“Dokter… ada adiknya bu Y di depan ingin konsultasi. Karena bu Y katanya masih muntah-muntah, Dok.” — Bidan saya memanggil saya.

Saat itu saya sedang bersantai di ruang tengah klinik. Bidan saya datang dan memanggil saya untuk menemui adik dari bu Y. Saya terkesiap. Ya Allah. Kenapa lagi dengan bu Y.

Sembari berjalan menuju ruang terima pasien di depan, saya mengingat kasus bu Y, 29 tahun, menderita hiperemesis gravidarum. Beliau hamil anak ketiga dengan usia kehamilan 8-10 minggu. Bu Y mual muntah selama hampir satu bulan. Bahkan riwayat anak pertama, beliau mual muntah selama tiga bulan. Saya berjalan sambil me-review kondisi pasien yang sempat saya rawat inap-kan selama dua hari dan sudah sangat membaik. Kenapa?

“Dokter, anak saya masih batuk. Bahkan lendirnya semakin kental dan sulit dibatukkan. Obat yang kemarin dari dokter sudah habis, Dok. Kira-kira kenapa anak saya, Dok?”

Pernahkah teman sejawat merasakan hal yang sama? Bahwa kita merasa gagal dalam menangani pasien. Bahwa kita terus mencari apa yang salah atau apa yang kurang. Lantas ada salah satu ingatan saya muncul pada sebuah wejangan supervisor ketika saya koass.

“Dokter itu care, Dik. Bukan cure. Maka lakukan yang terbaik untuk memberikan care terbaik. Pesan kita akan sampai pada pasien kita.”

Oke. Pasien ini kembali. Dan untung saja kembali. Karena itu berarti beliau percaya kepada saya. Dan itu jauh lebih berharga. Maka inilah kesempatan kedua bagi saya. Saya bersyukur Allah memberi jalan untuk selalu belajar.

Mari kita review ulang. Kita telaah perlahan sembari memikirkan berbagai differential diagnosis. Kadang jawaban yang muncul bisa sangat sederhana, bahkan lebih sederhana dari diagnosis awal kita. Kadang mungkin memang membutuhkan analisis lebih komprehensif dan alat bantu diagnosis yang lebih canggih.

“Dok, bu W kemarin datang membawa hasil USG abdomen.”
Saya teringat bu W, 52 tahun, yang beberapa waktu lalu keluhan nyeri perut yang tak kunjung reda. Setelah beberapa kali kunjungan, pemeriksaan sederhana, belanjut ke pemeriksaan laboratorium untuk darah, masih tanpa ada arah diagnosis. Maka saya mengkomunikasikan perlunya sebuah pemeriksaan USG. Dan butuh waktu seminggu bagi pasien dan keluarganya untuk setuju, mengingat beliau harus pergi 20 km jauhnya baik ke Kediri atau ke Blitar untuk USG, belum pertimbangan biaya.
“Kesimpulannya: massa pada adnexa, Dok.”

Tips?
“Giving my best care…”