Dok… Saya baru tahu hari ini hari Dokter Indonesia. Selamat ya Dok… Semoga Dokter bisa terus menjadi dokter yang baik dan mengabdi ke masyarakat.

Dokter yang baik…
Saya tahu saya bukan siapa-siapa. Hanya salah seorang masyarakat biasa. Perantau yang setelah bekerja keras bertahun-tahun, akhirnya bisa punya toko sendiri, jual alat olahraga. Toko kecil, Dok. Alhamdulillah berkah.

Tinggal di perantauan dengan berkecukupan tidak membuat saya bahagia. Justru bertahun-tahun saya resah pada orang tua saya di desa terpencil di Jawa. Ayah saya sudah sepuh. 90 tahun, Dok. Ibu saya juga. 78 tahun.

Ayah saya sudah lama, Dok, meminta saya pulang ke Jawa. Kesepian katanya. Tapi apa daya, toko saya masih sangat berat saya tinggalkan. Akhirnya anak saya yang berangkat ke Jawa menemani dan membantu ibu saya merawat bapak.

Bapak itu tidak gampang sakit. Pensiunan tentara, Dok. Dokter bisa lihat sendiri kan, bapak saya masih tegak kala berjalan, senyum masih jua tak pernah tertinggal, bahkan bila dikuasa amarah beliau masih bisa menggebrak meja dengan dahsyatnya. Bapak saya hebat, kan Dok?

Tapi umur memang hak Allah. Dan pelan-pelan bapak mulai mengalami penurunan fungsi tubuhnya. Lebih suka marah-marah. Yah, semoga dokter memaklumi. Beliau yang biasa melakukan semuanya sendiri menjadi terganggu aktifitasnya. Siapa yang ndak tertekan, Dok? Pasti bapak sangat tertekan.

Bertahun-tahun bapak berubah. Marah dan teriak menjadi asesoris wajib hari-hari beliau. Ibu masih tetap sabar. Tetapi betapa trenyuh hati ini ketika ibu membisikkan pertanyaan saat saya menelpon, “kapan balik Jawa, Le…?”

Resah kian membuncah. Adakah yang lebih menyiksa selain penolakan mengabdi merawat orang tua sendiri?

Hingga, satu hari. Hari senin, 15 April kemarin. Saya ingat hari spesial itu, karena saya panik ketika ibu memberi kabar tensi bapak 230/120 sambil menangis. Kalut seketika menyesap. Ada apakah gerangan tubuh bapak? Bisakah bapak sembuh? Kenapa tensinya tinggi sekali? Apakah bapak harus rawat inap? Siapa yang akan menjaga? Bagaimana biayanya? Ah hati saya benar-benar gelisah. Malam itu juga saya terbang dan pulang menuju desa.

Dan sampai di rumah saya tercengang luar biasa. Bapak sedang duduk menonton televisi dengan nyaman. Mendengarkan musik dari televisi itu sambil menggoyang-goyangkan jari-jarinya. Dan yang membuat saya bergetar, bapak tersenyum.

Saya bahagia luar biasa. Sembari bertanya-tanya ada apa gerangan. Apakah kedatangan saya begitu dahsyat sampai mampu mengusir sejenak sakit Bapak? Atau jangan-jangan Bapak sudah dekat dengan….. ah segera saya buang jauh-jauh pikiran buruk itu. Setelah sungkem, dengan tidak sabar saya bertanya seraya bercanda, “Bapak sumringah sekali. Apa karena anakmu datang dari Kalimantan ini…”

Ibu tertawa. “Bapakmu itu bahagia karena habis diperiksa dokter istimewa, Le…”

Saya lebih kaget lagi. “Waduh. Dokter istimewa macam apa ini sampai bisa bikin Bapak tersenyum lebar begini.”

Bapak akhirnya angkat bicara. “Beneran Le… Dokter yang satu ini istimewa. Beliau baik, dan perhatian gitu lho sama Bapak. Bapak puas pokoknya. Bapak mau berobatnya ke dokter itu saja. Enak.”

Sungguh, Dok, saya penasaran. Maka saya berencana menemani Bapak kontrol keesokan harinya. Saya ingin membuktikan seistimewa apa dokter yang satu ini. Dokter yang bisa dalam sekejap mematikan kegusaran Ibu dan memuaskan Bapak.

Hari itu, di mana saya menemani Bapak, saya takjub. Saya melihat bagaimana dokter itu melayani Bapak saya. Agak nyeleneh pada awalnya, saya pikir. Karena pasien langsung diminta berbaring di bed. Lho ndak duduk dulu nih? Dokter ngawur. Aneh.

Tapi lantas saya paham mengapa Bapak saya bisa kesengsem seperti seorang pemuda jatuh hati pada gadisnya. Dokter yang satu ini menanyai kabar Bapak sambil duduk di pinggir bed. Dan sambil mengintip saya melihat dokter itu menggenggam tangan Bapak saya.

Bayangkan Dok. Menggenggam tangan bapak saya!! Sungguh berbeda dengan dokter-dokter yang saya tahu dan saya kenal. Dokter biasanya memeriksa pasien ala kadarnya. Menempelkan alat yang di telinga itu asal-asalan. Tanya singkat-singkat. Bahkan kadang tekun menulis resep dengan sedikit, ya sedikit, melirik pasien. Dokter yang ini terus saja mengajak Bapak ngobrol sembari memeriksa. Terkadang bercanda sambil menyemangati Bapak.

Bapak keluar dari kamar periksa dengan sumringah. “Bapak selesai. Ayo pulang.”

Saya masih penasaran dengan dokter ‘aneh’ ini. “Sebentar Pak. Saya ingin ngobrol dulu dengan pak Dokter.”

Dan di sanalah, pada 15 April itulah, saya mengenal Dokter pertama kali. Dokter menyambut saya dengan senyum. Menjelaskan kondisi Bapak, diagnosis, kenapa bisa sampai pada kondisi tersebut. Lengkap sudah. Apa yang perlu diperhatikan sampai dengan rencana pengobatan.

Sungguh saya tercenung. Di desa saya ini bisa ada dokter yang mau berpraktik. Ada yang bilang Jawa itu maju dan layanan kesehatan sudah lengkap. Tapi saya saksinya. Desa saya masih sangat sulit menemukan dokter yang praktik, apalagi dengan model ‘aneh’ seperti ini. Dan yang membuat saya tercengang, Dokter menangkap ketidakpercayaan saya atas penjelasan Dokter, dan malah mempersilakan saya memeriksakan Bapak ke dokter lain. Weleh. Dokter ini memang super aneh!

Begitulah Dok. Sekilas kisah Bapak saya dengan Dokter. Berbulan-bulan saya dapat lega di perantauan. Apalagi Dokter memberikan nomer HP-nya agar saya bosa sewaktu-waktu menghubungi Dokter untuk konsultasi.

Saya kini memohon. Agar desa saya diberi Dokter seperti itu lagi. Karena kini Bapak sedang menurun kondisinya. Dan beliau bersikeras tidak mau diperiksa kecuali sama Dokter. Betapa gundahnya saya.

***

Cerita Pendek
Terinspirasi kisah nyata.
Dan harapan itu akan selalu nyata.

Wahai Pemuda Calon Dokter dan Dokter Muda.
Maukah Anda menjadi Dokter Yang Aneh?

Malang, 29 Okt 2012.

Posted from WordPress for Android