Yup!
Setelah beberapa saat lalu saya membahas tentang bagaimana bekerja sama dengan residen, kini saya akan bahas dari sudut pandang berbeda.

Koass. Kelompok orang yang selalu salah. Ada yang menafsirkan begitu. Hehe… benarkah Dok?

Sudah bukan rahasia lagi, koass merupakan kasta terbawah dalam piramida tim dokter di Rumah Sakit. Maka kita memang selalu dituntut untuk melakukan segalanya dengan benar. Kita dianggap siap untuk melakukan banyak hal mulai tindakan medis sampai administratif. Dan juga bukan rahasia bahwa sulit menghindari kesalahan dalam hari-hari kerja koass. Dengan tugas ilmiah, stase, jaga, yang tidak pernah berhenti ada kalanya konsentrasi kita berada pada kadar terendah, dan terjadilah kesalahan.

Itu wajar. Manusiawi. Asalkan kita telah melakukan langkah-langkah prevensi terhadap terjadinya kesalahan. Tetapi kadang yang sulit adalah mendapatkan penilaian negatif, entah dari residen maupun supervisor. Bagaimana tips dan trik menghadapi penilaian buruk ini?

Pastikan Kritikan Itu Benar Dan Masuk Akal. Sebelum bereaksi terhadap sebuah penilaian negatif, renungkan dulu tentang benarkah saya pantas dinilai seperti itu? Jangan-jangan ada kesalahpahaman.

“Kamu itu suka ngilang ketika jaga.” Kritik residen A, residen jaga bangsal suatu ketika.

Benarkah? Saya berpikir berulang-ulang. Saya mengingat-ingat kapan saya jaga dengan residen ini. Dan akhirnya saya ingat bahwa saya hanya sekali saja jaga dengan residen ini, dan saat itu memang ada tugas dari chief residen (residen jaga dengan pangkat lebih tinggi) untuk membantu residen yang jaga di UGD. Akhirnya memang saya ngilang. Tapi ke UGD. Rupanya sang chief tidak menyampaikan ke residen jaga bahwa saya ditugaskan ke UGD.

Kesalahpahaman ini seringkali terjadi. Bisa dipicu oleh praduga atau prasangka. Bisa pula dipicu oleh miskomunikasi antar residen, residen-koass, atau antar koass. Selalu ada kemungkinan terjadi overkritik. Bisa dikarenakan kesan negatif yang kita munculkan saat berinteraksi dengan residen. Karena itu, peran attitude menjadi sangat vital. Selalu tampilkan kesan positif. Untuk lebih jelas bisa dibaca di posting saya: Bagaimana Bekerja Sama Dengan Residen?

Bagaimana bila ternyata memang kritikan itu benar?

“Kamu itu terlalu bergantung sama perawat. Masa ambil darah vena aja kamu minta tolong perawat.”

Bila kritikan ini benar dan profesional, maka terimalah sebagai proses pendidikan kita. Agar kita menjadi lebih baik.

Minta Solusi. Meskipun berat, mendapat penilaian negatif adalah salah satu cara agar kita menyadari kekurangan dan kesalahan kita. Dan begitulah proses yang harus kita jalani untuk menjadi dokter. Bila kita diberi kritik tentang ketergantungan kita terhadap perawat, sampaikan mengapa dan tanyakan solusi yang bisa beliau berikan. Mungkin tips dan trik pungsi vena. Mungkin juga residen akan memberikan bedside practice.

“Kamu kok setiap morning report ditanya kok jarang bisa menjawab?” Tanya residen.

“Iya, Dok. Saya memang masih bingung tentang ilmunya. Menurut Dokter saya perlu baca apa Dok? Mungkin textbook atau jurnal?”

“Baca aja textbook D. Biasanya supervisor kita pegangannya buku itu. Kalau textbook Z isinya terlalu spesialistik. Kecuali kamu ingin jadi residen. Atau kalau mau jurnal-jurnal terbaru bisa buka di web X.”

Setiap kritikan harus kita follow-up. Tanpa tindak lanjut, kritikan itu hanya menjadi dinding yang merupakan mental block kita. Hanya akan menghambat kita untuk maju, dan menjadi kesan negatif yang traumatik dalam alam bawah sadar kita. Dan itu tidak baik bagi karir dokter kita di masa depan.

Fokus. Ya. Kritikan itu adalah suatu hal yang harus dijadikan bahan perenungan kita. Untuk menjadi dokter yang lebih baik. Tetapi jangan berkubang dalam satu kritikan tertentu. Apalagi ini adalah kritik dan saran secara profesional. Sebagai mahasiswa kedokteran, apalagi koass, kita memang harus menjalani dan belajar dari setiap pengalaman klinik. Kesalahan itu wajar dan bereaksilah secukupnya.

Jangan kita menjadi frustasi berkepanjangan dan kepala kita penuh penyesalan karena kita tidak bisa pungsi vena. Lakukan yang terbaik demi mengatasi masalah tersebut. Latihan. Bila orang lain melakukan 100%, kita harus 120%. Bukankah kita mahasiswa kedokteran? So, jangan menyerah. Saya tahu, lebih mudah mengucapkan daripada melakukan.

Antisipatif. Begitu kita menjalani stase satu bagian, kita bisa minta pendapat residen atau supervisor yang mendampingi kita. Adakah masukan sehingga kita bisa memperbaiki diri di sisa stase kita? Bila stase kita empat minggu, setelah minggu pertama kita bisa meminta masukan dari residen atau supervisor.

Langkah antisipasi ini diperlukan agar manfaatnya besar bagi perbaikan kemampuan klinik kita. Bila kita mendapatkan masukan di akhir stase, akan sulit bagi kita mendapat evaluasi yang paripurna. Selain itu, langkah ini akan mendapat apresiasi positif dari residen ataupun supervisor bahwa kita memiliki semangat untuk belajar, memperbaiki diri dan menjadi bagian penting dari tim dokter.

“Kamu kurang mahir dalam melakukan pemeriksaan Rhinoskopi posterior.” Masukan seorang residen THT di akhir stase THT.

Tentu kita merugi karena mungkin di stase lain kita jarang atau bahkan tidak akan mendapatkan kesempatan melakukan prosedur Rhinoskopi posterior lagi.

Bila kita mendapatkan masukan di awal, kita akan mendapatkan kesempatan untuk belajar, menghindari kesalahan, dan pada akhirnya akan memberi kita waktu untuk menunjukkan bahwa kita merespon positif kritik dan saran para residen dan supervisor. Dan bukan tidak mungkin attitude ini akan mendapat apresiasi nilai A. Hehe…

Mendengar kritikan tentu menyebalkan. Tetapi open-mind saja. Terima itu untuk terus bertumbuh baik sebagai manusia maupun sebagai dokter. Langkah pertama adalah ambil waktu sejenak untuk introspeksi. Evaluasi kritikan tersebut. Lantas minta saran dan lakukan sebaik mungkin usaha demi memperbaiki performa kita. Selanjutnya? Teruslah berproses dalam pendidikan kedokteran kita.

Ingat. Bagaimana pun juga kita masih belajar. Meski tidak boleh dianggap sebagai sebuah excuse, tetapi faktanya kita memang membutuhkan waktu transisi untuk menjalani perubahan belajar teori di bangku kuliah dengan belajar klinis pasien di Rumah Sakit.