Archive for 06/10/2012


A 28-year-old man comes to the physician with the chief complaint that he has been depressed for years. He notes that his mood is never good, though he has never seriously considered suicide. He often feels hopeless and has problems concentrating. His sleep pattern and appetite have not changed. He denies hallucinations of any kind. Based on this clinical picture, which of the following is the most likely diagnosis?

a. Conversion disorder

b. Avoidant personality disorder

c. Dysthymic disorder

d. Major depression

e. Adjustment disorder

the answer is below…

Continue reading

Advertisements

Menghadapi pasien anak adalah salah satu hal yang unik sekaligus menantang. Bahkan kadang lebih terasa menyebalkan. Hehe… nah kali ini saya sudah lama tidak posting. Sembari menunggu teman sejawat saya PPDS Psikiatri menyelesaikan visite-nya, saya akan berbagi tips dan trik.

Ketika kita memeriksa pasien anak, yang dibutuhkan adalah kesabaran. Mereka bukan pasien dewasa yang bisa menerangkan jenis dan tipe nyeri. Mereka juga bukan menangis karena sakit, mungkin lebih ke arah takut dengan kita sebagai dokter. Bagi bayi, mungkin sensasi sentuhan tangan yang berbeda dengan ibundanya akan bisa membuat mereka menangis sepanjang waktu.

Maka tugas kita mengumpulkan data yang adekuat untuk menetapkan diagnosis, dengan kondisi pasien yang jelas sulit memberikan informasi. Bila kita buru-buru, bukan tidak mungkin kita hanya akan mendapati misdiagnosis dan misterapi.

Lalu bagaimana dong, Dok?

Begitu pasien bayi datang, gunakan kesempatan untuk berinteraksi dengan pasien anak. Bermain cilukba dengan pasien bayi. Memegang tangan sambil memeriksa reflek-reflek bayi. Usahakan dapatkan perhatian bayi dengan respon positif, tandanya: dia tidak menangis dengan kehadiran kita.

Continue reading

%d bloggers like this: