Ini memang jaga ujian pertama.
Dan mungkin yang paling mengejutkan.

Karena saya menemukan sosok mahasiswa dengan menggunakan daster jingga setinggi betis nan tipis dilapisi cardigan kuning, dan flat-shoes merah. Rambut diikat kruwel-kruwel ke atas kepala. Seperti orang akan berangkat mandi. Atau mungkin ibu-ibu yang akan belanja di tukang sayur kompleks.

Oh come on, Stud. Anda boleh cuek dengan penampilan anda. Tetapi tolong dijaga dan dipertahankan wibawa profesi anda.

Anda adalah mahasiswa kedokteran. So, please try to have an attitude as a Doctor. Anda jadi mahasiswa kedokteran untuk menjadi dokter, bukan? Maka bersikaplah sebagai calon dokter.

Beberapa kali saya menemukan mahasiswa menggunakan kaos datang ke kampus dan bahkan konsultasi dengan dosen. Beberapa mahasiswi menggunakan pakaian seolah mereka mau shopping di mall.

Saya heran. Ada apa dengan gaya berpakaian mahasiswa kedokteran akhir-akhir ini?

Dimana kah disiplin yang dulu santer dengan pakaian standar anatomi? Karena dulu hanya lab. Anatomi yang paling keras dalam menerapkan aturan pakaian.

Saya dulu heran dan sempat tidak menerima alasan adanya aturan pakaian yang sangat konvensional. Terutama standar anatomi-kemeja, celana kain/rok, sepatu resmi. Tetapi menjalani dunia praktik dan berhadapan dengan pasien, mengubah paradigma saya secara drastis.

Sebut saja saya kolot, tidak modern, tidak move on. Tapi sadarkah teman-teman semua nilai dari standar pakaian dokter? Bahwa dalam profesi kita ada tanggung jawab luhur menangani manusia?

Berhadapan dengan manusia artinya bertanggung jawab dalam menganalisis tubuh manusia beserta isinya. Anda tidak merasa terhormat dengan tanggung jawab itu? Baiklah.

Coba memandang dari sudut pandang ini. Siapakah yang menciptakan manusia dengan segala sistem organ bahkan sampai sel terkecil dengan rantai DNA yang begitu luar biasa? Tuhan. Dia yang Maha Luar Biasa. Dan anda masuk dalam kelompok segelintir manusia yang diberi kesempatan belajar kebesaran Tuhan melalui ciptaan-Nya. Segelintir yang memahami bagaimana dahsyatnya kuasa Tuhan dalam tubuh manusia. Dan anda bersikap seolah anda akan berangkat mandi.

“Dokternya ada, Pak?” Tanya pasien yang berobat di klinik.

Saya terkejut. Padahal saya sudah menggunakan jas putih dokter. Selidik punya selidik, rekan saya di klinik itu yang sebelumnya menangani pasien tersebut. Dan rekan saya itu selalu mengenakan paduan kemeja, celana panjang, dan selop (model sepatu pantofel namun bagian tumitnya tidak ada) alias rapi jali. Bandingkan saya yang waktu itu pakai kaos dan sandal jepit.

Kenakan pakaian yang memberi nilai pada profesi anda. Dokter bukannya tidak boleh modis. Harus malah. Tetapi rambu-rambunya jelas. Dari aspek mana anda menghargai diri anda dan pasien jika anda menggunakan skinny jeans dan kaos ketat? Atau daster? Atau rambut yang diikat asal-asalan?

Semoga pesan ini dapat diterima oleh adik-adik saya di Fakultas Kedokteran. Juga kolega-kolega saya. Segala sesuatu pasti disesuaikan dengan kondisi dan kita harus jeli menilai berada pada kondisi mana kita sekarang. Artinya terlalu saklek pun kadang tidak selalu benar. Tetapi bila kita menyadari nilai yang kita bawa melalui pakaian kita, di balik jas putih dokter, maka sesungguhnya kita telah menghargai kebesaran Tuhan melalui diri kita dan pasien kita.

Posted from WordPress for Android