Beberapa pekan sebelumnya, saya berkesempatan menjadi tutor modul skill. Kali ini tentang history taking. Karena materi ini diberikan kepada mahasiswa semester satu, maka di awal, saya mengawali tutorial kali itu dengan sebuah pesan, bahwa menghafal checklist itu perlu. Wajib bahkan. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana keluwesan kita dalam “menanya-nanyai” pasien. Bagaimana pasien tidak merasa di-‘interogasi’ oleh dokternya.

Seperti biasa, saya me-review secara keseluruhan dan men-‘coba’ beberapa mahasiswa untuk role play dengan saya sebagai pasien. Terlihat beberapa canggung bahkan sambil tersenyum bingung. Setelah mahasiswa saya lepas untuk mandiri role play, semakin terlihat kebingungan dan kecanggungan. Kalimat-kalimat bernada diktasi, seperti membaca urutan checklist, banyak jeda untuk recall –pertanyaan apa lagi yang belum saya tanyakan, apa pertanyaan saya sudah cukup, apakah pasien nyaman.

Setelah kami diskusi, muncul sebuah keluhan. Betapa sulitnya memposisikan diri sebagai dokter. Saya tersenyum.

“Dok, menanyakan pertanyaan standar saja begitu susah. Bagaimana kalau pasien dengan penyakit seksual yang mungkin semakin tidak mau terang-terangan menjelaskan kondisi sakitnya?”

Hehe…
Jangankan kepada pasien, kepada teman kita dalam role play sekalipun sebagai pasien imajiner, akan sangat sulit melakukan anamnesis dan menggali data. Apalagi ini terkait dengan pertanyaan-pertanyaan sensitif seperti: dengan siapa saja anda pernah melakukan hubungan seksual (seperti yang tercantum di checklist). Anda membaca mungkin tidak masalah, tetapi bayangkan bagaimana caranya kita ingin tahu apakah dalam satu minggu terakhir pasien berhubungan dengan seseorang yang kita curigai menularkan penyakit. So Awkward!!

Lantas bagaimana dong, Dok?

Latihan. Saya sering memberikan tips untuk meditasi sejenak sebelum latihan. Entah itu sekedar role play atau bahkan akan ujian OSCE. Pejamkan mata sejenak. Bayangkan jas putih itu kita kenakan sebagai dokter (benar-benar dokter) dan kita menghadapi pasien yang benar-benar belum kita kenal. Rasakan ilmu kita meresap sejenak. Rasakan sikap seperti apa yang diharapkan pasien, tutur apa yang kita harapkan menyentuh hati pasien, gesture apa yang bisa kita berikan dalam berempati. Rasakan sengatan beban tanggung jawab memeriksa tubuh manusia yang penuh dengan fungsi luhur Sang Pencipta.

Apa yang kira-kira akan kita rasakan? Serius. Fokus. Dan dorongan untuk selalu menjadi lebih baik. Maka role play pun akan kita jadikan media latihan dengan serius dan baik meski juga tetap santai dan penuh canda.

Harapannya apa sih, Dok?

Menjadi mahasiswa FK, menjadi spesial karena kita harus memaksa diri kita untuk segera menge-set mindset di kepala kita untuk segera menjadi dokter. Tentu berbeda dengan mahasiswa fakultas lain, kita yang berhadapan dengan manusia, diharuskan meraih kepercayaan pasien dalam menangani tubuhnya dan melakukan pemeriksaan yang detil. Kepercayaan pasien tentu sangat terkait dengan postur, pakaian, intonasi bicara dan sentuhan-sentuhan empati. Dan itulah yang harus dikuasai dengan segera oleh mahasiswa FK semester satu.

Lantas kenapa diberikan pada mahasiswa semester satu?

Pertama. Karena pendadaran sikap merupakan pendidikan karakter. Dan pendidikan karakter membutuhkan waktu yang sangat lama dengan intensitas tinggi. Dibutuhkan kesadaran tinggi dari mahasiswa untuk segera upgrade diri.

“Kenapa sih Dok, aturan pakaian mahasiswa FK sangat ribet?”

Karena itulah proses percepatan yang dibutuhkan untuk segera update mindset kita sebagai dokter. Kita harus meresapi peran dokter dalam kehidupan sehari-hari termasuk sikap dan pakaian. Sikap empati, attitude yang profesional, dan gestur-postur tubuh harus kita latih dan temukan bentuk yang paling nyaman dengan gaya kita.

Apakah saya berlebihan? Lebay mungkin bahasa kerennya. Mungkin. Tapi saya rasa nilai-nilai itu masih berlaku di masyarakat kita, sampai sekarang. Gaya-gaya konvensional dokter masih menjadi tolok ukur kepercayaan masyarakat. Percayalah.

Kedua. Tutorial skill di semester satu menyediakan atmosfer dengan tekanan yang rendah. Maka dengan pelatihan yang panjang berulang-ulang, diharapkan mahasiswa semakin menemukan bentuk wawancara yang sesuai dengan karakternya, yang hasil akhirnya: nyaman dalam ber-anamnesis.

“Saya ingin diperiksa dokter laki-laki dan perawatnya saya minta keluar ruang periksa.”

Selanjutnya pasien akan menjawab pertanyaan dokter dengan malu-malu dan jawaban berputar-putar.

Pasien ini adalah pasien laki-laki dengan Condyloma accuminata pada lubang anus.

Pada saatnya, mereka akan dapat melakukan anamnesis pada pasien-pasien seperti contoh di atas. Dengan luwes. Meski ia adalah dokter perempuan.

Saya yakin.