Cado Cado Series

Haha… Ayo, siapa yang berani menjawab ajakan saya di judul postingan ini dengan jawaban: YUK!!

Hehe… Apa kaitannya tho Dok? Wong mau nge-review kok malah diajak koass lagi.

Tapi begitulah kesan saya setelah membaca Cado-Cado (Catatan Dodol Calon Dokter) karya Bang Ferdiriva. Saya seolah diajak mengenang, tersenyum, bahkan juga ikut trenyuh dengan membaca pengalaman-pengalaman beliau sebagai koass bertahun-tahun yang lalu. Lantas, yang terbersit, mau koass lagi ndak  yaa… jawabannya: Nggak.

Koass memang selalu manis untuk dikenang. Tapi tidak untuk diulang.

Bang Ferdiriva dalam buku ini mengisahkan kehidupan koassnya bersama dua tokoh sentral, Evie dan Budi. Secara bergantian dan kadang ditemani orang ketiga (bukan selingkuh, lho) kisah koass konyol ini mengalir. Favorit saya untuk orang ketiga ini adalah Cilmil yang bergabung dengan Bang Ferdiriva di lab. Ilmu Kesehatan Anak (IKA). Kenapa? Karena dalam bab ini Bang Ferdiriva menggambarkan kehidupan koass dengan sangat nyata, apa adanya, meski mungkin tidak dalam porsi besar (bukan makanan sih). Apa itu?

Koass itu kehidupan sosial. Tidak akan bisa Soliter. Sehebat apapun kita, sebagai koass kita membutuhkan orang lain. Di sini interaksi Cilmil, Riva, dan Budi sangat kental dan juga asyik. Tidak lurus. Karena koass memang tidak perlu lurus-lurus banget, yang penting kita tidak main-main. Kita harus serius dan bersungguh-sungguh menjalani koass, tapi sesekali ngeplas (ngeplas itu aktifitas nakal, meninggalkan tugas stase atau jaga kita di rumah sakit) juga perlu untuk kesehatan mental. Hehe… seperti dalam cerita di Lab. IKA, Bang Ferdiriva ngeplas makan bakso di suatu tempat meninggalkan tugas stase dengan ambulans pula. Fyuh. Dahsyat ngeplas-nya.

Lantas bagaimana cerita-cerita lainnya? Cerita lainnya masih mewakili aktifitas koass kok. Meski tidak dalam porsi besar (lagi, bukan makanan lho). Seperti pelajaran empati yang dikemas apik melalui tokoh Bang Hendra yang justru tidak jadi dokter pada akhirnya. Ada juga pelajaran tentang giving bad news. Melalui tokoh dr. Zzz yang selalu mengantuk tapi justru bersinar dahsyat di akhir cerita dengan petuahnya untuk Bang Ferdiriva. Apa itu? Baca dong. Hehehe…

Lantas menurut Dokter?

Ya dibeli. Hehe… buku ini adalah awal dari tiga buku cado-cado series namun tidak saling berkaitan. Saya sendiri memilih menunggu ketiganya lengkap baru membeli dan membaca mulai seri pertama. Secara gaya kepenulisan, bahasa yang ringan (yang pasti tidak sesuai EYD, hehe…) karena memang sasarannya anak muda dan model buku harian (gaya Raditya Dika yang telah kita kenal sebelumnya) menjadi sangat bersahabat bagi mereka yang penat dengan rutinitas. Di awal buku, humor terasa belum terlalu menggelitik, terasa kaku dan hambar, tetapi kian lama tampaknya Bang Ferdiriva menemukan ‘cara’ ampuh menetaskan kisah lucunya dengan pas dan getas.

Satu catatan besar dan mungkin tidak disadari sebagian besar pembaca, sangat sulit mengemas kisah lucu koass karena kondisi, interaksi dan situasi yang tidak familiar dengan pembaca. Bagi sebagian penulis (macam saya ini) akan khawatir akan terjebak dengan lebih banyak menjelaskan tentang sistematika koass dan justru lupa untuk berhumor-ria. Tetapi Bang Ferdiriva bisa fokus berjoget dengan imaji lucu tanpa terlalu njlimet menjelaskan bagaimana koass menjalani hari-harinya secara utuh.

Inilah potret kecil perjuangan dokter muda di Rumah Sakit. Potret kecil ini dipersembahkan seorang koass yang memandang aktifitas koass-nya dari sudut pandang humoris. Di tengah hiruk pikuk kesibukan koass, Bang Ferdiriva bisa menangkap banyak hal untuk di-tertawa-kan dan dipersembahkan untuk membuat tertawa bagi yang membacanya.

Tidak percaya? Simak kisah tentang teman koass dengan bau badan yang luar biasa. Bagi sebagian besar kita mungkin hanya terlintas keluhan, tapi Bang Ferdiriva justru menangkap kekonyolan yang muncul dan mengemasnya dengan baik. Simak juga kisah tentang teman yang pandai tapi justru sering underestimate dengan teman lain. Banyak kisah koass ini justru dari hal sederhana yang sering terlewat oleh indera kita, tapi diolah dengan menarik dan lucu oleh Bang Ferdiriva.

Buku yang layak dibaca.
Dan saya sudah tidak sabar menyobek plastik pembungkus Cado-Cado Kuadrat.

Sudahkah Anda membaca Cado-Cado?