Wah…
Saya sudah cukup lama absen posting tulisan. Hehe… Maklum masih sangat sibuk. Hehe… Aktifitas menjadi tutor dalam pendidikan mahasiswa FKUB menyita sebagian besar waktu saya. Karena apa? Karena setiap tutorial saya harus belajar lagi untuk memastikan saya menguasai materi dan bisa memperkaya pengetahuan mahasiswa dengan pengalaman di dunia klinik.

Ini adalah weekend pertama saya yang saya habiskan dengan berbaring di sofa bermalas-malasan. Dan kini saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Kenapa dengan residen atau PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis)? Hehe… Semua diawali dengan keikutsertaan saya di pertemuan ilmiah dua tahunan Asosiasi Seksolog Indonesia (ASI) di Solo. Saya menumpang tidur semalam di kos kakak kelas saya, mas Dearisa. Mas Dea kini menjadi residen psikiatri di UNS.

Di sana, saya banyak bertukar pikiran dengan mas Dea. Dan Voila! muncullah tulisan ini di benak saya. Dalam karir kependidikan profesi dokter, terdapat jenjang-jenjang yang harus dijalani. Yang pasti adalah dokter muda atau koass. Inilah strata terbawah dalam sistem perkastaan di Rumah Sakit. Baru di atasnya ada residen dan akhirnya supervisor (dokter spesialis).

Dan inilah sebuah kunci utama dalam melalui masa koass. Bagaimana bekerja sama dengan residen? Bekerja sama untuk apa? Tentu bukan hanya sekedar lewat. Melainkan benar-benar mendapat ilmu untuk kepentingan praktik kita nanti. Kenapa menjadi pertanyaan? Karena residen tidak seharusnya mempercayai koass dan harus mengecek semuanya sendiri. Lantas maukah kita hanya menjadi sekedar lewat?

Apakah saya berlebihan? Kok bisa Dok, residen tidak percaya koass?

Tentu saja. Karena kita berhubungan dengan manusia. Pasien kita sangat bergantung pada keakuratan pemeriksaan. Dan meskipun koass merupakan bagian penting dalam sebuah tim dokter di Rumah Sakit, tetapi banyak aspek medis yang harus diperiksa sendiri oleh residen, bahkan oleh supervisor. Hal ini penting dan perlu demi patient safety. Di saat saya koass, saya bahkan menunggu saat-saat saya bisa menemani residen (bahkan supervisor) untuk memeriksa pasien dengan cara mereka sendiri. Menginterpretasi EKG, hasil lab, dan pemeriksaan lain. Dan menanti dengan berdebar, apakah hasilnya sama dengan saya atau berbeda?

Oke. Maka saya bisa menjawab bahwa saya tidak berlebihan bukan bila residen dan supervisor seharusnya tidak mempercayai koass. Lantas, bagaimana bisa bekerja sama bila tidak ada trust?

Maka di sinilah poin pentingnya. Kita harus mendapatkan kepercayaan residen. Bila berhasil? Saya bisa jawab: itu keuntungan yang luar biasa. Kita tidak hanya akan mendapat keuntungan dengan lancarnya masa koass kita, juga akan mendapatkan keuntungan tambahan ilmu karena residen akan semakin suka mengajari kita, dan kita akan mendapat kesempatan lebih banyak untuk ikut menangani pasien dengan lebih komprehensif.

Lantas bagaimana bila tidak berhasil? Kita akan berada pada situasi sulit dan akan selalu salah. Langkah yang paling mudah (tetapi jarang dilakukan) adalah menanyakan ke residen adakah yang salah dengan kita. Inilah cara paling mudah menyingkirkan kemungkinan problem personal. Bila residen tidak mampu menjawab dengan jelas dan tegas kekurangan kita, kemungkinan besar yang terjadi adalah masalah pribadi. Dan sikap kita, lupakan dan cari cara terbaik untuk dapat survive dan tetap mendapat ilmu. Residen yang lain masih banyak. Hehehe…

Bila residen bisa menjawab dengan jelas dan tegas kekurangan kita, hadapi meski sulit. Jujur saja, di tengah tuntutan koass yang begitu tinggi (memeras fisik mental dan juga uang), menghadapi kritik bukanlah perkara mudah. Bagi yang belum koass akan merasakan. Hehehe…

Tetapi, hadapi kritik dengan bijak. Percayalah. Residen akan menilai kita lebih baik bila kita melakukan ini dengan baik. Bahkan akan membantu kita memberikan saran agar kita bisa menjadi lebih baik. Dengan kita menanyakan saja, residen sudah akan sangat respek pada kita.

Saya pernah di suatu awal stase, gagal melaksanakan tugas dari residen A. Seminggu setelahnya saya sering merasa di-cuek-in. Setiap beliau butuh pemeriksaan beliau akan meminta teman saya yang lain untuk mengerjakan.

Setelah saya yakin ada yang salah, saya pun meminta penjelasan. Dan residen tersebut memang merasa saya tidak siap stase karena tidak belajar dahulu (karena saya tidak dapat melaksanakan tugas di awal stase dengan baik). Tapi beliau senang saya mau menanyakan dan kami terlibat pembicaraan konstruktif tentang bagaimana saya harus menghadapi dunia koass.

Kini hubungan saya dengan residen A bahkan lebih baik daripada residen-residen lain.

Maka saya setiap kali memulai stase, akan mencari informasi bagaimana style residen di stase tersebut. Apa yang mereka inginkan dari koass. Kalau perlu (dan ini yang sering saya lakukan), kesempatan pertama untuk ngobrol kita jadikan proses penjajagan tentang apa ekspektasi residen tersebut terhadap kita sebagai koass.

Cara yang paling ampuh adalah: melaksanakan tugas kita sebaik-baiknya. Kumpulkan data pasien seakurat mungkin, anamnesis, pemeriksaan fisik, hasil lab, semuanya. Beri penekanan pada poin-poin yang kita garis bawahi. Ini akan memberi impresi positif bahwa kita mampu dan care dengan pasien. Bila kita bisa melakukan ini dengan baik, maka kita bisa mempermudah tugas residen. Dan percayalah kita akan lebih banyak mendapat keuntungan bila kita bisa mempermudah tugas residen.

Suatu ketika jaga. Saya mendapat pasien demam berdarah. Saya berusaha melaksanakan anamnesis, pemeriksaan fisik dengan lengkap. Saya pun melaksanakan instruksi residen jaga dengan baik. Residen jaga saya puas dengan hasil laporan saya. Dan memeriksa pasien hanya untuk mengkonfirmasi hasil laporan saya dengan tersenyum.

Selesai? Belum. Efek positif masih berlanjut. Keesokan harinya, pasien ini kebetulan masuk ruangan bangsal di mana saya stase. Residen stase saya juga memberi feedback positif. Akhirnya diberi kesempatan menangani pasien tersebut dari awal sampai akhir. Saya dapat menentukan terapi meskipun masih harus konsultasi. Sampai pasien tersebut pulang.

Sudah? Ternyata belum. Ketika dua minggu kemudian saya stase paru, residen paru partner saya di ruangan mendapat testimoni dari residen stase saya sebelumnya. Dan akhirnya saya berkesempatan melakukan pungsi pleura. Yah mungkin tidak terlalu istimewa, tetapi ini masih bagian dari sekuensial positif.

Satu lagi. Jangan berusaha berkelit dengan mengarang cerita. Bila ketahuan, hancurlah trust yang kita bangun.

Dan tentu saja, belajar adalah cara terbaik. Residen akan meningkat kepercayaannya bila kita mampu menjawab pertanyaan beliau dengan baik. Perhatikan secara detil poin penting dalam anamnesis dan pemeriksaan fisik. Bila kita mampu bertindak selayak residen dalam banyak hal, kita akan semakin diperhatikan. Dan ilmu akan datang dengan sendirinya.

Yang terakhir adalah keluwesan sosialisasi. Setiap manusia memiliki karakteristik yang berbeda. Ada beberapa residen yang mudah, ada pula yang sulit. Tetapi dengan keluwesan kita harus bisa berinteraksi dengan semuanya. Tidak hanya residen, perawat, mahasiswa D3 perawat, pekarya (yang membersihkan ruang, dan mengurusi logistik). Anda adalah dokter terpandai, tetapi bila tidak memiliki keluwesan interaksi, maka tidak ada yang menyukai anda, dan akan sangat sulit untuk dipercaya.

Saya banyak memiliki teman dari Malaysia dan etnis tionghoa. Dan mereka banyak disukai, karena setiap stase mereka tidak canggung, bisa dengan mudah menyatu dengan obrolan, riang dan suka bercanda. Kalau seperti ini, koass pun akan sangat menyenangkan.

Setiap residen pernah menjadi koass. Dan setiap supervisor pernah menjadi koass dan residen. Jadi jangan coba pertanyakan kenapa saya harus melakukan ini atau itu, hindari bilang ‘tidak’ ketika kita dimintai tolong, bahkan untuk hal yang paling sepele, dan minta dengan sopan untuk dilibatkan dalam setiap prosedur.

Dalam suatu stase, kami mendapat kesempatan belajar selama seminggu untuk satu bagian. Saya baru masuk koass dan stase bersama dua kakak kelas yang telah setahun koass. Dan dua hari pertama, di bagian A, saya bosan dan mengeluh kenapa tugas kami hanya mengisi buku register pasien dan menggaris-garis buku. Kakak kelas saya saat itu mengingatkan: jangan komplain. Selesaikan dengan baik saja sambil mengamati setiap tindakan di ruang tersebut.

Tiga hari berikutnya, residen yang puas dengan ‘kerja administratif’ kami, mulai mengajak kami dalam setiap tindakan. Bahkan sharing dan berbagi tips dan trik bagaimana menghadapi stase bagian lain. Di akhir stase, residen tersebut menyampaikan bahwa kami koass yang menyenangkan.

Kesimpulannya: jangan malu untuk menanyakan adakah yang salah dengan kinerja kita pada residen. Pahami style masing-masing residen dan apa yang mereka mau dari kita. Minta saran dan bekerja keras dan maksimal. Saat semua bisa kita lakukan, residen akan menjadi partner koass yang menyenangkan.