Saya menghadiri wisuda pascasarjana ITB di Sabuga. Awalnya saya akan menyangka bahwa acara ini akan sangat-sangat membosankan. Dan awalnya memang iya. Bahkan saya tertidur. Hehe…

Tetapi ada satu atau dua atau tiga catatan saya yang membuat hati saya sangat terkesan. Apa itu?

Pertama. Dua sayap di podium ini sangat khas. Sayap kiri dihadiri Lingkung Seni Sunda didampingi para pimpinan program studi. Di tengah adalah Majelis Wali amanat, senat akademik, dan Majelis Guru Besar. Sayap kanan adalah Paduan Suara Mahasiswa didampingi Keluarga Paduan Angklung.

Saya cukup terkesan pada kuatnya kesan budaya Sunda dalam prosesi wisuda pascasarjana ITB ini. Angklung telah membahana mengiringi masuknya Rektor ITB di awal prosesi.

image

We Are Champion - Angklung

Kedua. Ada satu acara yang dikemas dengan sangat kocak, cair, bahkan memancing gelak tawa. Yaitu pengumuman wisudawan yang lulus cum laude. Saya kurang tahu siapa yang tadi mengumumkan, tetapi beliau dapat mengumumkan sesuatu yang bersifat resmi dengan sangat fun. Beliau membacakan formulir yang telah diisi oleh para wisudawan dengan sangat lucu. Formulir itu diantaranya berisi: saat belajar yang paling cocok, hobi, kesan menarik selama kuliah, pesan bagi yang belum lulus, motivasi meraih prestasi, dan kesan bagi ITB.

Beberapa yang sangat berkesan, ada yang mengisi: kesan menarik selama kuliah – pernah digigit anjing. Atau pernah berfoto bersama dengan Luna Maya. Ada pula yang mengisi: pesan bagi yang belum lulus: jangan pernah menunda mengerjakan tesis hingga detik terakhir bila masih ingin waras. Dan di kesan bagi ITB wisudawan ini menulis: terima kasih ITB, telah membuat saya arsitek dengan 50% kewarasan dan 50% ketidakwarasan.

Dengan gaya pembawaan yang unik, pengumuman wisudawan cum laude ini jauh lebih berkesan bila dibandingkan dengan hanya mengumumkan nama-nama. Dan sukses membuat kami tergelak selama acara.

Ketiga. Sangat terasa aura CINTA ITB di sini. Padahal mungkin tidak semua wisudawan menyelesaikan sarjana di ITB. Tetapi dalam kurun studi pascasarjana, kampus ITB mampu menghipnotis dan ‘mencuci otak’ (bahasa para wisudawan cum laude tadi) untuk begitu mencintai ITB.

Kenapa kah? Terlintas di benak saya sebuah suasana akademik yang kental, dengan para dosen yang kompeten tidak hanya dari sisi akademik juga praktis. Kampus yang begitu luas menyediakan sarana ekspresi mahasiswanya. Dan satu lagi, rasanya kesan intelektualitas tinggi telah begitu mendarah daging sampai-sampai mampu mengubah susunan genetik mahasiswanya untuk meramu harmoni dan terus memperkuat kesan intelek ini.

ITB mampu meluluskan manusia dengan jaminan kesetaraan intelejensi tinggi serupa dengan para profesor-profesor pengajarnya. Budaya akademik ini tidak pernah saya temui di prosesi wisuda almamater saya (saya mengikuti prosesi wisuda sarjana dua kali). Luar biasa!

Terlintas kampus saya tercinta, almamater tercinta. Bisakah kami satu saat merasakan aura seperti ini? Mungkin akan terjadi suatu saat. Di saat kami mampu menjadi rumah bagi para kaum pegiat pendidikan dan penelitian. Di saat kami mampu menjadi tempat bertumbuh ideal bagi para manusia-manusia unggul untuk difasilitasi menjadi tokoh-tokoh besar Indonesia pada masanya. Di saat kami mampu menjaga standar tinggi penerimaan mahasiswa, mampu mengoptimalkan kualitas mahasiswa dan dosen, dan berkelanjutan menjaga suasana intelektualitas yang kental.

Bukan kah kita harus bermimpi besar?

Demikian kesan saya terhadap prosesi wisuda pascasarjana ITB. Seraya mendengarkan alunan musik sunda yang mengiringi dipanggilnya satu demi satu wisudawan dalam prosesi pemberian ucapan selamat oleh Rektor.

Bagaimana kampus rekan pembaca semua?

Posted from WordPress for Android