Menghadapi pasien anak adalah salah satu hal yang unik sekaligus menantang. Bahkan kadang lebih terasa menyebalkan. Hehe… nah kali ini saya sudah lama tidak posting. Sembari menunggu teman sejawat saya PPDS Psikiatri menyelesaikan visite-nya, saya akan berbagi tips dan trik.

Ketika kita memeriksa pasien anak, yang dibutuhkan adalah kesabaran. Mereka bukan pasien dewasa yang bisa menerangkan jenis dan tipe nyeri. Mereka juga bukan menangis karena sakit, mungkin lebih ke arah takut dengan kita sebagai dokter. Bagi bayi, mungkin sensasi sentuhan tangan yang berbeda dengan ibundanya akan bisa membuat mereka menangis sepanjang waktu.

Maka tugas kita mengumpulkan data yang adekuat untuk menetapkan diagnosis, dengan kondisi pasien yang jelas sulit memberikan informasi. Bila kita buru-buru, bukan tidak mungkin kita hanya akan mendapati misdiagnosis dan misterapi.

Lalu bagaimana dong, Dok?

Begitu pasien bayi datang, gunakan kesempatan untuk berinteraksi dengan pasien anak. Bermain cilukba dengan pasien bayi. Memegang tangan sambil memeriksa reflek-reflek bayi. Usahakan dapatkan perhatian bayi dengan respon positif, tandanya: dia tidak menangis dengan kehadiran kita.

Dan pasien bayi sebaiknya tidak diturunkan dari gendongan ibundanya. Kita masih bisa mendengarkan suara jantung, paru, bahkan perut dengan mengajak si bayi bermain dengan stetoskop.

Pasien anak? Bangun hubungan terlebih dahulu. Misalkan dia menggunakan baju sepak bola. Kita bisa mulai dengan membahas tim sepak bola yang dia sukai, pemain favorit, kenapa, dan lain-lain. Menurut pengalaman saya, pasien selanjutnya akan lebih nyaman dan cenderung lebih jujur.

Ketika membutuhkan informasi yang cenderung disembunyikan, seperti suka jajan, suka makan permen, kita tidak harus dengan intonasi menyalahkan. Gunakan nada bercanda dan kaitkan dengan kebiasaan positif.

“Wah selama ini ndak pernah sakit ya. Rajin sekolah dong. Waaah hebaaaat. Kalau di sekolah Iqbal ada yang jual cilok? Ada? Waaah cilok-nya enak? Iqbal suka beli cilok?

Yaaa semua memang bergantung respon pasien. Tetapi cara-cara positif ini akan membantu pasien merasa nyaman dan tidak disalahkan. Pemeriksaan fisik pun dapat dilaksanakan dengan lebih nyaman. Dan masing-masing pasien akan berbeda penanganannya.

Saat meng-auskultasi perut pasien:
“Waaah, ada perutnya berisik. Inda maem apa hayo semalam… dokter tebaaak… hemm… ayam! Benar?”

Tidak penting benar salahnya, yang terpenting kita membangun hubungan yang baik dengan senyum pasien. Dan sisi positifnya kita bisa mulai mengedukasi pasien untuk masalah diet.

Hindari kontak menyakitkan dengan pasien bayi agar pasien tidak trauma dengan dokter. Misal menyuntik atau pasang infus. Usahakan perawat yang melakukan, karena di masa depan, tindakan traumatis itu yang akan tersimpan di memori pasien.

Bila pasien anak dapat diajak bicara dengan nyaman, utarakan dengan sederhana tindakan kita. Tentang suntikan yang mungkin tidak nyaman bahkan nyeri. Tetapi katakan bahwa mereka pemberani dan luar biasa.

Jangan lupa untuk selalu memuji atas tindakan kooperatif mereka. Meski sekedar hanya ‘mau diperiksa telinganya’. Pujian ini haruslah spesifik karena pasien anak bagaimanapun pasti takut kepada dokter. Maka keberanian menghadapi dokter dengan bentuk rejeksi seperti apapun pantas diapresiasi.

Demikianlah beberapa cara yang bisa kita gunakan untuk menghadapi pasien anak. Kreatif, menyenangkan, dan canda tawa adalah poin penting. Namun pasien tetaplah pasien dengan seribu macam jenis. Dan bicara itu lebih mudah memang.

Saya sendiri masih terus belajar bagaimana menghadapi pasien anak dengan baik. Dan mungkin rekan pembaca punya ide yang bisa melengkapi?