Selasa, 21 Agustus 2012

“Dok, keluarganya bu Musi datang. Beliau bilang bu Musi sesak dan kakinya bengkak.” -08.30

“Waduh Mbak. Saya kalau tidak periksa tidak bisa melakukan apa-apa. Bukankah sekarang jadwal praktek dr. Nani? Apa beliau tidak hadir?” -08.31

“Tidak ada, Dok. Ini saya bingung bagaimana.” -08.31

“Mbak. Beri KIE ke beliau. Sesak pada pasien dengan riwayat payah jantung bisa karena paru-paru, bisa pula karena jantung. Apakah beliau masih rutin mengkonsumsi furosemid?” -08.33

“Masih Dokter. Tetapi menurut keluarga pasien, intensitas buang air kecilnya menurun. Biasanya satu hari bisa enam kali, akhir-akhir ini hanya tiga kali.” -08.35

“Hem… Mbak. Coba di-KIE untuk periksa laboratorium darah. Kita perlu mengetahui fungsi ginjalnya. Dan sarankan untuk periksa ke rumah sakit, Mbak.” -08.40

“Baik, Dokter. Terima kasih.” -08.41

Kamis, 23 Agustus 2012

“Dokter, keluarganya bu Musi datang lagi. Sesaknya memberat Dok. Dan tensinya 180/100.” -07.12

“Lho Mbak. Kok bisa? Biasanya tekanan darahnya stabil di kisaran 130/90. Apa sudah periksa ke rumah sakit dan periksa laboratorium untuk fungsi ginjal, Mbak?” -07.17

“Kurang tahu, Dokter. Nanti coba saya KIE untuk segera ke rumah sakit dan periksa laboratorium.” -07.20

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Dokter, bu Musi meninggal tadi siang. Saya diberitahu bapak saya, Dok. Bapak saya masih tetangga satu dusun dengan bu Musi.” -16.12

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Subhanallah. Meninggal di rumah, Mbak? Sampaikan salam duka cita saya untuk keluarga bu Musi. Insya Allah besok sesampainya saya di klinik saya akan ke rumah beliau.” -16.20

“Iya Dokter.” -16.21

Jumat, 24 Agustus 2012, pukul 14.30

“Pak Dokteeer. Lho kok ada Pak Dokter? Kok Pak Dokter tahu?”

“Iya, Bu. Kemarin saya diberi kabar oleh perawat saya, mbak Nana. Katanya bapaknya masih tetangga dusun Ibu.”

“O iya, Pak Dokter. Memang mbak Nana masih terhitung tetangga. Bahkan kami masih keluarga jauh. monggo, masuk Pak Dokter. Aduh saya masih kaget Pak Dokter berkunjung ke rumah saya. Monggo, duduk Pak Dokter. Yaa… begini rumah desa Pak Dokter.”

“Ah Ibu, ndak papa. Malah lebih enak rumah seperti ini. Lebih segar dan sehat.”

“Alhamdulillah. Pak Dokter kapan sampai klinik? Saya senin kemarin kesana lho, Pak Dokter. Mbah ibu kangen Pak Dokter katanya. Tapi tutup. Selasa saya cek, buka tapi ndak ada dokternya. Saya dan saudara-saudara sudah niat mau membawa Mbah ibu periksa hari ini lho, Pak Dokter.”

“Lha iya Bu. Saya benar-benar kepikiran kondisi Mbah ibu. Sampai akhirnya kemarin sore saya dapat sms dari mbak Nana, Mbah ibu sampun sedo.”

Inggih, Pak Dokter. Saya mewakili Mbah ibu, mohon maaf bila Mbah ibu ada salah selama berobat ke Pak Dokter. Juga kami putra-putrinya mohon maaf kalau-kalau pas menemani Mbah ibu periksa mungkin cerewet, rewel, dan ngomongnya kadang menyakitkan. Lha kita hanya ingin yang terbaik untuk Mbah ibu, Pak Dokter.”

“Masya Allah Bu. Justru keluarga Mbah ibu sudah sangat baik sekali dengan saya. Tidak ada yang perlu dimaafkan Bu. Justru saya yang tidak enak karena kemarin dihubungi perawat terkait dengan kondisi Mbah ibu tidak bisa membantu apa-apa karena saya masih ada kewajiban di Malang.”

“Iya Pak Dokter. Ndak papa. Semua sudah diatur sama Allah. Kami sekeluarga pun ikhlas. Alhamdulillah pas ‘ndak ada’-nya juga enak tidak kesakitan, Pak Dokter.”

“Alhamdulillah Bu. Saya dari kemarin terbayang wajah Mbah ibu terus. Saya belum sempat matur nuwun ke Mbah ibu sudah berkenan mempercayai saya untuk merawat beliau. Dulu sejak dr. Riris mengundurkan diri di klinik, Mbah ibu tidak mau diperiksa oleh saya, minta diperiksa dr. Riris, sampai akhirnya mau saya periksa karena terpaksa.”

“Maafkan Mbah ibu, Pak Dokter. Tapi sungguh, Mbah ibu itu yang paling jodoh ya dengan Pak Dokter. Kalau kangen Pak Dokter, terus ngamar, itu dua hari aja sesaknya hilang, sakit punggungnya hilang, mau makan banyak. Alhamdulillah.”

“Iya Bu. Saya juga heran, padahal Mbah ibu juga tidak pernah saya kasih obat aneh-aneh. Ya obat biasa yang kayak diminum di rumah, tapi bisa sehat dan segar. Kemarin kenapa ndak dibawa ke rumah sakit di Blitar, Bu?”

Lha Mbah ibu-nya ndak mau, Pak Dokter. ‘wis pokoke aku mau-ne berobat ke Pak Dokter iku. Emoh aku lek berobat ke dokter lain-e. Jumat ae tak tunggu Pak Dokter-e.’ Mbah ibu matur begitu. Ya kami putra-putrinya hanya bisa manut. Bahkan kemarin sebelum meninggal, ‘besok jumat yo? Aku tak perikso nang Pak Dokter besok. Saiki aku minta tolong dibaring-no.’ setelah kami baringkan, Mbah ibu sudah ndak ada, Pak Dokter.”

teriring haru
Untuk pasien spesial
Bu M./65 th

Posted from WordPress for Android