Karl Menninger, a well known American psychiatrist, had many conceptualizations regarding the mentally ill and treating them. Amongst them, was the concept that when it comes to treating our patients, our goal should be to “care” for them, rather than to “cure” them. He believed this approach to be valid for both psychiatric and medical patients.

Kesan pertama saya terhadap statement di atas adalah: WOW. Karena saya menemukan jawaban atas ke-galau-an saya beberapa saat lalu. Tentang profesi saya. Tentang bagaimana saya terhadap profesi ini.

Dokter memang memiliki tujuan utama menyembuhkan. Cure. Kita belajar empat tahun plus dua tahun di fakultas kedokteran. Belajar apa? Menyembuhkan penyakit. Kita belajar anatomi fisiologi biokimia untuk memahami how human body works. Lantas kita belajar patologi, dan berbagai macam penyakit klinis berdasarkan sistem, anatomi, untuk menyembuhkannya. Kita harus tahu how to diagnose, apa obatnya, dan bagaimana serta ke siapa merujuknya. Residen atau PPDS? Sama. Kita diajarkan bahwa tugas utama kita, tujuan utama kita, adalah melenyapkan disease. Mengobati sakit fisik pasien. To cure patient.

Saya justru setuju dengan konsep Menninger di atas. Bahwa sesungguhnya tujuan utama seorang dokter bukan pada cure, melainkan care. Banyak studi menyatakan bahwa tingkat kepatuhan pasien terhadap rencana pengobatan yang ditawarkan dokter, meningkat secara bermakna, ketika dokter memiliki hubungan dokter-pasien yang baik (good rapport). Jika dokter dapat fokus untuk memberikan perhatian (care) terhadap pasien, maka good rapport bisa diwujudkan. Dan ketika tingkat kepatuhan meningkat, respon tubuh pasien atas pengobatan kita menjadi semakin positif. Maka, dengan hanya mengubah fokus dari cure menjadi care ke pasien, seorang dokter akan membuat kondisi pasien menjadi jauh lebih baik.

Papa saya memiliki riwayat ACS. Bahkan beliau telah pasang ring beberapa tahun yang lalu. Tapi yang saya heran, papa selalu suka dan tidak pernah takut saat harus kontrol ke SpJP. Setelah saya telisik, mama saya memberikan jawaban:

“dr. C itu mulai dari kita masuk ruangan sudah tersenyum dan menanyakan kabar. Bahkan beberapa menit awal hanya menanyakan aktifitas, kesehatan anak-anak, juga cerita tentang beliau sendiri. Jadi papa merasa di-orang-kan. Dan beliau itu ndak gampang memvonis. Kata-katanya enak didengar.”

Membangun good rapport dengan pasien bisa dengan cara yang berbeda-beda tentunya. Bisa dengan pasien yang sudah kita kenal, dan umumnya memang lebih mudah. Bisa juga dengan pasien baru. Tetapi intinya adalah membuka diri seluas-luasnya terhadap kontak pasien.

Bagaimana gesture kita saat pemeriksaan fisik sangat berpengaruh terhadap kenyamanan pasien. Elusan ringan di lokasi dimana keluhan beliau menunjukkan kita acuh terhadap ceritanya. Buka pertanyaan terkait dengan dirinya. Human always like to tell about himself.

Waduh, Dok, kalau pasiennya antri gimana? Kalau diajak ngobrol, satu pasien bisa lama…

Hehe… saya juga galau karena itu. Kenapa ya saya ini kalau praktik pasien tidak banyak, tetapi lama. Jadi sama-sama dua jam, dokter lain bisa menangani 10 pasien, saya mungkin hanya tiga sampai empat pasien. Hehe…

Tetapi disini saya hanya ingin menekankan pada care. Mungkin cara kita berbeda, tetapi selama bisa membangun good rapport, tidak masalah. Maka itulah mengapa dokter harus memiliki attitude yang baik. Attitude adalah nilai penting yang berusaha di-transfer guru-guru kita kepada kita.

Fakultas Kedokteran itu mencetak dokter umum. Primary Care Physician. Ada guyonan di luar negeri, bahwa dokter umum itu adalah satu-satunya spesialisasi dokter dimana ada kata care di dalamnya. Jadi?

Ah ya. Demikian lah bahasan saya tentang cure dan care. Mungkin ada yang tidak setuju, silakan sampaikan di kolom komentar. Mari kita berdiskusi. Usia praktik saya juga masih seumur jagung. Masih perlu banyak belajar untuk menjadi dokter yang baik.

“Love cures people – both the ones who give it and the ones who receive it.”

– Karl Menninger

Cure itu hanya hak Allah SWT, bukan hak dokter.”

– dr. Piprim B. Yanuarso, SpA