte kan detik demi detik
Tanpa tahu ujung dunia

Badai menciut
Seolah takut pada cacing
Yang menggeliat geliat
Jutaan, tidak, ratusan juta geliat

Lelah sudah,,
Dunia jungkir balik,,
Hati dihibur dengan umpatan
Senang dibayar dengan tangisan

Hancur sudah,,
Seolah angin yang diatur ombak
Dikte kan langkah
Seperti boneka
Tak punya suaka
Hanya menyimpan duka

Mungkin dunia berbaik hati
Dengan menyimpan pelangi
Tapi masihkah sudi
Aku memandangnya?

Hati sudah lelah
Hela tak pernah jeda

Kapan pusaran ini berhenti?

Tiap akan menunduk,badai menggeliat
Diktekan angin

Tiap akan berhenti,cacing tertawa terbahak
Geliatkan angin

Tertawa kok disalahkan?
Apa tidak bisa tidak tertawa?
Kenapa bisa tertawa?

Angin memang egois
Tidak mau dikte kan ombak
Angin memang egois
Tidak suka pada tawa

Hei,aku masih berputar
Badai masih berjalan bung
Sahutnya

Hahaha
Inikah dunia
Dimana angin tersisa angin lemah
Sisa kesedihan
Merasa ditinggalkan
Dikucilkan
Tanpa tahu harus berpijak
Atau berpegang

oleh: Dicky – Saat Penantian Dua Minggu Ujian Koass IPD