Hemm…
Kali ini saya akan posting satu draft yang sudah lamaaaa mengendap dalam blog saya. Isi awalnya adalah percakapan di twitter antara saya dengan akun anonim SiBinikiYo. Diawali kultwit akun anonim TrioMacan2000 tentang kritisi sistem pelayanan rumah sakit di Indonesia, kultwit ini bagai bola salju menggelinding merangkai opini. Kian waktu kian besar dirangkai dominasi kekecewaan dengan pelayanan kesehatan para tenaga medis.

Dalam satu kesempatan, masuklah akun anonim binokiyo ini mengawali percakapan kami, karena saya tidak bisa menahan untuk tidak berkomentar berusaha memaparkan kondisi riil di masyarakat kita di daerah (karena mungkin beliau dari kota besar, asumsi saya), namun ternyata percakapan berkembang ke arah yang tidak saya duga. Saya sertakan percakapan saya dengan binokiyo. (Yang dicetak tebal dan miring adalah Binokiyo)

Gue usul, klo dokter2 udah gak bs diatur gmana klo profesi DUKUN dilegalkan oleh negara! hehe

Loh kl sampeyan ke daerah, dokter mmg saingan sama dukun. Lulusan SD. SMP. Hehe..

Jd kl dblg prsaingan bs meningkatkan pelayanan ya silakan.. buat qt dokter d daerah sudah kenyang

Kl anda lbh prefer ke dukun masa dokter mau marah2.. hehe.. silakan mas mbak sekalian

Di daerah,ada dukun. Penjaga apotek. Bidan. Mantri. Sangkal putung. Smw memberi pelayanan medis

iyah, ituy penting…persaingan membuat masing2 profesi meningkatkan pelayanan dan kualitas! hehehe

Persaingan seperti apa yg msh diinginkan? Bknnya sudah ada?

Persaingan dokter sama sopir angkot lbh fair..sama2 kejar setoran! hehe

Slh mas..dDaerah lbh kaya tkg prkir..hehe..cb tny dokter d daerah.dpt brp /pasien?lbh murah dr tkg prkir mobil

Nah, ini trmasuk dokter yg baek….., pasti gak komersil orgnya..dibayar pake singkong mau

Hehe..tau aja.Bkn singkong tp rambutan.Hehe..

Loh, klo akhirnya profesi dukun lbh dipercaya masyarakat, gmana klo sgra dibuat Fakultas keDUKUNan! hehe

Loh kok dbqn fakultas?blj apa mas?hehe.. dukun kn ndak pake blj..

tetep hrs dibuat sekolah formalnya…biar racikannya ramuan pas..gak lebih dan gak kurang! hehe

Lho nnti jd mafia jg..jdny dtuduh kejar setoran..hehe..

jgn lupa…. dukun dmana desanya ada dokter praktek yg tarifnya smurah parkir…dukunnya kasih GRATIS! Hehe

Hehe..lha yo monggo tho.Kn pny tnggung jwb sndiri2..hehe..

klo gitu…gmana klo dibikin FAKULTAS KePARKIRan hehe!

Wekekek.. lah yo sumonggo tho mas. Malah seru. Nanti ada mafia tukang parkir.

(Disini saya menyisipkan cerita pengalaman praktik saya selama setahun di Udanawu, Blitar. Harapan saya adalah beliau bisa lebih bijak dalam berkomentar)

Ada pasien sakit telinga. Dtg ke apotek mnt obat skit telinga.

Sama si penjaga apotek yg ndak sekolah ini dikasi obat antibiotik tetes telinga. Dipake deh

Dtg ke saya dgn kondisi telinga radang berat. Krn sbnrnya gendang telinga sudah pecah.

Dan gendang telinga yg pecah ndak boleh diberi obat tetes apapun. Kasian pasiennya.

yakin pecah…jgn2 yg pecah kutil dlm telinga…bkn gendangnya…gak yakin ah, periksa ke Penang aja dech! hehe

Hehe..asyik dong ke LN..

[di sini ada retweet dari adik tingkat saya; @lia_prasillia “baru tau ada kutil pecah. Hahaha”]

Bino doakan..semoga dokter2 sini gak exodus kerja di RS di Penang..bisa berabe ntar, mencemari disana! hehe

Haha..teman sejawat sahabat2 saya swaktu kuliah bny kok dsana..jd kulitas qt sama..

kualitas sama, tarifnya beda yaach? hehe

Alhamdulillah kualitasnya sama.. hehe.. tarif? Murah saya dong.. hehe..

Masak? ….PAsti kamu dokter miskin…( hehehe, maaf SARA)

Hehe..ndak papa..memang dokter hrs kaya? Hehe..

Saya mgk ndak kaya..tetapi saya bahagia dgn profesi saya mas..

Saya tdk perlu mengorbankan idealisme saya.. hehe..

Suka neh ama dokter macam gini…cocok jd MENKES dech! hehe

Hehe..lbh pantes sampeyan..lbh kritis dan tajam

masa sih…padahal lbh pantes lagi klo situ follow gue loohh…follower2 gue org2nya pada sehebat kmu looh

Ndak deh mas.. nanti saya malah bingung..sampeyan cerdas banget

[Disini ada satu akun yang menimpali; @AgakTampan “Berapa lama mas jd dokter?”]

Baru setahun mas.. doakan istiqomah

oooh masih setahun…pantes….. tunggu sampe 5 thun, insya allah sama aja jadi kaya yg laen..hehe

Yaaah jgn didoain gt dong..hehe..doakan yg baik yaa..

doa gue sll baek, tp lingkungan kerja kamu makin gak baik…hehehe

Hehe.. ya doakan kami bs mengubah lingkungan kerja qt.. insya Allah..

[Disini lagi-lagi ada akun yang menimpali; @m_raas “bgmana bisa Tempat yg banyak dokter dan obat2an jadi sarang penyakit dan tempat orang sakit? huhahahha”]

Lha iya tho mas..jd ayo qt pikir dan cari solusi.. hehe..

Gak mau ah, gue BKN dokter.. 

[Ditimpali kembali; @m_raas kritik oleh kami ke situ, situ yg perbaiki, agar ada perbaikan dari kritk td, trs km tdk kritik lg deh”]

Ooo jd bgtu ya.. hehe..

Yap. Demikian kutipan percakapan saya dengan akun anonim ini. Bagi teman-teman pembaca, adakah sesuatu yang menggelitik dari percakapan di atas?

Di posting ini saya menyajikan percakapan ini tidak sebagai media penghakiman terhadap akun anonim. Tidak. Justru percakapan ini saya rekonstruksi sebagai pengingat pribadi bahwa ternyata masyarakat kita semakin pragmatis. Ada satu poin besar ketika saya membaca dan membaca lagi percakapan ini. Apa itu?

Percakapan ini destruktif. Setiap saya mengarahkan percakapan pada sebuah brainstorming, lawan bicara saya menarik diri dan berkomentar hal yang lain. Demikian terjadi berulang-ulang sampai pada satu pernyataan final, bahwa beliau tidak mau karena bukan dokter. Dan ini dipertegas oleh satu akun (@m_raas). Well, di sini saya tidak akan mengkritisi siapapun, menghakimi siapapun. Namun saya jadikan gambaran kasar pandangan masyarakat terhadap profesi medis. Betapa sinis dan sarkastik. Lantas setelah sekian lama mengendap dalam draft apa yang akan saya sajikan?

Saya fokus pada sebuah konteks bagaimana dokter sebagai inti pelayanan medis sampai pada taraf ini? Seperti yang saya ungkapkan di percakapan di atas, di daerah saya praktik, ada bidan, mantri (perawat), sangkal putung, dukun, bahkan penjaga apotek juga bisa memberikan layanan pengobatan. Dan di tengah desakan keputusasaan masyarakat terhadap layanan dokter yang seharusnya berperan sentral dalam pelayanan kesehatan, profesi-profesi ini bangkit dan eksis, bahkan lebih eksis dibandingkan dokter. Pertanyaannya, kenapa? Dan apa yang harus kita lakukan?

Dua pertanyaan. Namun saya akan berikan satu jawaban. Komunikasi. Itulah salah satu problem kita sebagai dokter dalam menangani pasien. Dan itulah salah satu kiat menjadikan pelayanan kita berbeda dengan profesi pengobatan lain. Tidak percaya? Simak beberapa komentar para follower akun TrioMacan2000 berikut setelah kultwitnya.

Di 1 RSUD om sy divonis kanker paru stadium 4,sisa hidup 3bln.Cek di Malaka,trnyata stadium awal & bs bertahan sampe 8 thn

saya pernah dirawat 2mingguan, dokter ini memvonis usus buntu pecah trs sm dokter itu divonis ginjalnya bocor. Tebak-tebakan!

jd inget alm.tante divonis jantung bocor di jkt,pas ke singapur,cuman KEGEMUKAN. Heuheu.

pernah “dikerjain” RS pas punya bayi br lahir disuruh masukin ke NICU 2 malm, semalem kena 7 juta…eng,…ing…enggg🙂

mayoritas RS/dokter d Indonesia tdk prnah m’anggap pasien itu sbg konsumen yg harus dilayani sebaik2ny. Hny sbg ATM

om can saya dulu juga sudah sekarat gak ditangan2in dokter ICU,yang nanganin saya cm perawat itu juga anak magang

di luar negeri, anak sakit demam cuma disuruh minum air putih yg banyak, jarang ngasih obat walaupun cuma paracetamol

prnh kejadian can, mestinya dikasih antibiotik, krn aptkr slh baca dikasih obat antidiabetes, hasilnya cacat otak permanen

Itulah sebagian kecil testimoni yang sempat saya copy dan saya sertakan disini. Lihat dan perhatikan rekan pembaca sekalian. Betapa komunikasi sangat berperan besar saat terjadinya beberapa kejadian di atas. Dalam pengalaman saya berpraktik (yang tentu saja masih seumur jagung), pasien akan lebih menghargai keterbukaan pemikiran dokter daripada menyamarkan dengan kata-kata awam tetapi menjadi jauh lebih mengerikan. Perhatikan kata-kata ginjal bocor, jantung bocor, cacat otak permanen. Bahkan saya yang dokter sendiri masih harus berpikir keras membayangkan bagaimana bentuk ginjal bocor dan jantung bocor. Bocor seperti apa? Dimana? Cacat otak? Cacat seperti apa?

Maka tips saya, jelaskan dengan baik dan akurat kepada pasien tanpa harus menggunakan istilah awam ribet yang akan terekam dalam memori dan menjadi salah paham. Sampaikan saja bila memang ada ulkus (dan tentu saja diterangkan apa itu ulkus), atau ada fistel. Bila memang harus menggunakan istilah awam, gunakan sebagai jembatan pemahaman agar pasien bisa membayangkan. Bukan sebagai diagnosis. Percayalah pasien tidak akan resisten dengan penjelasan kita, se-ilmiah apapun.

Penjelasan kita bisa dibantu dengan gambar. Menggambar sendiri di kertas, atau bagi yang punya Galaxy Note, gambar di gadget. Punya tablet, tunjukkan gambar di tablet. Tunjukkan secara akurat kondisi tubuh pasien. Jelaskan bagaimana itu bisa terjadi, bagaimana perencanaan terapi kita, mengapa diperlukan pemeriksaan tambahan. Ini untuk mencegah pasien merasa dikerjain atau diperlakukan seperti mesin ATM. Sampaikan pilihan-pilihan yang dimiliki pasien.

Itu saja? Belum. Satu hal yang sering kita lupakan adalah menyerahkan hasil pemeriksaan kita kepada Tuhan. Kita sering memvonis pasien. Lantas bagaimana? Sampaikan kepada pasien bahwa ini adalah hasil pemeriksaan kita. Persilakan pasien mencari second opinion ke dokter lain. Tunjukkan ke pasien bahwa kita bukanlah manusia serba tahu, dan bahkan kita juga bisa salah. Inilah garansi pasien terhadap kualitas kita. Sampaikan bahwa semua keputusan ada di tangan pasien dan keluarganya.

The bottom line is that the information we give our patients matters. If we give them better, more accurate information, I think you could argue that they would make better decisions. They are certainly happier with the care that they receive and the choices they have made